Hadirkan Kategori Best Album Cover, GRAMMYs Merayakan Ikatan Desain dan Musik
Desain sampul merupakan salah satu elemen krusial dari sebuah album musik. Pengalaman mendengarkan berjalan beriringan dengan pengalaman menikmati visual; mulai dari arahan fotografi, penempatan judul album, tata letak, hingga ilustrasi. Bahkan, kerap kali, desain sampul album juga menjadi pintu gerbang bagi calon pendengar ke musik dan musisinya. Tahun ini, untuk pertama kalinya, desain sampul album menjadi bagian dari ajang musik GRAMMYs yang sudah berlangsung selama 68 tahun. Keputusan ini menjadi bukti bahwa karya visual memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam sebuah karya musik–kedua disiplin pun, dalam kasus sebuah rilisan musik, tidak dapat dipisahkan.
Melengkapi kategori Best Recording Package yang telah lama hadir di bidang Package, Notes & Historical, kategori baru Best Album Cover tersebut memberikan pengakuan atas kerja-kerja kreatif di balik sebuah visual album musik. Penghormatan yang tinggi pun diberikan kepada para Art Director dari album-album musik yang masuk nominasi, mengingat merekalah yang menjadi otak di balik keputusan kreatif dari sebuah album musik. Dalam situs resmi GRAMMYs, CEO Recording Academy, Harvey Mason Jr., menyampaikan pendapatnya: “Di dunia digital saat ini, sampul album bisa dibilang lebih berdampak daripada sebelumnya.” Harvey menambahkan bahwa besar kemungkinan kita sebagai masyarakat luas mengenali satu sampul album ikonik, bahkan saat kita belum pernah mendengarkan musik-musiknya. “Signifikansi budaya (dari desain sampul album) tak terbantahkan.”
Sang CEO juga menegaskan bahwa kategori ini merupakan bentuk apresiasi terhadap para Art Director. Harapannya, kategori ini menjadi bukti bahwa GRAMMYs melihat dan menghargai seluruh kerja kreatif di balik sebuah karya musik. “Kategori Packaging selalu berkembang, dan kami berharap (kategori Best Album Cover) ini menjadi salah satu kategori paling inklusif.”
Para nomine Best Album Cover tahun ini adalah CHROMAKOPIA oleh Tyler, The Creator, The Crux oleh Djo, Debí Tirar Más Fotos oleh Bad Bunny, Glory oleh Perfume Genius, serta moisturizer oleh Wet Leg. CHROMAKOPIA menjadi album yang membawa pulang piala pertama untuk kategori ini, dengan penghormatan kepada Art Directors di baliknya, yaitu Shaun Llewellyn dan Luis “Panch” Perez. Berbeda dari album-album sebelumnya yang penuh warna, Tyler, The Creator memilih tampil dengan nuansa sepia di sampul album CHROMAKOPIA. Desainnya pun sangat minimalis; hanya ada potret tegas sang rapper yang mengenakan topeng keramik berbentuk wajahnya sendiri–memperkenalkan penggemar pada St. Chroma, alter ego terbaru Tyler, yang memiliki kemiripan mencolok dengan Chroma the Great dari buku anak klasik karya Norton Juster, The Phantom Tollbooth.
Di bagian atas album, CHROMAKOPIA membentang dengan tipografi yang eksperimental, memainkan huruf “C” dan “A” dengan bentuk tanduk–membentuk struktur kepala hewan, iblis, apa pun yang bertanduk. Warna hijau pada fon melengkapi keseluruhan album yang didominasi cokelat sepia, menjadikan desain sampul terlihat harmonis tapi terisolasi di waktu yang bersamaan.
Menurut art director Luis "Panch" Perez, Tyler sendiri ingin menyalurkan nuansa film noir era 1930-an dan 1940-an, bahkan membawa contoh dari sebuah film Alfred Hitchcock untuk pemotretannya. “Dia ingin sampulnya terasa seperti berasal dari film pada era itu,” ungkap Perez dalam wawancara dengan ArtNews.
