Yoon Je An dan Dunia yang Hidup di Dalam Gambar
Di tengah ramainya malam pembukaan Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) tahun ini, kami menemukan sebuah booth yang menampilkan karya seorang seniman visual yang terasa begitu familiar. Kami pertama kali mengenal praktik Yoon Je An melalui POPPIES, sebuah band fiktif yang ia ciptakan dengan bahasa visual khas yang menangkap pesona animasi era 1990-an hingga awal 2000-an. Penasaran untuk mengenal lebih jauh sosok di balik proyek tersebut, kami berkesempatan berbincang dengan Yoon Je An mengenai praktik kreatifnya, gagasan di balik karya-karyanya, serta cerita-cerita yang membentuk dunia visualnya.
Tumbuh besar di era 1990-an dan 2000-an, bahasa visual pada masa tersebut – ketika animasi tengah bertransisi dari cel ke digital – secara alami menjadi bagian dari selera personal Yoon Je An. Bagi Yoon Je An, animasi hari ini telah berkembang semakin canggih, baik secara teknis maupun visual. Namun, ia justru merasa tertarik pada kualitas animasi era 1990-an hingga awal 2000-an yang lebih sederhana sekaligus tetap terasa matang. “Saya merasa menarik bahwa sebuah gambar bisa terasa utuh tanpa menggunakan banyak bayangan atau efek pascaproduksi. Saya juga menyukai kualitas-kualitas kecil yang muncul secara tidak sengaja dari proses produksi analog, seperti bayangan samar yang tercipta karena jarak fisik antara latar belakang dan cel animasi saat proses pengambilan gambar.”
Dalam praktik kreatifnya sendiri, Yoon Je An tidak berusaha menciptakan kembali gaya dari era tersebut. Sebaliknya, gambar-gambar dan referensi visual yang ia konsumsi sejak kecil secara alami menemukan jalannya ke dalam cara ia menggambar hari ini.
Bukan hanya animasi era 1990-an hingga awal 2000-an, musik juga memiliki hubungan yang erat dengan praktik Yoon Je An, mulai dari band fiktif POPPIES hingga kolaborasinya dengan band-band Korea seperti Silica Gel. Bagi Yoon Je An, salah satu hal yang paling ia hargai dari menggambar adalah kemampuannya untuk memberikan rasa hidup kepada sebuah karakter. Dalam hal ini, ia melihat musik sebagai cara yang kuat untuk menghadirkan energi ke dalam sebuah gambar. “Saat sebuah karakter mulai memainkan musik, ia secara alami mendapatkan gerakan dan vitalitas. Bahkan dalam ilustrasi atau komik statis yang tidak benar-benar memutar musik, penonton bisa mulai membayangkan sendiri suara yang tidak terdengar tersebut.”
Sama halnya dengan musik yang dapat berkomunikasi secara langsung dengan audiens, Yoon Je An percaya bahwa gambar juga dapat menyisakan ruang tertentu untuk diisi oleh penontonnya sendiri. “Tidak semuanya harus dijelaskan. Musik membuat ruang imajinatif itu terasa semakin kaya bagi saya.”
Berbicara mengenai musik dan POPPIES, Yoon Je An bercerita bahwa proyek tersebut sebenarnya bermula dari sebuah sketsa yang sangat sederhana. “Saat itu, saya banyak mendengarkan band-band Jepang seperti LAMP dan JUDY AND MARY, dan musik mereka menginspirasi saya untuk membuat sebuah sampul album imajiner sebagai semacam hadiah untuk diri saya sendiri. Ada wajah seorang perempuan di tengah musim dingin dan nama ‘POPPIES’ yang saya ambil dari nama sebuah camilan yang kebetulan saya lihat di sebuah kafe. Semuanya berawal dari dua hal tersebut.”
Di luar dugaan, proyek tersebut mendapat perhatian yang lebih besar dari perkiraan Yoon Je An. Orang-orang mulai penasaran dengan nama POPPIES dan cerita di balik karakter tersebut. “Respons mereka juga memotivasi saya, jadi saya mulai menambahkan lebih banyak ide, latar, dan anggota satu per satu. Pada akhirnya, gambar tersebut berkembang menjadi band beranggotakan empat orang yang sekarang kita kenal sebagai POPPIES.”
