Pentagram Mendefinisikan Ulang Pengalaman Museum Lewat Identitas Visual MoN Takanawa

Museum sering kali digambarkan sebagai tempat di mana karya kesenian dan kebudayaan dipajang di balik kaca tebal dan dikagumi dari jarak aman. Namun, apa jadinya jika kita menyingkirkan sekat-sekat kaku tersebut dan memperlakukan budaya bukan sebagai sejarah masa lalu, melainkan sebagai obrolan yang terus berjalan?

Menjadi jangkar budaya dari kawasan megah baru Takanawa Gateway City (yang berdiri di bekas depo kontainer Shinagawa, Tokyo), MoN adalah ruang yang dirancang untuk merayakan segala bentuk ekspresi: mulai dari dongeng tradisional rakugo dan pertunjukan balet klasik, hingga mahakarya manga Phoenix karya Tezuka dan musik elektronika kontemporer. Untuk mewujudkan visi yang mendobrak batas ini, pihak kurator menggandeng firma desain global ternama, Pentagram, guna merancang strategi branding, penamaan, identitas verbal, hingga sistem visualnya.

Hasilnya? Sebuah narasi branding yang sepenuhnya mengubah cara kita memandang sebuah institusi budaya.

Menamai sebuah ruang multi-genre yang melampaui definisi museum konvensional bukanlah perkara mudah. Apalagi jika harus langsung berfungsi dalam berbagai bahasa sekaligus. Solusi yang dihadirkan Pentagram terasa sangat elegan dengan menghadirkan MoN sebagai permainan kata (double entendre). Secara harfiah, MoN merupakan singkatan dari Museum of Narratives, menandakan sebuah tempat di mana budaya adalah kisah yang dibagikan dan terus berkembang.

zoom-1

Dalam bahasa Jepang, mon (門) sendiri berarti "gerbang". Ini adalah penghormatan visual terhadap lokasi fisiknya di Takanawa (yang secara historis dikenal sebagai gerbang menuju Jepang), sekaligus simbol perannya sebagai portal yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, serta komunitas lokal dengan dunia global.

Secara gagasan besar, alih-alih menyusun program budaya secara kronologis-linear, Pentagram membangun identitas MoN dengan konsep strategis bernama "dimensional time" (waktu dimensional). Di kehidupan sehari-hari, kita mungkin bergerak maju secara linear, namun ide, tradisi, dan budaya tidak bekerja seperti itu. Budaya bisa berputar kembali, diambil sampelnya, diinterpretasikan ulang secara masif, hingga menemukan makna yang sepenuhnya baru di era yang berbeda. Ketika museum konvensional mengarsipkan masa lalu sebagai sesuatu yang final, MoN memperlakukan lini masa sebagai dokumen hidup yang terus terbuka. Pengunjung tidak lagi menjadi pengamat pasif yang melihat sejarah yang sudah selesai; mereka adalah partisipan aktif dalam narasi yang sedang berjalan.

Konsep waktu yang berputar – tidak linear – ini mendikte seluruh identitas visual MoN. Logonya sendiri merupakan bentuk spiral geometris abstrak yang secara samar membentuk huruf M, O, dan N. Spiral juga mengambil peran untuk merepresentasikan pandangan program seratus tahun MoN. Spiral ini tidak statis, ia dianimasikan lewat mekanisme zoom yang dapat beradaptasi secara sempurna di berbagai skala, baik saat membingkai rencana program satu abad ke depan maupun poster acara musik malam ini. Menemani spiral tersebut, hadir elemen garis atau "bar" yang merepresentasikan untaian narasi sebelum ia melingkar. Dengan membiarkan garis-garis ini memotong ujung tata letak halaman tanpa batas kaku, sistem desain ini menciptakan kesan keberlanjutan yang disengaja. Semuanya terasa berada "di tengah-tengah cerita".

Dari segi tipografi, semua digarap secara bilingual dengan memberikan bobot visual yang setara antara bahasa Jepang dan Inggris; mulai dari teks judul berukuran masif hingga detail papan penunjuk jalan terkecil. Bahkan palet warnanya terasa sangat membumi, menggunakan tiga warna utama yang terinspirasi oleh siklus alam: matahari, tanah, dan air.

zoom-2

"Culture isn’t something you visit – it’s something we’re already living." Sentimen ini ditangkap dengan sangat apik dalam tema pembuka MoN: Life as Culture - 生きるは、ブンカだ. Alih-alih saling menerjemahkan secara harfiah, frasa bahasa Inggris dan Jepang ini bersanding sebagai ekspresi autentik dari satu kebenaran yang sama. 

Bagi kita yang terus mengamati bagaimana desain membentuk lanskap budaya modern, kehadiran rancangan MoN Takanawa oleh Pentagram menjadi sebuah pengingat penting akan kekuatan sejati dari sebuah desain. Pentagram tidak sekadar membuat logo untuk sebuah gedung baru di Tokyo; mereka telah menciptakan bahasa visual bersistem terbuka untuk kisah-kisah kolektif yang tidak akan pernah selesai ditulis.

web-33
web-32
web-31
web-30
web-29
web-28
web-27
web-26
web-25
web-24
web-23
web-22
web-21
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.