Perihal Desain untuk Perlawanan bersama Rahical

Rahical adalah desainer grafis Bangladesh/Rohingya yang berdomisili di New York. Di antara karya-karyanya yang mengesankan, desainer muda ini aktif merancang poster protes gratis dan kampanye media sosial untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penindasan masyarakat Palestina. Mulai dari kolaborasi dengan Free Palestine Printing hingga kampanye media sosial seperti Gaza Press Club, rancangan Rahical sangat menyentuh dan sangat relevan karena tuntutan global akan gencatan senjata tidak lagi terdengar.

“Keterlibatan saya dalam gerakan ini dimulai sekitar tahun terakhir saya di universitas saat saya belajar desain grafis,” Rahical memulai. Menguraikan bagaimana dia awalnya terlibat dengan gerakan Free Palestine, dia berujar, “Saya tidak ingat kapan tepatnya saya mengetahui tentang genosida terhadap orang-orang Palestina, tetapi saya mengetahuinya sedikit lebih lambat dibandingkan orang lain. Setelah saya kembali kepada Islam pada masa pandemi dan mulai mempelajari kembali agama, saya mengambil tanggung jawab saya yang lain untuk mengetahui apa yang terjadi di seluruh dunia kepada umat Islam atau komunitas Muslim. Saat itulah saya belajar dengan benar tentang Palestina dan langsung belajar dari orang-orang Palestina setelah mengenal lebih banyak keberagaman saat saya di universitas.”

Pada tahun 2021, ketika Mahkamah Agung Israel memutuskan mendukung pengusiran enam keluarga Palestina dari rumah mereka di lingkungan Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur, protes diadakan di seluruh dunia sebagai protes atas keputusan tersebut dan meningkatnya kekerasan dalam menegakkan keputusan tersebut. Salah satu protes serupa diadakan di Orlando, Florida. Pada saat itulah Rahical pertama kali mendesain poster gerakan bertajuk “Free Palestine Save Palestine”. “Saya merancang poster itu setelah saya lulus universitas karena saya ingat seminggu setelah saya lulus, seorang teman dekat saya yang tinggal di daerah Orlando/Lake Nona mengirimi saya informasi tentang protes di Orlando dan saya mendesain poster-poster itu, mencetaknya, dan kita semua mengikuti protes itu,” kenangnya.

Rahical melanjutkan untuk menguraikan pendekatan desainnya untuk poster tersebut. “Saat itu saya sedang bereksperimen dengan gaya saya dalam hal desain, saya ingin membuat poster yang melanggar aturan desain “tradisional” dengan menggunakan banyak tipografi, (lebih dari yang direkomendasikan) sambil menarik elemen yang dikenal dengan Palestina. (seperti peta karena saya ingat salah satu insiden terbesar adalah ketika Palestina dihapus dari peta, dan kemudian melihat foto-foto para jurnalis yang menunjukkan “penjara terbuka” di mana warga sipil tak bersalah berada di balik pagar kawat) Saya hanya ingin membuatnya super sibuk dan gila sehingga membuat seseorang mampir dan membaca apa yang dibicarakan,” jelas Rahical.

Zoom-1

Dua tahun kemudian, beberapa jam setelah tersiar kabar mengenai serangan 7 Oktober, dia memutuskan untuk mendesain ulang poster awal yang dia buat. “Pendekatan saya berbeda dalam hal gaya dalam hal desain… Saya ingat gaya saya dalam hal mendesain masih teracak-acak dan saya baru mulai mempelajari apa yang saya suka dan tidak suka dalam hal desain,” jelasnya. “Saya tahu saya menginginkannya menjadi poster gaya jalanan, poster yang banyak dilihat ditempel di daerah perkotaan sejak saya mengenal area dan gaya desain di New York setelah pindah ke sini hampir dua tahun lalu. Saya masih menginginkan tipografi yang gila-gilaan untuk tetap menjaga kesan yang dirasakan ketika seseorang melihatnya mereka harus berhenti, tetapi juga untuk mendekat dan membaca “gambaran besarnya”. Jadi saya membuat beberapa teks terlihat seperti “cetakan kecil” dengan memperkecilnya dibandingkan dengan teks funky tebal besar, sehingga orang harus berhenti dan membaca.”

Serangan tanggal 7 Oktober dengan cepat dikecam oleh media arus utama internasional, tapi tidak dapat disangkal bahwa serangan tersebut juga merupakan tindakan putus asa perlawanan Palestina terhadap pendudukan yang telah dan masih berlangsung selama 75 tahun. Hal ini juga mempengaruhi pendekatan desain Rahical. ”[Hal ini juga menciptakan] momentum bagi kemanusiaan [dan] bagi umat [muslim] juga. Jadi, saya [menggunakan] beberapa gambar yang diambil dari jurnalis hari itu dan memasukkan unsur buah zaitun yang memiliki arti penting bagi masakan dan budaya Palestina dan menatanya dalam format grunge untuk meneruskan esensi poster jalanan,” jelasnya.

