Berkenalan dengan “Nona Kecil OOTD” Karya Nengiren

Inspirasi untuk berkarya bisa datang dari mana saja, tak terkecuali barang-barang yang ada di lingkungan tempat tinggal kita—perabot rumah, pakaian, hingga aksesori sehari-hari. Obyek sederhana ternyata mampu memantik kreativitas hingga melahirkan karya yang hangat dan dekat dengan keseharian. Hal tersebut dibuktikan oleh Irene Saputra, yang lebih dikenal dengan nama Nengiren, seorang seniman yang telah lama berkecimpung di dunia sulam tangan dan ilustrasi. Karyanya yang bertajuk “Nona Kecil OOTD” merupakan wujud catatan harian mengenai busana-busananya yang menyimpan berbagai cerita perjalanan dalam hidup. Kepada Grafis Masa Kini, Nengiren berbagi cerita di balik karya tersebut dan bagaimana ia menemukan kembali gairahnya untuk menyulam.

"Nona Kecil OOTD" pertama kali muncul pada tahun 2018 sebagai sebuah eksplorasi visual terhadap pakaian sehari-hari. Nengiren menggambarkan koleksi ini melalui karakter-karakter kecil yang dihasilkan dengan teknik sulam tangan di atas kanvas. Para nona kecil ini tidak hanya menampilkan busana untuk berbagai musim, tetapi juga menyajikan cerita personal yang emosional. Bagi Nengiren, setiap pakaian memiliki kisahnya sendiri, yang kini ia hadirkan kembali dalam karyanya. “Cerita yang tidak hanya sebatas koleksi di empat musim, namun cerita personal yang emosional antar keduanya,” tutur Nengiren. Setelah jeda empat tahun karena fokus menjadi seorang ibu, Nengiren merasa seperti menyambut kembali seorang teman lama saat ia melahirkan karya bertajuk “Nona Kecil OOTD, Koleksi Musim Menyapa Kembali” yang menandai awal baru dalam perjalanan seninya. Dalam prosesnya, Nengiren menggali ingatan-ingatan masa lalu yang tersimpan dalam pakaian yang lama tidak tersentuh. "Inspirasi ini hadir dari keseharian saya dalam beradaptasi dengan peran baru sebagai seorang ibu," ungkapnya. "Cerita busana yang sudah lama tersimpan rapi kini kembali menyapa benang, kanvas, jarum, dan sketsa-sketsa yang menunggu dihidupkan kembali."

“Nona Kecil OOTD” dibuat dengan teknik sulam tangan di atas kain kanvas berukuran 80 x 48 cm. Ukuran yang cukup besar ini menjadi tantangan tersendiri bagi Nengiren, terutama karena karya ini harus dikerjakan secara manual. "Tantangannya adalah ukuran karya yang besar, dikerjakan secara manual, dan dalam waktu pengerjaan yang terbatas, sambil berperan menjadi seorang ibu," ungkap sang seniman. Dengan melewati tantangan tersebut, Nengiren membuktikan bahwa ia mampu untuk menyeimbangkan perannya sebagai ibu dan seniman yang berdaya. Proses pembuatan “Nona Kecil OOTD” memakan waktu sekitar 2,5 bulan, dimulai dengan perencanaan, ide, sketsa, dan pemilihan padu padan warna sebelum eksekusi dimulai. Setiap nona kecil dalam koleksi ini membutuhkan waktu sekitar empat jam untuk diselesaikan. Nengiren mengerjakan karyanya di tengah-tengah kesibukan sehari-hari bersama anaknya, baik saat menemani tidur di siang atau malam hari, maupun di waktu-waktu me-time di akhir pekan.

Zoom

Secara makna, "Nona Kecil OOTD" merupakan sebuah cerminan dari perjalanan personal Nengiren. Karya ini merupakan upayanya untuk kembali merangkai koneksi dengan praktik seninya. "Ada kegembiraan dan kepuasan mendalam ketika bisa merasakan kembali ritme dan proses kreativitas yang sempat lama tidak saya sentuh," ungkapnya. Lewat karya ini, Nengiren ingin menyapa kembali berbagai aspek yang mungkin telah lama tertinggal dalam hidup. "Menyapa kembali koleksi busana lama yang tersimpan rapi di lemari karena pandemi. Menyapa busana keluar rumah yang penuh corak dan warna; cocok ngga cocok yang penting gaya. Menyapa kembali celana large sized dan berdamai dengannya karena kini terasa small sized. Menyapa kembali hangatnya outer, sweater, blazer; kini berada di ruang berpendingin pun bisa masuk angin," jelasnya. Lebih dari itu, karya ini juga berbicara tentang menyapa kembali diri sendiri—sebuah penghormatan terhadap kenangan-kenangan yang terukir dalam pakaian yang kita kenakan dan bagaimana mereka bisa menjadi simbol dari perjalanan hidup.

Sebagai seniman visual, Nengiren telah lama bermain dengan teknik sulam. Baginya, sulam sendiri merupakan perjalanan emosional yang berarti. Ketertarikan Nengiren pada sulam dimulai sejak ia masih duduk di bangku SD, ketika neneknya mengajarkan cara menyulam untuk tugas sekolah. "Perjumpaan saya dengan teknik sulam terjadi ketika saya duduk di bangku SD, lewat tugas sekolah membuat taplak dengan sulaman bunga. Kala itu Nenek saya yang mengajari dan mendampingi saya menyelesaikan tugas tersebut," kenangnya. Namun, kecintaannya pada sulam baru benar-benar tumbuh sekitar tahun 2014, ketika ia mulai mengeksplorasi dunia ilustrasi. Saat itu, ia menemukan sekotak benang-benang dan alat sulam milik ibunya, yang kebetulan menjalankan bisnis jahit. Rasa penasaran serta ingatan masa kecilnya muncul kembali, mendorongnya untuk mencoba menerapkan teknik sulam dalam karya ilustrasinya. "Ketika satu karya selesai, seperti ada dorongan untuk tidak berhenti, terobsesi untuk membuat karya sulam lagi dan lagi," kata Nengiren.

Bagi Nengiren, berkarya dengan kedua tangan memberikan pengalaman yang sentimentil sekaligus menenangkan. Menyulam menjadi kegiatan yang reflektif dan meditatif baginya. "Gerakan yang berulang, mendengarkan setiap tusukan jarum dan tarikan benang, memastikan kainnya tidak tegang dan benangnya tidak renggang," jelasnya. Proses ini sering kali menjadi momen Nengiren terhubung lebih dalam dengan diri sendiri dan praktik kekaryaannya.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.