Dua Pameran di ara contemporary Mengajak Pengunjung Membaca Makna dari Hal-Hal Terdekat

Hingga 13 September mendatang, ara contemporary menawarkan dua pameran sekaligus yang berlangsung di Main Gallery dan Focus Gallery. Pertama, di Main Gallery,  seniman Indonesia Enggar Rhomadioni menghadirkan Pāṭha, sebuah pameran tunggal yang dilengkapi dengan teks pameran oleh Putu Sridiniari. Sementara itu, di Focus Gallery ada Trinket Philosophy yang mempertemukan seniman Thailand Kanokwan Sutthang, MM. Kosum, dan Tuna Dunn bersama seniman Indonesia Miranda Mazuki dalam sebuah pameran kelompok yang dikuratori oleh kurator asal Thailand, Pearamon Tulavardhana. Keduanya mengamati bagaimana makna tidak hadir begitu saja, melainkan terakumulasi melalui tindakan melihat, membaca, mengingat, dan kembali.

Pāṭha oleh Enggar Rhomadioni

Dalam Pāṭha, Enggar Rhomadioni menghadirkan rangkaian lukisan terbaru yang menandai pergeseran dari eksplorasi sebelumnya mengenai idealisme Jawa tentang Ksatria Jawa Paripurna. Berangkat dari kehilangan sang ibu dan rasa ingin tahu yang terus tumbuh terhadap feminitas, pameran ini berkembang sebagai upaya berkelanjutan untuk memahami apa yang berada di balik gagasan-gagasan maskulinitas yang diwariskan.

Dalam karya-karya Enggar, citra surealis, serta bentuk-bentuk feminin yang terus berulang. Sang seniman meninjau kembali nilai dan ekspektasi yang selama ini membentuk pemahamannya mengenai maskulinitas. Judul pameran ini diambil dari kata “pāṭha”, yang memiliki makna ganda: pembacaan atau pelafalan dan jalan. Alih-alih menjanjikan sebuah titik akhir, Pāṭha merangkul proses yang terus berjalan untuk membaca, mempertanyakan, dan tetap terbuka terhadap hal-hal yang belum sepenuhnya dapat dipahami.

Trinket Philosophy

Dikuratori oleh Pearamon Tulavardhana, Trinket Philosophy berangkat dari fenomena Lipstick Index, sebuah istilah yang diciptakan para ekonom untuk menggambarkan meningkatnya pembelian barang-barang kemewahan berukuran kecil di tengah periode ketidakpastian ekonomi. Ketika inflasi global terus membentuk ulang kehidupan, fenomena tersebut hadir dalam bentuk-bentuk baru melalui benda koleksi, bag charm, cetakan, dan berbagai objek sederhana lainnya yang menawarkan sejenak kesenangan dan pelarian.

Namun, pameran ini menunjukkan bahwa melihat benda-benda kecil tersebut semata-mata sebagai indikator ekonomi berarti mengabaikan pengalaman hidup orang-orang yang mengoleksi, membuat, dan menyimpan benda-benda tersebut sebagai sesuatu yang berharga.

Mempertemukan karya Kanokwan Sutthang, Miranda Mazuki, MM. Kosum, dan Tuna Dunn, pameran ini mengeksplorasi dunia-dunia intim yang terkandung dalam bentuk-bentuk yang tampak sederhana. Mulai dari kehidupan-kehidupan kecil yang menopang ekosistem dalam lukisan Kanokwan Sutthang, pemetaan reflektif MM. Kosum mengenai pertumbuhan dan rasa ingin tahu, perhatian Tuna Dunn terhadap ritme yang berlalu dan momen-momen yang saling terhubung, hingga benda-benda kenangan berharga milik Miranda Mazuki yang terus berkilau seiring waktu, masing-masing seniman menunjukkan bagaimana detail yang tampak sepele dapat menyimpan dunia emosional dan imajinatif yang begitu luas.

web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
web-28
web-29
web-30
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.