Tidak berhenti pada poster protes yang diprakarsai secara inisiatif, Rahical juga berkolaborasi dengan Free Palestine Printing (FPP), sebuah inisiatif percetakan tradisional berbasis di Melbourne yang seluruh penghasilannya disumbangkan untuk pembebasan Palestina. Rahical merancang dua poster untuk kolaborasi tersebut; “Palestine Repeating” and “Lego Dove”. “Kolaborasi ini bermula di Instagram ketika seseorang yang mengikuti akun desain saya mengirimi saya Instagram Story FPP tentang perlunya poster untuk dicetak dari para desainer. Saya akhirnya mengirim pesan kepada mereka dan dalam beberapa jam setelah mereka menjawab pesan saya, dari langsung mengirimkan poster-poster ini, berkolaborasi dalam mendesain poster baru, ditambahkan ke tim desain untuk merancang konten baru, dan sampai pada posisi saya saat ini bersama mereka. Alhamdulillah.”

Dia menjelaskan bahwa dia ingin menciptakan sesuatu yang menonjol dan selaras dengan situasi yang sedang berlangsung di Palestina. “Jadi saya menciptakan moto baru ini dengan semua pekerjaan saya untuk Palestina; “steal for good” (karena segala sesuatu di Palestina telah dicuri dari orang Palestina) di mana saya akan mengambil inspirasi atau meniru tata letak, desain, dll. secara identik dan mendesain ulang untuk menjelaskan situasi yang sedang berlangsung atau sebagai solidaritas dengan Palestina. Untuk “Lego Dove” dan “Palestine Repeating” saya ingin mengambil dua karya desainer ternama (Alexander Khabbazi dan Eric Schwarz) yang sedang viral di media sosial dan mendaur ulang [desain tersebut] untuk mendukung Palestina untuk menunjukkan solidaritas.” Dia juga membuat poster yang membahas dan mendorong boikot sebagai aksi solidaritas terhadap pembebasan Palestina. Mengenai pendekatannya, Rahical menjelaskan, “”Get Zara Starbucked” adalah poster yang saya desain last minute karena saya menginginkan sesuatu yang berani dan lantang, jadi saya bermain-main dengan mengubah warna merah dan hijau karena keduanya saling bertabrakan, dan menggunakan huruf tebal besar. Teks tampilan berdesain keren dan funky dengan beberapa tekstur yang ditambahkan ke dalamnya.” Selain poster, Rahical juga mendesain serangkaian postingan media sosial untuk FPP; parodi tata letak Spotify Wrapped tahunan. Pada tahun 2023, playlist Spotify Wrapped dirilis pada tanggal 29 November; hari yang dianggap sebagai Hari Solidaritas Internasional untuk Rakyat Palestina.

Rahical juga terlibat dengan Gaza Press Club, sebuah inisiatif media sosial yang digagas oleh FPP. “GPC adalah “misi sampingan rahasia” saya,...beberapa anggota FPP bertanya apakah saya dapat membantu mereka dengan kampanye tambahan yang ingin mereka coba dan saya langsung setuju, dan ditarik untuk mengerjakan aspek desain sejak saat itu. Mereka menyukai gaya desain saya, peran saya menjadi desainer utama/direktur kreatif untuk membantu GPC seperti yang Anda lihat saat ini, dan merancang semua konten yang muncul di feed media sosial Anda. Moto/pola pikir saya untuk kampanye ini dalam hal desain dan identitas visual adalah saya ingin mendobrak keyakinan “tidak sesuai dengan estetika saya” dan menggabungkannya dengan moto “steal for good” yang selama ini saya terapikan,” jelasnya.

Bagian dari pendekatan desain untuk Gaza Press Club bertujuan untuk menyebarkan informasi kepada khalayak baru. “Saya ingin GPC mengirimkan pesan-pesan indah yang luar biasa dan kuat ini untuk mendukung dan membantu para jurnalis yang luar biasa ini namun secara visual terlihat estetis, seperti feed Instagram agensi desain. Di dunia yang kita tinggali sekarang semua orang di media sosial ingin semuanya estetis, dalam cara kami mengatur photo dump kami, mengedit foto kami dan bertanya kepada teman-teman kami, “apakah ini akan terlihat bagus di feed kami?”, cara kami mengedit video TikTok dan membeli, membagikan, memposting ulang karena Anda dipengaruhi oleh orang lain. Karena profesi dan karier saya berputar perancangan media sosial, saya ingin mendorong Palestina dan apa yang terjadi di Gaza ke dalam bagian media sosial [yang mementingkan] “estetika” untuk memberikan realitas bagi umat manusia, dan merancang berbagai hal dengan “mencur” grid tata letak, tipografi, dll. dari agen desain terkenal dan mendesain ulang untuk menyebarkan pesan kami. Saya ingin penonton, orang-orang yang melihat karya saya, mendapatkan kenyataan dan menyinggung mereka secara halus. Saya membuat desain dan visual yang populer dalam seni dan desain dengan mengikuti tren sehingga tidak ada yang bisa menggunakan alasan itu lagi [untuk tidak menyebarkan berita tentang Palestina].”

