Mengapa Visual Ruang Liminal Seakan Memanggil Kita?
Parkiran kosong, pusat perbelanjaan dan taman bermain yang terbengkalai, lukisan David Hockney – akhir-akhir ini perbincangan soal ruang liminal menjadi topik yang hangat, terutama setelah film Backrooms karya Kane Parsons dikonfirmasi akan tayang di Indonesia bulan ini. Ada kekuatan visual tersendiri di ruang-ruang liminal yang seakan memanggil kita. Terdengar menyeramkan untuk visual yang begitu tenang, dan mungkin itulah mengapa film ini ditunggu-tunggu dan menduduki ranking atas untuk film A24 yang paling menguntungkan.
Kata liminal sendiri berasal dari bahasa Latin “limen” yang berarti ambang atau batas. Istilah ini merujuk pada kondisi transisi – sebuah ruang peralihan yang hadir dengan suasana yang terasa ganjil, asing, tapi di waktu yang bersamaan juga nostalgik. Ruang liminal ternyata tidak hanya ruang fisik, tetapi juga pengalaman emosional dan psikologis – maka tidak heran jika secara tidak sadar, kita merasa punya koneksi dengan ruang-ruang itu. Bayangkan terminal bandara pukul tiga pagi. Ruang tersebut memantik sensasi peralihan yang samar, menghantui, sulit dijelaskan.
Konsep ruang liminal ini populer melalui berbagai platform digital di internet, terutama di forum-forum Reddit dan Tumblr. Tren ini kemudian berkembang menjadi subkultur yang melahirkan bahasa visual ruang liminal.
Bahasa visual ruang liminal dibangun dari paradoks: ruang yang terasa akrab sekaligus asing. Secara visual, ruang-ruang ini umumnya menampilkan area transisi yang kosong dari kehadiran manusia. Ketiadaan aktivitas membuat fungsi ruang tersebut seolah tertunda, menciptakan perasaan bahwa sesuatu baru saja terjadi atau akan segera terjadi. Penggunaan pencahayaan artifisial, khususnya lampu fluoresen yang dingin dan datar, serta komposisi yang simetris, repetitif, dan minimnya titik fokus semakin memperkuat kesan ganjil yang sulit dijelaskan. Dalam banyak kasus, citra liminal juga memanfaatkan kualitas visual era 1990-an hingga awal 2000-an, seperti foto beresolusi rendah, warna yang memudar, atau artefak digital yang membangkitkan nostalgia.
Berbicara soal nostalgia, daya tarik ruang liminal tidak hanya terletak pada arsitekturnya, tetapi juga pada kemampuannya mengaktifkan ingatan kolektif. Banyak gambar liminal terasa familiar bukan karena kita pernah berada di tempat yang sama, melainkan karena elemen-elemennya mengingatkan pada pengalaman sehari-hari yang terlupakan: koridor sekolah saat liburan, area bermain anak yang kosong, atau ruang tunggu yang sepi. Perasaan inilah yang membuat estetika liminal sering dikaitkan dengan konsep uncanny: sesuatu yang dekat dengan pengalaman kita, tetapi hadir dalam bentuk yang terasa salah atau tidak semestinya.
Meskipun istilah ruang liminal baru populer melalui internet dan budaya pop masa kini, banyak seniman telah lama mengeksplorasi konsep visual serupa. Fotografi karya Stephen Shore merekam motel, jalan raya, dan lanskap pinggiran kota Amerika dengan kekosongan. Todd Hido menampilkan rumah-rumah suburban yang diterangi cahaya malam, menghadirkan suasana sepi yang melankolis dan penuh misteri, tapi di waktu yang bersamaan, sangat nostalgik. Sementara itu, ada Gregory Crewdson yang membangun adegan sinematik dengan menempatkan ruang dalam transisi kenyataan dan khayalan.
Karya-karya seniman David Hockney juga dapat dibaca melalui lensa liminalitas, terutama lukisan kolam renangnya seperti A Bigger Splash (1967). Dalam karya tersebut, percikan air menjadi satu-satunya penanda kehadiran manusia, sementara sosoknya sendiri tidak pernah terlihat – menciptakan ketiadaan. Banyak karya Hockney dari periode California menampilkan ruang yang tampak terang, terbuka, dan mengundang, tetapi sekaligus menyimpan rasa keterasingan.
