Seribu Lipatan, Satu Harapan: “Nothing Flies Alone” karya Studio Woork

Desainer: Studio Woork

Lingkup: Publication

Memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-81 pada Agustus lalu, Studio Woork mempersembahkan Nothing Flies Alone, sebuah proyek multidisipliner yang berangkat dari keyakinan sederhana bahwa harapan tidak pernah dibawa seorang diri. 

Berawal dari selembar kertas biasa, seribu burung merpati origami lahir melalui rangkaian lipatan yang dibuat dengan penuh ketelitian. Secara individu, mereka terlihat rapuh; namun, bersama-sama, mereka menjadi metafora kolektif tentang harapan. Setiap burung dilipat dengan tangan menggunakan teknik origami tradisional, sekaligus mengeksplorasi bentuk dan kemungkinan dari Studio Woork Sans, jenis huruf orisinal karya Studio Woork.

Dalam proyek ini, ada seribu burung merpati dari kertas yang masing-masing dibentuk melalui 81 doa untuk Indonesia. Apa yang bermula sebagai gestur personal perlahan bertransformasi menjadi gerakan bersama: sebuah ajakan untuk merenungkan kekuatan yang hadir dari harapan kolektif. Lewat proyek ini, kita diajarkan bahwa ada hal-hal yang terlalu kecil untuk diperhatikan ketika berdiri sendiri. Namun, bersama-sama, mereka menjadi sesuatu yang mustahil untuk diabaikan.

Nothing Flies Alone merupakan respons terhadap lanskap sosial dan emosional Indonesia hari ini. Di tengah ketidakpastian, perpecahan, serta beratnya menjalani masa-masa penuh tantangan, proyek ini merefleksikan nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, dan keyakinan bahwa bahkan tindakan kepedulian yang paling kecil sekalipun dapat membentuk masa depan yang lebih penuh harapan.

Eksplorasi ini melampaui medium kertas melalui serangkaian karya yang saling terhubung, termasuk sebuah publikasi yang menghimpun 81 doa, seri fotografi, instalasi seribu burung merpati origami, serta pertunjukan balet kontemporer. Setiap medium menerjemahkan gagasan yang sama melalui bahasa yang berbeda, namun tetap terhubung oleh sebuah kerinduan bersama: untuk terbang dengan bebas, bermimpi dengan bebas, dan membayangkan hari esok yang lebih baik.

Alih-alih menawarkan jawaban, proyek ini menciptakan ruang untuk berefleksi, mempertanyakan seperti apa bentuk harapan ketika kepastian menghilang, dan apa yang tersisa ketika masa depan terasa di luar jangkauan. Bahkan dalam keadaan tersebut, doa tetap ada.

Editor-in-Chief Grafis Masa Kini, Rege Indrastudianto, berpendapat bahwa Studio Woork selalu memiliki cara untuk mengambil sebuah ide atau narasi sederhana, lalu mengubahnya menjadi sesuatu yang taktil, imersif, dan dipikirkan secara mendalam.

“Dalam Nothing Flies Alone, kualitas tersebut terasa melalui materialitas kertas, bentuk-bentuk huruf yang dirancang khusus dan kemudian menjadi bagian dari bahasa visual, serta akumulasi berbagai elemen individual yang perlahan membentuk sesuatu yang terasa hampir monumental. Apa yang pada awalnya merupakan narasi sederhana tentang harapan secara bertahap berkembang menjadi sebuah pengalaman yang imersif ketika Io dan tim mengeksplorasi gagasan tersebut melalui tipografi, publikasi, instalasi, hingga performans,” kata Rege.

Kami juga merasa bahwa karya ini merupakan sebuah refleksi bagi kita semua, terutama bagi para desainer grafis. Proyek ini mengingatkan bahwa kegelisahan, frustrasi, atau kepedulian seorang desainer terhadap dunia di sekitarnya dapat menjadi alasan untuk berkarya; untuk merespons, mempertanyakan, bahkan mengkritik. Dan terkadang, sebuah pesan yang disampaikan melalui desain dapat meninggalkan kesan yang lebih mendalam dibandingkan dengan pernyataan yang disampaikan secara langsung.

“Mungkin, hal tersebut yang membuat proyek ini menarik. Karyanya tidak meminta kita untuk melihat, tapi memicu sesuatu dalam diri kita masing-masing, para desainer–dorongan untuk merespons, memulai sesuatu, dan, dalam arti yang paling positif, merasa sedikit iri karena seseorang telah lebih dulu mengubah kegelisahan mereka menjadi sesuatu yang nyata,” imbuh Rege.

Hands remain open

There is still much unfinished

Amid everything we face

We refuse to abandon hope

Melalui Nothing Flies Alone, Studio Woork mengajak kita semua untuk menyadari bahwa perubahan yang bermakna jarang lahir dari satu suara saja. Seperti kertas yang berubah melalui begitu banyak lipatan, mengumpulkan kekuatannya melalui banyak tangan, banyak doa, dan banyak orang yang bergerak bersama.

Team Credits: Creative Direction: Io Woo • Art Direction and Production: Naomie Kartika • Creative Writer: Surya Indra Gultom & Jose Kenjiro • Design: Carla Holy, Elvira Budiman, Eugenius Krisna, Farhan Elo, Io Woo, Jasmine Audrey, Jose Kenjiro, Keiko Siahaan, Maria Diva, Naomie Kartika, Naufalrel Pandu, Ruth Devines, Selina Kim, Shafa Maula, Surya Indra, Zaydan • Typeface Design: Eugenius Krisna • Installation: Jasmine Audrey • Motion Design: Naufalrel Pandu • Photograpy: Tempting Table • Director of Photography: Maria Diva • Set Manager: Farhan Elo & Jose Kenjiro • Video: Maria Diva & Naufalrel Pandu • Choreography: Keiko Siahaan

web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
web-28
web-29

A

Studio Woork always finds a way to take a simple idea or narrative and transform it into something tactile, immersive, and deeply thought-out.

About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.

Let your work shine!

Submit your best project here to be reviewed and published by us.

Submit

Similar Articles

Connect with us!

Subscribe to our newsletter for the latest updates, exclusive content, and creative insights—delivered straight to your inbox!