Anatomi Kegelapan: Menelusuri Akar Lynchian dari Seni Rupa

Suatu sore di tahun 1967, di dalam studio reyot Pennsylvania Academy of Fine Arts (PAFA) Philadelphia, seorang pemuda 21 tahun sedang berdiri menatap kanvasnya yang gelap. Gambar di atas kanvas itu memperlihatkan sesosok figur hijau yang tumbuh dari kegelapan hitam pekat. Tiba-tiba, sebuah sensasi intuitif menghantamnya. Ia melihat angin bergerak di atas permukaan cat yang basah dan mendengar bisikan deru mesin.Pemuda itu adalah David Lynch. 

Pengalaman magis di studio PAFA tersebut melahirkan sebuah keputusasaan yang indah: cat minyak biasa tidak lagi cukup untuk menampung imajinasinya. “Saya selalu ingin membuat film, tapi bukan film dalam pengertian biasa, lebih seperti lukisan yang difilmkan. Saya ingin suasana dari lukisan itu diperluas lewat film, semacam lukisan yang bergerak. Suasana itulah yang sebenarnya saya kejar. Saya ingin ada suara yang menyertainya, sesuatu yang aneh sekaligus indah, seperti jika Mona Lisa membuka mulutnya dan menoleh, lalu ada angin berembus, kemudian ia menoleh kembali dan tersenyum. Itu akan terasa aneh,” kenang Lynch dalam sebuah wawancara dalam press kit Blue Velvet. Momen itulah yang menjadi transisi organis di mana seorang perupa menemukan bahwa film tidak lain adalah kanvas bergerak yang dilengkapi dimensi waktu dan elemen auditif.

Meskipun dunia mengenalnya lewat mahakarya sinematik seperti Eraserhead, Blue Velvet, hingga Mulholland Drive, Lynch sebenarnya tidak pernah melepaskan kuas dan kanvasnya. Seni lukis dan instalasi multimedia adalah laboratorium tempat seluruh bahasa visual film-filmnya dibentuk dan diuji.

Eksperimen pertama Lynch untuk menghidupkan kanvasnya mewujud dalam karya instalasi multimedia berjudul Six Men Getting Sick (Six Times) yang dibuat tahun 1967. Dibuat menggunakan kamera 16 mm bekas dan anggaran minim, karya ini bukanlah "film" dalam pengertian konvensional, melainkan sebuah instalasi seni lukis bergerak. Lynch membuat cetakan gipsum tiga dimensi dari wajahnya sendiri dan menempelkannya di atas kanvas berukuran besar. Ke atas kanvas skulptural ini, diproyeksikan animasi loop berdurasi satu menit yang memperlihatkan enam figur abstrak.

Enam organ tubuh figur tersebut perlahan membesar, terisi oleh cairan berwarna terang, terbakar oleh api, hingga akhirnya muntah secara bersamaan. Seluruh visual mengerikan ini diiringi oleh raungan sirene polisi yang diputar berulang-ulang tanpa henti.

Lynch mendeskripsikan karya ini secara sederhana: "57 detik pertumbuhan dan api, lalu 3 detik muntah." Di balik kesederhanaan itu, Six Men Getting Sick memuat cetak biru dari seluruh estetika Lynchian: obsesi terhadap dekomposisi tubuh manusia, mekanika internal yang bocor, keputusasaan organik, dan suara dengung ambien yang mengganggu kedamaian pikiran.

Di luar instalasi videonya, karya-karya lukis Lynch berdiri di atas fondasi Art Brut (seni mentah) dan Ekspresionisme Abstrak. Lynch enggan membatasi dirinya pada pigmen cat biasa. Ia memperlakukan kanvas seperti situs penggalian arkeologis. Dalam karya Bob Loves Sally Until She Is Blue In The Face (2000), Lynch menempelkan getah kertas, plester, minyak, dan benda-benda temuan ke atas kanvas. Sosok "Bob" dan "Sally" digambarkan bukan sebagai manusia utuh, melainkan sebagai figur kasar seperti gambar anak-anak yang mengalami dekonstruksi fisik.

Penggunaan kalimat yang ditulis dengan gaya tulisan tangan kasar di atas kanvas menyimbolkan ketidakmampuan bahasa konvensional dalam menampung trauma. Warna biru dan hitam yang dominan mengekspresikan mati rasa emosional dan kekerasan domestik yang tersembunyi—tema yang secara langsung berkelindan dalam serial Twin Peaks.

zoom-bob-loves-sally

Ketika mengamati lukisan Lynch dan membandingkannya dengan film-filmnya, terlihat jelas kecenderungannya untuk mengganti sapuan kuas dengan kamera. Lynch membawa tekstur kasar kanvasnya ke dalam film. Ruangan-ruangan dalam Eraserhead atau Inland Empire terasa berdebu, lembap, berkerak, dan penuh pipa berkarat.Dalam lukisannya, bagian latar belakang sering kali menyisakan kegelapan total. Lynch membawa filosofi ini ke dalam sinematografi. Lorong gelap di Lost Highway atau sudut kamar di dalam Mulholland Drive diisi oleh kegelapan pekat di mana penonton tidak tahu apa yang sedang bersembunyi di dalamnya.

Raungan sirene dalam Six Men Getting Sick bertransformasi menjadi dengungan listrik konstan yang mengiringi hampir setiap adegan penting dalam Twin Peaks. Suara menjadi semacam lapisan warna cat paling tebal di dalam bingkai layar. Dalam sebuah buku berjudul “Lynch on Lynch” yang disusun oleh Chris Rodley, Lynch membeberkan pandangan pribadinya soal kecintaaanya pada luka dan ketidaksempurnaan:

"Saya membenci hal-hal yang terlalu mulus dan cantik. Saya lebih menyukai kesalahan dan kecelakaan. Itulah sebabnya saya menyukai hal-hal seperti luka sayat dan memar—mereka itu seperti bunga-bunga kecil... Jika satu orang melihat ke dalam pohon ceri yang indah, ia selalu menemukan jutaan semut merah yang sedang memangsa di bawah permukaannya."

Di samping itu, Lynch menolak keras tradisi intelektualisasi yang berusaha mengutak-atik atau menerjemahkan lukisan dan filmnya ke dalam kata-kata. Menurutnya, mengurangi seni menjadi sekadar pesan moral atau eksplanasi logis adalah sebuah pelanggaran terhadap hakikat seni itu sendiri.

"Yang saya coba lakukan dengan setiap gambar atau lukisan adalah menciptakan situasi di mana tinta atau cat bisa menjadi dirinya sendiri, yang berarti melepaskan segala bentuk rasionalisasi. Penting untuk membiarkan ide-ide berkembang tanpa terlalu banyak dihakimi atau dicampuri. Keindahan anak-anak terletak pada kemampuan mereka memandang dunia secara terbuka, tanpa terikat oleh logika. Akal bisa menahan begitu banyak hal yang menakjubkan dan luar biasa. Tanpa logika atau alasan, selalu ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tak terlihat. Dunia ini tak terbatas, bukan terbatas."

web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
web-28
web-29
web-30
web-31
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.