Hari ini, Backrooms dapat dinilai sebagai bentuk paling akurat dari bahasa visual tersebut. Fenomena internet yang bermula dari sebuah unggahan creepypasta pada 2019, The Backrooms, berkembang pesat setelah kreator YouTube Kane Pixels merilis seri video animasi hiperrealistis yang mengeksplorasi dunia ruang liminaldengan detail visual yang meyakinkan. Dunia yang dibangunnya terdiri dari lorong-lorong kuning tak berujung, karpet kusam yang bernoda, serta pencahayaan minim dengan lampu fluoresen.
Hal yang membuat Backrooms begitu menarik adalah kemampuannya mengubah elemen-elemen visual yang biasa menjadi sumber teror psikologis. Tidak seperti citra liminal lain yang cenderung mengundang refleksi atau melankolia, Backrooms mengeksploitasi rasa takut akan terjebak, kehilangan orientasi, dan ketidakmampuan untuk menemukan jalan keluar. Ruang-ruangnya dipenuhi elemen yang sangat familiar; furnitur kantor lama, wallpaper usang, karpet komersial, dan pencahayaan neon, namun terus diulang tanpa akhir hingga kehilangan makna dan fungsi aslinya. Repetisi tersebut menciptakan versi realitas yang terasa dekat tetapi rusak.
Konsep labirin tanpa ujung juga menjadi salah satu alasan mengapa The Backrooms dianggap sebagai representasi sempurna dari visual liminalitas digital. Jika ruang liminal tradisional menggambarkan kondisi transisi yang sementara, seri justru membayangkan sebuah transisi yang tidak pernah selesai. Dalam konteks budaya internet kontemporer, fenomena ini memperlihatkan bagaimana estetika liminal telah berkembang dari sekadar dokumentasi ruang kosong menjadi narasi kolektif yang mengeksplorasi kecemasan modern tentang keterasingan, disorientasi, dan keretakan realitas itu sendiri.
Di sisi lain, penggunaan warna pada Backrooms juga berfungsi sebagai perangkat psikologis. Film ini didominasi oleh warna kuning kusam yang sengaja dipilih untuk membangkitkan rasa tidak nyaman. Berbeda dengan penggunaan warna kuning dalam desain yang umumnya diasosiasikan dengan optimisme, energi, atau kehangatan, kuning dalam film ini begitu pudar, kotor, dan seolah telah menua bersama ruang. Pilihan warna tersebut mengingatkan pada interior kantor, ruang tunggu, atau bangunan komersial era 1980-an yang menciptakan suasana yang terasa stagnan sekaligus menyesakkan.
Warna tidak lagi berfungsi sebagai elemen dekoratif, melainkan sebagai bagian dari narasi itu sendiri. Dinding-dinding kuning yang terus berulang menjadi semacam jebakan visual yang perlahan mengikis rasa nyaman, memperpanjang pengalaman disorientasi yang dialami para karakternya. Seperti halnya lorong yang tidak berujung, warna yang terus-menerus hadir tanpa perubahan menciptakan tekanan psikologis yang halus namun konstan.
Melihat bagaimana bahasa visual ruang liminal pada karya foto, lukisan, film, video, hingga konten digital, muncul kesadaran sendiri di benak saya bahwa ada kontradiksi dalam estetika ini yang menarik kita ke dalamnya – sebuah gambar dapat mempertemukan rasa nyaman dan asing di waktu yang bersamaan.
Pada akhirnya, ruang liminal memperlihatkan bahwa bahasa visual merupakan perangkat yang mampu membentuk pengalaman emosional. Melalui keputusan-keputusan kreatif yang tampak sederhana, sebuah gambar dapat membangkitkan nostalgia, kegelisahan, kesepian, bahkan ketakutan tanpa perlu menjelaskan apa pun secara eksplisit. Kekuatan tersebut menunjukkan bagaimana visual yang dirancang dengan cermat mampu bekerja langsung pada ingatan dan alam bawah sadar, mengubah lorong kosong, kamar masa kecil, atau sudut ruang yang biasa menjadi pengalaman psikologis yang terasa nyata.