Ketika Warisan Musik Guruh Gipsy Bertemu dengan Karya Visual
Jakarta Illustration & Creative Arts Fair (JICAF) 2026 pada awal Oktober lalu menghadirkan Special Drop Tribute: Guruh Gipsy, sebuah momen spesial bagi para pecinta musik. Pengunjung JICAF berkesempatan membeli langsung berbagai produk kolaborasi yang mengangkat kembali warisan kreatif Guruh Gipsy, sekaligus mendapatkan tanda tangan dari dua personel legendarisnya, Keenan Nasution dan Abadi Soesman.
Berkolaborasi dengan Lamunai Records dan sejumlah seniman visual, Special Drop Tribute: Guruh Gipsy menerjemahkan perjalanan musik Guruh Gipsy ke dalam berbagai medium, mulai dari perhiasan, apparel, art print, hingga 50th Anniversary Deluxe Edition CD. Salah satu produk yang dihadirkan adalah Guruh Gipsy x Cahya Pesisir Batik Scarf yang mempertemukan warisan musikal dengan medium fashion dan craft.
Dirilis pada 1977, Guruh Gipsy merupakan karya penting dalam perjalanan musik Indonesia yang mempertemukan musik modern dengan kekayaan musik tradisional Indonesia, khususnya Bali. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya JICAF 2026 untuk mengenang warisan kreatif alm. Guruh Soekarnoputra bersama para personel Guruh Gipsy sekaligus memperkenalkannya kepada generasi baru melalui pendekatan visual dan produk yang dapat dikoleksi.
Bagi Keenan Nasution, apresiasi dari para ilustrator terhadap karya Guruh Gipsy menjadi pengalaman yang membanggakan. “Mendapat apresiasi dari para ilustrator tentu membuat saya bangga. Ternyata, lagu-lagu yang dulu dianggap ‘bandel’ bisa menjadi sesuatu yang menginspirasi dan diwujudkan menjadi sebuah karya.”
Keenan juga berharap kolaborasi ini dapat membuka ruang bagi eksplorasi kreatif yang berangkat dari identitas Indonesia. “Harapan saya, melalui kolaborasi ini, kita bisa menghasilkan sesuatu yang tidak selalu berkiblat ke Barat. Indonesia punya begitu banyak hal yang bisa diangkat menjadi karya. Menurut saya, tidak ada karya yang sepenuhnya orisinal karena kita pasti pernah melihat sesuatu yang kemudian menginspirasi. Namun, terinspirasi bukan berarti meniru. Kita bisa mengolahnya dengan gaya sendiri, sehingga karya yang dihasilkan tetap memiliki identitas kita.”
Abadi Soesman juga mengungkapkan kebanggaannya karena karya yang telah dihasilkan bersama Guruh Gipsy masih mendapat apresiasi. “Saya merasa bangga karena karya kami masih dihargai hingga saat ini. Apalagi, bisa melihat generasi muda mengapresiasi karya-karya dari zaman kami, ketika banyak rekan seangkatan yang sudah tidak ada.”
Kehadiran Keenan Nasution dan Abadi Soesman dalam momen Special Drop ini memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk bertemu langsung dengan dua musisi yang menjadi bagian dari perjalanan Guruh Gipsy, sekaligus membawa pulang produk kolaborasi yang memiliki nilai historis dan artistik.
Melalui Special Drop Tribute: Guruh Gipsy, JICAF 2026 memperlihatkan bagaimana musik dapat terus hidup dan menemukan interpretasi baru.