Untuk karakter-karakter POPPIES, Yoon Je An memulainya dari Choi Won-young, vokalis sekaligus frontman band tersebut, yang terinspirasi oleh energi luar biasa YUKI, vokalis JUDY AND MARY, yang banyak ia dengarkan pada saat itu. Setelahnya, ia mengembangkan anggota-anggota lain satu per satu dengan memikirkan apa yang belum dimiliki Won-young dan bagaimana karakter baru dapat melengkapi kualitas tersebut.
“Misalnya, jika Won-young memiliki energi yang besar dan bersifat ekstrover, saya menciptakan karakter yang lebih tenang untuk menyeimbangkan energi tersebut. Jika ada karakter yang lebih kecil, saya mungkin menambahkan seseorang dengan siluet yang lebih besar dan berat untuk menyeimbangkan kelompok secara visual. Melalui proses ini, saya ingin setiap anggota memiliki kepribadian yang sangat berbeda, tetapi tetap terlihat harmonis ketika mereka berempat berdiri bersama sebagai sebuah band.”
Kepribadian dan penampilan mereka juga memiliki kaitan erat dengan instrumen serta peran masing-masing dalam grup. Yoon Je An menjelaskan bahwa karena ia membayangkan POPPIES sebagai band yang memainkan musik energik dan penuh semangat, ia memberikan Won-young, sang vokalis, kepribadian yang “hidup”. Sementara itu, seperti halnya bass yang sering menjadi jangkar bagi keseluruhan warna sebuah lagu, ia menjadikan Ji-won sebagai pemimpin; sosok yang tenang dan dapat diandalkan untuk menjaga kelompok tersebut tetap utuh.
Gagasan-gagasan tersebut kemudian secara alami diterapkan pula pada gaya berpakaian mereka. Won-young senang mengekspresikan diri dan menjadi pusat perhatian, yang tercermin melalui rambutnya yang berwarna ungu terang serta gaya streetwear yang berani. Sebaliknya, Ji-won mengenakan pakaian yang lebih bersih dan understated, sementara tubuhnya yang tinggi membantu membangun kesan sebagai sosok yang stabil dan sulit digoyahkan.
“Bagi saya, kepribadian, penampilan, musik, peran, dan fashion tidak pernah berdiri secara terpisah. Semuanya terus saling memengaruhi, dan ketika elemen-elemen tersebut semakin terbentuk, karakter tersebut perlahan terasa semakin seperti manusia yang utuh.”
Di luar POPPIES, proyek-proyek terbaru Yoon Je An juga menunjukkan eksplorasinya yang semakin dalam terhadap animasi. Seiring semakin jauhnya ia bekerja dengan gambar bergerak, ia menghadapi tantangan yang berbeda dalam menerjemahkan ide menjadi gerakan. Bagi Yoon Je An, perbedaan terbesar antara animasi dengan ilustrasi atau komik terletak pada bagaimana gerakan harus dipikirkan dari awal hingga akhir.
“Dalam sebuah ilustrasi, kamu bisa memilih satu momen tertentu yang akan memberikan dampak paling kuat kepada penonton. Namun, dalam animasi, gerakan itu sendiri yang menjadi dampaknya dan akan melekat dalam ingatan penonton. Dibandingkan dengan gambar statis, ruang untuk bersembunyi jauh lebih sedikit.”
Ia mengatakan bahwa bekerja sebagai animation director untuk Lost in Starlight terkadang terasa seperti belajar menggambar dari awal lagi. Lipatan pakaian, misalnya, menjadi contoh yang baik tentang bagaimana ia harus menggambar dengan cara yang berbeda. Dalam sebuah ilustrasi, ia cukup menggambar lipatan yang terlihat meyakinkan. Dalam animasi, ia harus memahami bagaimana lipatan tersebut muncul, menghilang, dan berubah seiring tubuh bergerak. “Mempelajari kembali dan mempertanyakan hal-hal fundamental tersebut membuat saya menyadari betapa banyak hal yang masih harus saya pelajari, tetapi prosesnya juga memperdalam pemahaman saya tentang bentuk dan struktur.”
