Proses di Balik Desain Jersey Timnas Indonesia 2024

Pada Senin (18/03) lalu, Erspo meluncurkan jersey resmi Timnas Indonesia 2024 untuk kandang dan tandang. Dalam proyek kolaborasi Erspo dan PSSI (Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia) ini, Makna Creative bertanggung jawab dalam merancang branding dan logo Erspo, serta menentukan konsep filosofi dan desain dari jersey resmi Timnas Indonesia 2024. Mulai dari desain pola, warna, hingga material, Makna Creative mengerjakannya bersama dengan Erspo yang memiliki pengalaman soal perancangan kebutuhan apparel olahraga. Kepada Grafis Masa Kini, Ernanda Putra, Creative Director Makna Creative, membongkar proses kreatif di balik perancangan Official Match Jersey Timnas Indonesia 2024 Home and Away.

Kolaborasi ini dimulai saat Muhammad Sadad, Founder Erigo, menghubungi Ernanda Putra pada Oktober 2023 terkait kebutuhan akan konsep nama dan branding untuk merek sport appareal yang baru Sadad bentuk. Pertemuan mereka ternyata membuka peluang kolaborasi baru untuk proyek jersey resmi Timnas Indonesia 2024. “Saya diminta untuk mengawasi seluruh proses kreatif dari awal Erspo tercetus dan kerjasama barunya bersama PSSI. Saya juga membawa tim Makna Creative untuk masuk dalam proyek ini,” cerita Ernanda yang kemudian mengenalkan timnya: Jordy Yohannes dan Alexander Averil sebagai Jersey and Jacquard Designers, Irvesha Diani sebagai Typographer dan Designer, dan Stephen Oei sebagai Project Manager.

Setelah diberikan tanggung jawab tersebut, Ernanda bersama tim MAKNA melakukan riset yang cukup panjang, mengingat ini adalah proyek skala nasional, bahkan internasional. Menurut keterangan Ernanda, dari keseluruhan waktu pengerjaan desain jersey Timnas Indonesia 2024, proses riset memakan waktu paling banyak. “Dengan kurun waktu kurang lebih satu bulan, kami harus menyelesaikan seluruh proses riset; FGD, ngobrol bersama pihak Timnas; mitra produksi, distribusi, tim Research and Development, dan mendengarkan sendiri opini pendukung sepak bola Indonesia,” jelas Ernanda. Produksi jersey resmi ini diketahui juga mengejar waktu pertandingan Indonesia melawan Vietnam pada 21 Maret 2024.

Dalam proses riset, ada banyak hal krusial yang wajib diperhatikan oleh para desainer. Di tahap perancangan konsep, Ernanda dan tim MAKNA harus memahami dan mematuhi pedoman, terutama regulasi dari FIFA yang cukup tegas terkait aturan seragam pemain di lapangan. Ditambah, regulasi yang mencangkup kombinasi warna baju home, away, third hingga goal keeper ini harus didaftarkan dari jauh hari. Di tahap awal inisiasi desain, banyak proses back and forth, kata Ernanda, karena harus mengikuti aturan FIFA. Ernanda kemudian menjelaskan contoh kasusnya, “Misalnya, nama dan nomor punggung pemain tidak boleh berwarna emas untuk menjaga kontras dan readability. Banyak ide yang akhirnya kami redam karena berbagai aturan, tetapi kami tetap mencoba untuk memaksimalkan desainnya.” Ia juga menekankan bahwa eksekusi proyek ini bersifat kolaboratif. Saran, kritik, dan persetujuan dari pihak-pihak yang terlibat harus diperhitungkan, termasuk dari Erick Tohir selaku Ketua Umum PSSI yang memberikan masukan cukup signifikan yang akhirnya diterapkan dalam implementasi desain jersey ini. “Selain itu, masukan  yang dari expertise product development tim Erspo menjadi peran penting dalam design development jersey Timnas ini. Tidak hanya melihat dari perspektif desain atau visual, namun desain jersey ini juga mempertimbangkan sisi teknis proses pengolahan kain hingga teknik jahit yang pada akhirnya memengaruhi kenyamanan pemain di lapangan,” imbuh Ernanda.

Zoom

Kesadaran akan pentingnya mempertimbangkan segala aspek desain jersey ini mendorong tim Product Development dan Marketing terbang ke Jepang dan Thailand untuk melakukan riset dan memastikan bahwa jersey Timnas Indonesia 2024 sesuai dengan kualitas jersey secara global. “Kami sadar bahwa jersey ini bukan hanya sekadar baju bola, namun akan menjadi legacy yang kami tinggalkan untuk Indonesia. Maka dari itu, hasilnya pun harus dapat dipertanggungjawabkan dari sisi  athletic atau performance dan juga secara fashion point of view.”

Setelah riset mendalam, filosofi “Gemuruh Kesetiaan” pun lahir sebagai landasan perancangan jersey Timnas Indonesia 2024 ini. “Idenya sederhana, kami ingin mengedepankan pesan kesetiaan suporter sebagai ‘pemain ke-12’. Kita semua (masyarakat Indonesia) ikut menjadi bagian penting dari perjalanan panjang kesuksesan Timnas Indonesia,” tutur Ernanda. Filosofi tersebut diterjemahkan dalam bentuk desain pola yang terinspirasi dari gemuruh suara suporter di stadion seperti Gelora Bung Karno (GBK) dan seluruh penjuru Tanah Air, baik yang mendukung Indonesia dari rumah maupun secara langsung di stadion dari Sabang sampai Marauke. “Resonansi suara yang memekakkan telinga tersebut kami sematkan dalam pola desain Jacquard jersey Timnas Indonesia dengan harapan suara dan semangat tersebut meresap di dada setiap pemain Timnas Indonesia yang berjuang di lapangan, seperti layaknya dukungan tulus dari seluruh penjuru negeri yang siap bertarung membela nama Indonesia,” jelas Ernanda lebih lanjut. Mengutip pernyataan Franco Fontana, fotografer asal Italia: “Like Michelangelo, I want to remove everything that unnecessary,” Ernanda ingin mengedepankan kesederhanaan visual, seperti desain-desain Makna Creative sebelumnya. “Bagaimana filosofi yang cukup panjang tidak mencederai jersey Merah Putih, desain tetap dibuat timeless dan sederhana dengan memperkuat detail eksekusi.”

