Dali Geralle Bicara soal Dekonstruksi Waktu dan Vandalisme dalam Pameran Tunggalnya di Indonesia
"Post-vandalisme mendekomposisi elemen grafiti untuk dirakit kembali menjadi bahasa visual yang lebih baru. Ini adalah proses di mana vandalisme ditantang menjadi bentuk cinta dan sensitivitas," kata Dali Geralle, seniman ekspresionis abstrak asal Milan yang akan menyelenggarakan pameran tunggalnya di Indonesia.Ricordati Che Sei in una Timeline dibuka untuk publik mulai Sabtu, 22 Agustus 2026 ini, di Studioland Artspace, Tangerang Selatan.
Kolaborasi lintas budaya yang segar ini menawarkan kurasi karya lama, baru, hingga eksplorasi intuitif sang seniman yang digarap di Jakarta. Wacana post-vandalisme menjadi sorotan pameran ini; sebuah konsep rekonstruksi grafiti sebagai bentuk seni abstrak yang lebih sensitif dan puitis.
Jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia, judul pameran ini sendiri memiliki arti "Ingatlah kalau kamu ada di dalam linimasa.” Dengan kalimat tersebut, Dali merespons persepsi waktu yang non-linier. Maka, pada pameran ini, sang seniman menampilkan persimpangan antara ingatan masa lalu dan proyeksi masa depan, mulai dari seri foto eksperimental di bangunan terlantar, lukisan figuratif La Rassegnazione, hingga karya terbarunya, La seconda vita in terra bruciata, yang diselesaikan langsung di Jakarta.
Dali Geralle (lahir 1994) sendiri adalah seorang seniman visual yang berbasis di Milan, Italia. Mengawali kariernya dalam kancah grafiti dan fotografi fashion, praktik artistiknya kini berfokus pada eksperimentasi cat dan medium foto yang mengulas gagasan post-vandalism, bahasa visual urban, serta manipulasi waktu.