Bazbon: Imaji yang Tumbuh dalam Budaya Jalanan, Internet dan Musik Hip Hop


“Aku ingat aku pernah menulis ‘character designer’ sebagai pekerjaan impian saat aku masih di sekolah menengah,” ujar Bazbon. Seniman kelahiran Seoul tahun 1988 ini kini bekerja di banyak medium sekaligus, dari lukisan, ilustrasi, grafiti, desain karakter, hingga art toy dan kolaborasi dengan merek. Karyanya pernah dipamerkan di Seoul, Hong Kong, Los Angeles, dan New York. Ia juga pernah bekerja sama dengan Dynamic Duo untuk sampul album Off Duty, Nike, adidas, Samsung, Umbro, dan MCM.

Ia menghabiskan masa kecilnya dengan menyerap berbagai karya animasi yang tayang di televisi dan membaca halaman demi halaman buku komik. Ketertarikan awalnya bermula dari kebiasaan meniru gambar karakter yang ia tonton sehari-hari. Seiring berjalannya waktu, ia mulai menyisipkan imajinasinya sendiri ke dalam tarikan garis tersebut. 

Bagi Bazbon, dorongan untuk terus berkarya berakar dari sebuah keinginan yang sangat sederhana. Ia mengaku bahwa motivasi utamanya adalah keinginan untuk menjadi cukup mahir menggambar, sehingga ia bisa benar-benar menikmati setiap proses di atas kertas tersebut. Proses pendewasaan ini berjalan beriringan dengan masa remajanya di awal 2000-an yang lekat dengan budaya jalanan, musik hip hop, serta pesatnya perkembangan internet. Bazbon mengaku tertarik pada citra-citra pemberontak yang lahir dari subkultur. Selera visualnya juga condong ke arah sana. “Aku juga lebih tertarik dengan hal-hal yang tampak belum rampung dan tidak sempurna daripada sesuatu yang terlalu ‘dipoles’,” katanya. Selera itu masih terlihat dalam gambarnya hari ini, yang ia sebut tersusun dari potongan-potongan kecil budaya dan pengalaman visual yang ia sukai dan serap. Karena pengaruhnya datang dari banyak arah, ia juga terbiasa mencoba berbagai cara mengolah citra.


Preferensi visual ini terbawa hingga hari ini dan membentuk identitas artistiknya secara keseluruhan. Ia mengaku tidak pernah merencanakan diri untuk menciptakan karya seni pop kontemporer. Bahasa visual yang ia miliki saat ini tumbuh secara alami dari hal-hal yang ia lihat dan nikmati sepanjang hidupnya. Ia memandang karyanya sebagai gabungan dari potongan-potongan kecil berbagai budaya dan pengalaman visual yang ia serap dari waktu ke waktu. Karena terpengaruh oleh banyak bidang yang berbeda, ia bereksperimen dengan berbagai gaya ilustrasi untuk mengeksplorasi kehidupan modern dan selera pribadinya.

Kecintaan Bazbon pada elemen ketidaksempurnaan ini terlihat sangat jelas dalam pendekatannya terhadap proses pengerjaan karya. Dalam kesehariannya, ia menggunakan perangkat digital untuk merancang bentuk dan komposisi secara cepat. Namun, ia menyadari ada sensasi yang hilang jika karyanya berhenti pada piksel di layar. Saat gambar digital tersebut dipindahkan ke medium fisik, muncul berbagai goresan tidak terduga dan tekstur tak sengaja. Ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut sangat penting bagi karya akhirnya. “Daripada berusaha mereproduksi gambar digital secara sempurna, saya merasa ketidaksempurnaan kecil yang muncul dari pengerjaan manual justru membuat karya akhir terasa lebih hidup," jelasnya.

