MATA Studio dan Eksperimentasi “Off Grid” untuk ADGI Design Week 2026

Setiap tahun, ADGI Design Week menjadi ruang bagi komunitas desain untuk bertemu, belajar, berkolaborasi, sekaligus merayakan praktik desain grafis bersama. Memasuki penyelenggaraan 2026, tema “Off Grid” menjadi titik berangkat untuk melihat kembali bagaimana desain grafis terus bergerak melampaui batas-batas disiplin, medium, dan sistem yang selama ini membentuknya. Tema tersebut kemudian diterjemahkan dalam bentuk identitas visual yang dirancang oleh MATA Studio yang berbasis di Jakarta.

Bagi Agra Satria, Creative Director MATA Studio, tema “Off Grid” terasa relevan dengan perubahan yang terjadi dalam desain grafis, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya desain grafis kerap dipahami melalui medium dua dimensi, perkembangannya kini semakin fluid dan beririsan dengan berbagai bidang lain; mulai dari arsitektur, fashion, interior, film, teknologi, musik, hingga seni rupa. “Graphic design itu nggak pernah linier,” ujar Agra. Baginya, “Off Grid” dapat dibaca sebagai sebuah keberanian untuk menantang konvensi, memikirkan kembali sistem yang sudah mapan, serta membuka berbagai kemungkinan. 

Bersama Andrea Reza dan Dio Augtalio, Agra Satria mencoba membangun sebuah sistem yang tidak sepenuhnya terikat oleh keteraturan, tetapi tetap memiliki identitas yang kuat. Jika identitas dua penyelenggaraan sebelumnya terasa lebih intact, structured, dan tech-oriented, tahun ini mereka justru mencari sesuatu yang lebih tactile, organic, experimental, dan imperfect. 

Salah satu penerjemahan paling langsung dari tema “Off Grid” dapat ditemukan pada logotype. Alih-alih membuat logo dengan komposisi yang tetap dan terstruktur, tim mencoba membayangkan sebuah identitas yang dapat terus berubah. “Kita mau challenge the convention yang biasanya bikin logo itu structured banget,” kata Agra. Komposisi logotype dirancang untuk memiliki kemungkinan konfigurasi yang berbeda, sejalan dengan gagasan tentang sebuah sistem yang terus berevolusi dan meluas.

Dari sisi warna, identitas ADGI Design Week 2026 tetap berangkat dari fondasi merah, putih, dan hitam. Namun, sistem tersebut kemudian diperluas dengan kehadiran satu warna tambahan yaitu electric pink. Penambahan warna ini menjadi cara untuk menghadirkan sisi vibran sekaligus sisi yang lebih ekspresif. Jika tema “Off Grid” berbicara mengenai keberanian untuk keluar dari struktur yang sudah ada, warna tersebut turut memperkuat karakter identitas yang lebih eksperimental dan responsif terhadap ekspresi visual generasi saat ini. Penggunaan warna juga mempertimbangkan konteks ruang tempat ADGI Design Week 2026 akan berlangsung. “Karena interior ASHTA District 8 cenderung lebih monokromatik dan gelap, warna pink menjadi kontras dalam implementasi visual,” jelas Agra lebih lanjut.

Menemukan desain grafis di keseharian

Logotype dan key visual ADGI Design Week 2026 juga membawa konsep ke wilayah yang lebih taktil. Tim mengambil pendekatan melalui found objects, benda-benda yang sebenarnya telah hadir di sekitar proses kreatif sehari-hari, tetapi sering kali luput dari perhatian. Stapler, penggaris, gunting, material jahit, jarum pentul, bagian dari furnitur, hingga berbagai objek grafis yang ditemukan di lingkungan sekitar menjadi titik awal eksperimen. Benda-benda tersebut dikumpulkan berdasarkan pengalaman dan pengamatan masing-masing anggota tim, kemudian disusun dan difoto kembali hingga membentuk huruf. Dio menjelaskan bahwa beberapa objek memang sudah memiliki siluet yang menyerupai bentuk huruf tertentu. Sementara lainnya perlu disusun, ditumpuk, atau dikombinasikan agar menghasilkan karakter alfabet yang diinginkan.

Pendekatan berbasis found objects tersebut juga berangkat dari keinginan untuk kembali memberi ruang pada sesuatu yang dibuat oleh tangan. Bagi Agra, proses manual menawarkan cara untuk merepresentasikan situasi desain saat ini yang semakin kolaboratif. “Even though output-nya tetap digital, tapi secara proses tuh melibatkan proses tangan,” ujarnya.

Prinsip tersebut kemudian diterapkan secara partisipatif. Setiap anggota tim mendapat kesempatan untuk terlibat dalam pembuatan huruf, bahkan Agra turut mengajak anaknya untuk membuat beberapa karakter. Dengan cara ini, proses perancangan menjadi ruang untuk melibatkan lebih banyak orang dalam penciptaannya.

zoom-2

Pendekatan partisipatif tersebut terasa penting karena desain grafis, menurut Agra, tidak berhenti pada persoalan estetika. Sebagaimana namanya, desain memiliki fungsi komunikasi dan digunakan oleh banyak orang. Maka, melibatkan lebih banyak tangan dalam proses penciptaannya menjadi bagian dari cara melihat desain sebagai praktik yang terbuka dan kolektif.

Eksplorasi identitas ADGI Design Week 2026 juga berlanjut ke turunannya, termasuk merchandise. Alih-alih sekadar menempatkan aset visual pada produk, tim melihat merchandise sebagai kesempatan untuk membawa sifat personal dan partisipatif dari identitas “Off Grid” ke pengalaman yang lebih dekat dengan pengunjung nantinya. Salah satu ide yang muncul adalah penggunaan bag charm sebagai aksesori yang dapat dikustomisasi dan dipersonalisasi. Dalam konteks acara ini, format ini membuka kemungkinan agar elemen identitas tidak berhenti sebagai visual yang dikenakan secara seragam, tetapi dapat disusun dan dipilih sesuai preferensi masing-masing.

zoom-3

Gagasan tersebut sejalan dengan karakter identitas yang memang tidak dirancang untuk selalu memiliki satu konfigurasi. Aset-aset yang sama dapat hadir dalam berbagai susunan dan implementasi, menciptakan pengalaman yang sedikit berbeda bagi setiap orang.

Identitas visual ADGI Design Week 2026 mencoba menerjemahkan “Off Grid” bukan sekadar melalui tampilan yang terlihat tidak beraturan, melainkan melalui cara pandang terhadap desain itu sendiri. Di antara grid dan sesuatu yang berada di luarnya, ADGI Design Week 2026 menemukan bahasa visual yang berusaha merekam karakter desain hari ini: lebih kolaboratif, material, partisipatif, dan terbuka terhadap kemungkinan.

Identitas visual ini dapat kita saksikan bersama-sama di ADGI Design Week 2026 yang akan berlangsung pada 14 hingga 18 Oktober 2026 di ASHTA District 8.

web-22
web-23
web-24
web-26
web-25
web-27
web-28
web-29
web-30
web-31
web-32
web-34
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.