Yoon Je An juga berbagi bahwa pengalaman tersebut telah mengubah caranya menonton animasi. Dulu, ia lebih banyak memperhatikan bagaimana karakter terlihat dan bagaimana desain mereka dibuat. Kini, ia justru jauh lebih memperhatikan bagaimana garis dan bentuk berubah untuk menyampaikan gerakan secara efektif.
Hari ini, nama dan karya Yoon Je An telah meninggalkan kesan yang kuat bagi banyak orang. Melihat kembali sosok dirinya ketika pertama kali mulai berkarya, Yoon Je An mengungkapkan bahwa gayanya telah mengalami banyak perubahan selama bertahun-tahun. “Sebenarnya, saya adalah orang yang cukup mudah terpengaruh oleh karya seniman dan sutradara lain. Mungkin karena saya masih terus membangun pengalaman dan pengetahuan saya, jadi saya sangat sensitif terhadap pengaruh baru dan bentuk-bentuk stimulasi baru.”
Pada satu waktu, ia bisa tertarik pada gambar yang detail dan realistis tetapi tetap terasa hidup, hingga membuatnya ingin menggambar dengan cara serupa. Di waktu lain, ia justru lebih tertarik pada garis-garis yang sederhana dan tertahan. Perubahan minat yang terus berlangsung ini secara alami turut menemukan jalannya ke dalam karya-karyanya.
Bahkan dalam POPPIES sendiri, terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara cara ia menggambar para karakter ketika pertama kali menciptakan mereka dan cara ia menggambarnya hari ini. Meski demikian, orang-orang tetap dapat mengenali mereka sebagai karakter yang sama. Yoon Je An percaya bahwa hal tersebut terjadi karena cerita mereka terus berkembang, bahkan ketika gaya visualnya berubah. “Gaya menggambar bisa terus berubah, tetapi waktu dan cerita yang terakumulasi dalam diri para karakter tetap ada. Dalam hal itu, saya pikir karakter-karakter POPPIES telah menjadi rekaman bukan hanya tentang bagaimana gambar saya berubah, tetapi juga tentang waktu yang saya habiskan untuk tumbuh sebagai seorang seniman.”
Ke depannya, masih banyak pengalaman yang ingin dieksplorasi Yoon Je An melalui karyanya. “Saya menyukai dunia-dunia fiksi dari berbagai genre. Saya terutama tertarik pada latar fiksi ilmiah dan pasca-apokaliptik – dunia yang sepenuhnya berbeda dari apa pun yang bisa kita alami dalam realitas saat ini. Jika suatu hari saya mendapat kesempatan, saya ingin menciptakan dunia seperti itu dari awal dan menceritakan kisah dengan skala yang jauh lebih besar di dalamnya.”
Namun, sebelum itu, masih ada banyak hal yang ingin ia capai bersama POPPIES. Terinspirasi oleh band virtual fenomenal Gorillaz, Yoon Je An berharap suatu hari POPPIES dapat berfungsi layaknya sebuah band sungguhan: merilis album, menggelar tur konser, dan menciptakan pengalaman yang membuat mereka semakin dekat dengan audiens.
“Saya berharap suatu hari karakter-karakter ini bisa benar-benar lepas dari tangan saya dan hadir sebagai seniman dengan eksistensi mereka sendiri. Akan sangat menyenangkan jika suatu hari saya bisa duduk di antara penonton dan melihat mereka tampil, hampir seperti orang tua yang menyaksikan anaknya yang telah tumbuh dewasa berhasil tampil di atas panggung,” ujarnya.
Untuk saat ini, karya-karya Yoon Je An dapat dilihat dan dikoleksi di Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026 di Agora Mall, Jakarta Pusat.