Perpindahan medium dari ranah dua dimensi ke bentuk fisik mencapai titik kepuasan saat ia mengerjakan proyek mainan seni. Ini semacam perwujudan mimpi di masa sekolah ketika ia menuliskan profesi character designer sebagai cita-citanya. Melihat gambarnya di atas kertas berubah wujud menjadi objek tiga dimensi yang bisa disentuh memberinya jenis kegembiraan yang berbeda dari sekadar menggambar. Perannya adalah berkomunikasi dengan modeler sejelas mungkin tentang bentuk yang ia inginkan. Kadang mereka melewati puluhan bahkan ratusan putaran umpan balik demi mendekati bentuk yang ada di kepalanya. Awalnya ia membuat mainan karena menyenangkan. Belakangan ia menyadari ada orang-orang yang sungguh menikmati mainannya. Ia juga tumbuh dengan bermain mainan fisik, jadi keinginan membuat sesuatu yang bisa disentuh selalu ada dalam dirinya. Ia berencana melanjutkannya jika ada kesempatan yang baik, dan menutup jawabannya dengan ajakan, "Jangan ragu hubungi saya!"

Keahlian Bazbon dalam menerjemahkan budaya pop ke dalam karakter visual akhirnya menarik perhatian banyak merek global. Kolaborasinya sejauh ini membentang dari musisi seperti Dynamicduo hingga merek-merek multinasional termasuk Nike, adidas, Samsung, Umbro, MCM, BAPE, dan Dr. Martens. Menghadapi tuntutan komersial dari perusahaan besar ini sering kali menjadi tantangan bagi seniman, namun Bazbon memiliki pendekatan yang kolaboratif. Ia meyakini bahwa saat sebuah merek mengajaknya bekerja sama, mereka sudah memahami karakteristik dasar karyanya. Oleh karena itu, ia tidak merasa harus mengesampingkan gaya pribadinya atau menurut pada arahan komersial merek tersebut. Ia selalu mengutamakan proses diskusi untuk mencari titik keseimbangan bersama. Ia sendiri menikmati tantangan untuk mengekspresikan bahasa visualnya di dalam lingkungan serta batasan-batasan kebutuhan yang baru. “Menariknya, semakin komersial proyeknya, semakin aku menyadari betapa pentingnya karya personal bagi saya,” tegasnya.


Terlepas dari semua pameran internasional dan proyek kolaborasinya, Bazbon tetap bergulat dengan tantangan teknis layaknya seniman pada umumnya. Masalah mendasar yang paling sering ia temui adalah rasa frustrasi ketika tangannya tidak mampu menggambar apa yang benar-benar ia bayangkan. Ia merasa kemampuan untuk memindahkan gambar dari kepala ke atas kertas dengan tingkat keterampilan yang ia inginkan adalah fondasi yang paling esensial. 

“Yang paling berat, pada dasarnya, adalah ketika aku tidak bisa menggambar apa yang ingin kugambar,” ungkapnya. Untuk mengatasi hal tersebut, akhir-akhir ini ia berusaha lebih fokus untuk kembali mempelajari hal-hal mendasar dalam seni rupa.

Kebutuhan untuk terus mengasah keterampilan dasar ini menjadi sangat relevan ketika ia mengamati lanskap teknologi saat ini, terutama dengan munculnya kecerdasan buatan generatif. Sebagai sosok yang tumbuh di tengah ledakan internet, Bazbon memandang disrupsi teknologi dengan pikiran terbuka. Ia sepakat bahwa kehadiran kecerdasan buatan membuat banyak seniman kesulitan mencari nafkah dan membuat sebagian ilustrator merasa terancam. 

Kendati demikian, ia juga melihat peluang di tengah situasi tersebut. "Jika orang-orang mulai jenuh melihat gambar hasil buatan AI yang melimpah ruah di mana-mana, menyajikan sesuatu yang luar biasa yang hanya bisa dibuat oleh manusia justru bisa menjadi jauh lebih bernilai," tuturnya. Ia meyakini bahwa kecerdasan buatan dapat menjadi alat yang sangat praktis jika digunakan sesuai dengan kebutuhan senimannya, sementara jiwa dari sebuah karya akan selalu bertumpu pada sentuhan tangan manusia yang menciptakannya.

web-22
web-28
web-24
web-29
web-32
web-27
web-33
web-25
web-31
web-26
web-30
web-23
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.