Rahical percaya bahwa para pelaku kreatif dan desainer yang bersimpati pada pembebasan Palestina harus terlibat, mengingat pentingnya seni dan desain dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan, “Saya seorang Muslim sebelum saya menjadi seorang desainer. Jadi, menurut keyakinan saya, membantu saudara-saudara saya yang menderita di dunia ini dengan kemampuan terbaik saya dan di bidang seni dan desain adalah kewajiban. Semua yang kita kenal saat ini dipengaruhi oleh seni & desain, entah itu fashion dalam ranah gaya, iklan terbaru, poster propaganda pemilu politik mendatang, hingga inspirasi santapan makan malam berikutnya karena menyukai arahan video TikTok seseorang tentang cara membuat spageti.”

Dengan semakin banyaknya pelaku kreatif yang terlibat, semakin banyak orang yang dapat terlibat dalam pembebasan Palestina. Dia menyatakan, “Gaya, desain, dan arah seni saya memiliki keterbatasan, tidak semua orang yang melihat karya saya menganggapnya estetis [itu menarik] mereka mungkin berpikir sesuatu yang lain atau gaya yang berbeda lebih menarik. Jadi desainer dan kreatif yang terkenal dengan gaya kerja tersebut harus berkreasi dan mendesain serta menyadarkan audiens mereka karena, bisa jadi poster Anda, kartu pos, stiker, ilustrasi, dll. yang akhirnya mempengaruhi seseorang untuk belajar, mengubah pola pikir, dan, yang paling penting, untuk lanjut menyebarkan kesadaran tentang genosida yang sedang berlangsung. Pekerjaan desain saya dengan Palestina dan situasi yang sedang berlangsung di Palestina menghasilkan lebih banyak pekerjaan untuk isu-isu serius lainnya yang sedang berlangsung di Kongo, Sudan, dengan Muslim Rohingya atau Uyghur, dll. dan saya masih terus belajar lebih banyak lagi.”

Rahical merasa bersyukur kepada mereka yang melakukan semua yang mereka bisa dalam solidaritas terhadap pembebasan Palestina. Ia juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada mereka yang telah membagikan karyanya. Ia menjelaskan, “Kepada siapa pun yang menyebarkan karya yang saya rancang, baik itu mem-posting ulang di Instagram Story, atau mencetak poster saya untuk demonstrasi, atau untuk digantung di dinding rumah Anda, saya sangat menghargainya dari lubuk hati saya yang paling dalam. Hal ini membuat saya sangat gembira sehingga saya dapat membantu bahkan dengan sesuatu seperti postingan Instagram, dan setiap kali saya melihatnya, hal itu mengingatkan saya dan mendorong saya untuk terus melakukan lebih banyak lagi.”

Ia juga mendesak mereka yang memperjuangkan pembebasan Palestina untuk tidak putus asa, terutama dengan Israel yang baru-baru ini diadili di Den Haag oleh Afrika Selatan atas tuduhan genosida dan Indonesia, bersama dengan beberapa anggota lainnya, bersiap untuk mengajukan tuntutan terpisah terhadap Israel mengenai pendudukan ilegal di wilayah Palestina. Dia menjelaskan, “Dengan apa yang baru-baru ini terjadi di Den Haag dan bukti melalui media sosial yang mereka tunjukkan, yang ingin saya katakan adalah jangan berhenti menyebarkan kesadaran, bahkan jika Anda memiliki 10 pengikut, yang diperlukan hanyalah satu share, posting, atau repost , untuk membuka mata seseorang terhadap realitas Palestina. Yang diperlukan hanyalah satu penjelasan di sebuah protes perjuangan Palestina, hanyalah satu ilustrasi kecil yang Anda posting sebagai bentuk solidaritas. Apapun itu, Anda tidak harus menjadi Muslim untuk berbagi kesadaran, Anda tidak harus menjadi orang Palestina, Anda hanya harus menjadi manusia. Kemanusiaan hanya dapat tumbuh ketika kita saling bertanggung jawab, mengajar, belajar, dan membantu satu sama lain dari dunia dengan budaya yang berbeda, dan latar belakang masyarakat yang saling terkait. Kemanusiaan tidak bisa tumbuh jika warga sipil tak berdosa dibantai. Qadr telah ditetapkan, namun hal tersebut tidak akan membawa dampak negatif kecuali kita sebagai manusia membiarkan kehendak bebas kita dalam memilih dan bertindak membiarkan hal itu terjadi tanpa adanya keimanan, kemanusiaan, dan moralitas. Ketulusan dan niat sangat bermanfaat.”

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
About the Author

Kireina Masri

Kireina Masri has had her nose stuck in a book since she could remember. Majoring in Illustration, she now writes, in both English and Indonesian, of all things visual—pouring her love of the arts into the written word. She aspires to be her neighborhood's quirky cat lady in her later years.