Desain jersey Timnas Indonesia 2024 dikerjakan berdasarkan keputusan kolektif. Semua pihak, baik Makna Creative, Erspo, dan PSSI, terlibat hingga akhirnya desain disepakati oleh Erick Thohir selaku Ketua PSSI, serta pihak RI 1. Tim Makna Creative dan Erspo juga berkesempatan untuk melakukan fitting langsung ke pemain Timnas Indonesia dan mendengarkan masukan yang dibutuhkan untuk memperkuat desain jersey resmi ini, dari segi kenyamanan, kelenturan, jenis material, bobot, proses penjahitan emblem sampai tag. Menurut keterangan Ernanda, para pemain Timnas Indonesia memberikan respons yang positif. Masukan dari para pemain pun sangat berguna dan dapat dieksekusi oleh tim desain dan produksi. Dalam proses desain, pertimbangan yang detail diterapkan untuk segala aspek, salah satunya warna. “Emblem Garuda kami pilih secara detail dari warna campuran emas, merah, dan putih. Berkali-kali kami revisi untuk mendapatkan warna yang sesuai. Kami juga dengan sengaja tidak menggunakan warna hitam karena bukan warna Indonesia,” kata Ernanda.

Tak hanya warna, pemilihan font pun dipertimbangkan dengan matang. Ernanda menjelaskan, “Desain diimbangi dengan pemilihan font yang tegas dan struktural, terinspirasi dari bentuk atap Gelora Bung Karno yang didesain pada tahun 50-an.” Angka yang terdapat pada jersey pun terinspirasi dari “jambul” Garuda Indonesia. “Demi menyeimbangkan desain jersey yang sederhana, untuk nameset nama pemain, kami memilih font Makna Sans yang dirasa tepat secara komposisi yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa agar selaras dengan angka,” kata Ernanda. Dengan keputusan-keputusan tersebut, maka, ada banyak pesan seputar sepak bola Indonesia, landasan negara, dan filosofi Tanah Air yang disematkan secara halus dalam desain jersey. 

Bagi Ernanda dan tim Makna Creative, mendesain jersey resmi Timnas Indonesia 2024 merupakan tantangan yang sangat besar. “Dari awal kami tahu ekspektasi akan sangat tinggi karena ini bisa dibilang mewakili suara suporter setia Timnas,” kata Ernanda. Walau begitu, baik Makna Creative maupun Erspo tetap berpegang teguh pada gagasan yang dikerjakan berdasarkan riset dan kolaborasi dengan beberapa pihak yang terlibat. “Kami tetap mengutamakan kesederhanaan dalam eksekusi akhir yang semoga bisa diterima Indonesia,” kata Ernanda. Tim di balik desain jersey Timnas Indonesia 2024 ini juga berharap jersey ini tidak hanya dapat dinikmati oleh penggemar bola, tapi juga dapat dilihat sebagai produk fashion yang universal dan bisa dipakai oleh siapapun. “Jadi, kami juga ingin mengajak ‘mewajarkan’ jersey Timnas sebagai sebuah gaya hidup berpakaian,” tutup Ernanda.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-5
Slide-6
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with seven years of diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.

Let your work shine!

Your work takes center stage! Submit your final assignment here to be assessed by experts of the field.

Submit

Recomended Reading

Cover

Popomangun Discusses the Meaning of Home in the
ARTLOKA proudly presents Popomangun's solo exhibition, titled House of Home, which explores the personal meaning of home. In the curatorial text, Popomangun writes that home is a safe space for its inhabitants and a place where they are fully shaped as individuals. Speaking to Grafis Masa Kini, Popomangun revealed that this solo exhibition stems from his unease regarding his relationship with family, which shaped his perception of the meaning of home itself. Transitioning from living with parents to becoming a parent himself prompted Popomangun to create visual works centered around the concept of home. "Being a parent has no school or curriculum; thus, all behaviors and adaptations in the form of communication, anxieties, and warmth are actually recorded in the feelings and thoughts that we call home," expressed Popomangun.
The patterns and colors in Popomangun's works in the House of Home exhibition depict his memories of home. In terms of form, the houses in his works are drawn from various memories, including his relationships with his parents, in-laws, wife, and children. "All of these are illustrated in depictions of houses in various forms," explained Popomangun. The selection of warm and cool colors within the same frame reminds us of the emotional dynamics within a home. Memories in the corners of the house are translated by Popomangun into symbols and silhouettes unified within a single visual narrative. The curatorial text states that for Popomangun, aside from being representations of memories, these forms and patterns serve as both figures and landscapes depicting how he survives by building a "home" amidst the chaos of life.
Exhibition

11 days ago
Load More Article

Get ahead of the game with GMK+

Keep your finger on the pulse of the art and design world through newsletters and exclusive content sent straight to your inbox.