PURU PURU PUNK: Hari Terpanjang di Jakarta Versi Kosuke Hashijima
Lukisan-lukisan dari semesta fiksi ilmiah Puru Puru Punk dipajang di ruang galeri yang terletak di tengah kawasan perkantoran dan dekat dengan stasiun MRT serta halte TransJakarta. Pameran tunggal bertajuk "Puru Puru Punk: Jakarta Arc" ini berlangsung di LQID Creative Space, Sudirman 7.8, dari 10 Oktober hingga 6 November 2026. Karya-karyanya bercerita tentang sepasang kembar bernama Selatan dan Utara, yang bersama tokoh-tokoh lokal berpacu melintasi Jakarta dalam satu hari yang terasa sangat panjang. Pameran ini dihadirkan Hangover Plate Inc. dan sekaligus memperingati ulang tahun pertama LQID Indonesia, perusahaan di balik merek cat STOKE PAINT.
Di balik pameran ini ada Kosuke Hashijima, direktur kreatif, penulis, dan seniman asal Jepang. Ia menempuh pendidikan desain di Belanda dan Singapura, bekerja di kantor pusat Adidas di Jerman, lalu menjadi direktur kreatif di Ogilvy, Interbrand, dan Monks. Logo Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA), Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA), liga basket B.LEAGUE, dan National Museum of Singapore termasuk dalam karya brandingnya. Setelah itu ia memilih berkarya secara independen.
Titik baliknya terjadi pada 2020. Di tengah pandemi, Hashijima menulis novel fiksi ilmiah Puru Puru Punk, dan proyek ini menjadi awal kariernya sebagai seniman. Ia menjelaskan hubungan antara pekerjaan lamanya dan proyek ini dengan lugas. "Branding adalah praktek menciptakan sebuah dunia. Selama bertahun-tahun, saya menggunakan kemampuan itu untuk klien-klien saya. Lalu, di tengah pandemi, saya memulai proyek ini, yang lahir dari novel fiksi ilmiah saya sendiri, dan mencurahkan seluruh kemampuan itu sepenuhnya untuk diri saya sendiri."
Ia tidak menyembunyikan sikapnya terhadap proyek ini. "Ini adalah proyek di mana saya membiarkan imajinasi melaju sekencang-kencangnya, tidak peduli terlihat tidak keren, dan menghadapi diri saya sendiri secara langsung," katanya. Novel itu sendiri berlatar Kamakura dan Fukui pada musim panas 2036, dengan panjang sekitar 300.000 karakter. Ceritanya mengikuti seorang anak laki-laki dan perempuan yang bertemu lewat sebuah pertemuan kuantum. Naskah ini lolos babak pertama Hayakawa SF Contest ke-14, ketika hanya 46 dari 1.012 naskah yang terpilih. Dunia ceritanya kemudian berkembang ke lukisan, penerbitan, dan apparel.
Jakarta Arc membawa semesta itu ke linimasa alternatif. Di dunia Puru Puru Punk ada sebuah "Cincin" yang melingkari Bumi, dan Cincin yang terlihat dari Jepang tampak sangat berbeda dari yang terlihat di garis khatulistiwa. Inti serinya adalah mengubah gagasan mekanika kuantum bahwa sesuatu menjadi nyata karena diamati, menjadi bentuk penerimaan diri. Hashijima ingin melihat bagaimana proses itu bekerja dalam budaya yang berbeda dari Jepang.
Ada pula alasan yang lebih pribadi. Ia pertama kali ke luar negeri di usia 26 tahun, ke Singapura, dan sejak itu menghabiskan lebih dari lima tahun di Asia Tenggara. "Kemampuan bukanlah bakat, melainkan akumulasi pengalaman," ujarnya. Menurutnya, "Jakarta Arc adalah cara saya melepaskan, tanpa ragu, kenangan-kenangan dari tahun-tahun itu yang mulai memudar dalam diri saya." Si kembar yang hidup di dunia pengamatan dihadirkan di kota ini dan diamati oleh warga Jakarta. Lewat cara itu, Hashijima memaknai terik matahari khatulistiwa, hiruk-pikuk pusat jajanan, dan udara kota yang ia alami selama tahun-tahun tersebut.
Kisah ini juga hadir sebagai buku dwibahasa Jepang dan Indonesia yang diterbitkan Binatang Press. Hashijima menyebut Jakarta Arc sebagai "sebuah kisah tentang Jakarta yang 'diamati' lewat dua bahasa, Jepang dan Indonesia." Ia menambahkan bahwa ini juga eksperimen untuk menghubungkan kedua negara secara dua arah melalui imajinasinya.
Binatang Press memilih pendekatan analog untuk edisi ini. Buku dicetak dengan teknik Riso agar terasa lebih raw dan lebih dekat dengan Jakarta. Sampulnya memakai tinta fluorescent pink dan kuning yang ditumpuk hingga menghasilkan oranye mencolok, warna yang dinilai dekat dengan Jakarta, dari transportasi dan fasilitas umum hingga klub bolanya. Tinta seafoam green menyeimbangkan palet tersebut dan menggaungkan "dinding viridian" yang terus muncul sepanjang cerita.
Selama pameran, Hashijima akan membuat karya kolaborasi langsung di lokasi bersama Rool Rama (@roolrama), seniman muda Indonesia. Pengunjung juga bisa memesan novel dwibahasa dan T-shirt pameran yang diproduksi 347 Homebreaks secara pre-order di tempat, dengan bonus spesial bagi pemesan. LQID sendiri sebagai penyelenggara percaya bahwa seni seharusnya mudah dijangkau siapa saja. Mereka melihat Jakarta membutuhkan ruang yang mempertemukan seniman lokal dengan seniman internasional.