Pendekatan yang sama kemudian diterjemahkan dengan apik ke dalam video-video bernuansa sepia untuk single dari CHROMAKOPIA. Dalam “St. Chroma”, Tyler bertopeng memimpin barisan kelompok tanpa wajah. Kemudian, ia masuk ke sebuah kontainer pengiriman yang meledak dengan ledakan warna-warni. Sementara itu, “Noid” menempatkan Tyler di tengah rangkaian skenario horor yang membingungkan, dengan referensi sinematik noir yang begitu terlihat.
Salah satu desain sampul album yang menarik dari kategori Best Album Cover ini adalah The Crux, album ketiga Joe Keery dengan nama panggung Djo. Saat mendengarkan lagu-lagunya, sampul album ini seperti memiliki kompleksitas cerita dan karakter di setiap sudutnya. Diambil di lokasi ikonik Paramount Pictures di Los Angeles, sampul album, dengan arahan artistik William Wesley II, menghidupkan Hotel Crux yang fiktif. Di sekitar hotel, kita bisa menyaksikan hiruk-pikuk kehidupan tamu yang tampak di jendela kamar hingga pejalan kaki yang lalu-lalang di bawah papan neon lawas.
Sementara itu di langit, kita dapat melihat sebuah pesawat kecil menarik spanduk bertuliskan “I’M SORRY CINDY AND I LOVE YOU” melintas di bagian atas bingkai. Sang musisi, Djo, sendiri tampak bergelantungan dari salah satu jendela lantai dua hotel, mengenakan setelan putih bergaya 1970-an.
Dalam wawancara di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon, Joe Keery mengungkapkan sebagian inspirasi di balik sampul album tersebut. “Aku pernah membuat hal-hal yang cenderung minimalis, dan kali ini aku ingin sampul yang maksimal. Salah satu tema album ini adalah ‘one of many’, jadi dalam visual albumnya, ada banyak hal yang terjadi dan banyak yang bisa dilihat,” ujarnya.
Desain visual album Debí Tirar Más Fotos oleh Bad Bunny menonjol karena menjadi satu-satunya sampul dalam deretan nominasi tahun ini yang sepenuhnya tanpa figur manusia. Alih-alih menampilkan potret dirinya, Bad Bunny, yang juga menjadi direktur artistik, memilih foto dua kursi plastik Monobloc di depan pohon pisang sebagai representasi surat cinta untuk tanah kelahirannya, Puerto Rico. Sampul DtMF (yang dalam bahasa Inggris berarti I Should Have Taken More Photos) dengan indah menangkap esensi kampung halaman Bad Bunny, tempat ia menghabiskan sebagian besar musim panas hingga awal gugur untuk menjalani residensi pertunjukan di José Miguel Agrelot Coliseum, San Juan.
Desain album tersebut juga memantik rasa kerinduan dan kesendirian lewat kursi-kursi kosong. Secara keseluruhan, visual album ini merupakan bentuk dedikasi yang tulus untuk budaya Puerto Rico.
Pada akhirnya, kehadiran kategori Best Album Cover di GRAMMYs merupakan penegasan bahwa musik dan visual adalah dua bahasa yang saling menguatkan dalam membentuk pengalaman mendengar. Dari daftar nominasi, kita melihat bagaimana desain sampul tidak hanya berperan sebagai “bungkus”, tetapi juga sebagai pintu masuk menuju ide, emosi, dan konteks di balik sebuah karya musik. Pengakuan ini membuka ruang yang lebih luas bagi para pekerja kreatif untuk berdiri sejajar dengan para musisi; sebagai rekan yang turut menentukan bagaimana sebuah karya akan diingat, dibicarakan, dan, tentu saja, dirasakan oleh pendengarnya.