Tuesday, Thursday, and Tiger Balm: Refleksi Ilham Karim Tentang Kehidupan Modern
Lukisan-lukisan Ilham Karim di Estyle Art Gallery, Taichung, menampilkan sosok-sosok yang terasa akrab sekaligus, di saat yang sama, enigmatik. Wajah mereka redup, tatapan menunduk, tubuh dalam pose santai yang justru terasa kaku. Mereka seperti sedang menahan sesuatu yang bahkan sulit untuk diterka. Dari titik itulah pameran tunggal kedua Karim, Tuesday, Thursday, and Tiger Balm, mengajak pengunjungnya masuk ke dalam rutinitas harian yang biasa terlewat.
Pameran ini dibangun di atas tiga penanda konseptual yang tercermin dari judulnya sendiri. Tuesday dan Thursday berfungsi sebagai penanda waktu, titik-titik liminal dalam siklus mingguan yang jarang mendapat perhatian. Keduanya membangkitkan kondisi kelelahan yang menggantung, terjebak antara antisipasi dan keletihan, mencerminkan ritme emosional dari rutinitas dan kerja. Sementara itu, Tiger Balm hadir sebagai jeda. Merujuk pada balsem herbal yang begitu umum digunakan, elemen ini menjadi metafora untuk cara seseorang bertahan, sebuah laku perawatan diri di tengah siklus tekanan dan adaptasi yang terus berulang.
Di inti pameran ini berdiri figur-figur khas Karim: sosok yang tampak lepas, terlalu tenang, dan emosinya sulit dibaca. Namun ketidakpedulian yang mereka pancarkan bukan berarti kekosongan. Kuratorial pameran ini, ditulis oleh Jasmine Haliza, menyebut sikap itu sebagai kesadaran relasional yang lebih dalam, sebuah kepekaan terhadap sistem dan kondisi yang diam-diam mengatur keseharian kita. Figur-figur ini tidak ditampilkan sebagai perwujudan kondisi psikologis bersama yang dibentuk oleh hiperkoneksi, kelebihan informasi, dan normalisasi kelelahan dalam kehidupan modern.
Karim memperluas gagasan ini lewat instalasi yang menggabungkan pipa, alat ukur, dan benda temuan. Elemen-elemen ini membentuk bahasa visual yang menelusuri infrastruktur tak kasat mata yang membentuk cara kita berpikir dan mengambil keputusan. Aliran pipa menggambarkan sistem logika dan penalaran, sementara celah-celah strukturalnya memperlihatkan bahwa "akal sehat" yang kita jalani sehari hari sebenarnya juga hasil konstruksi kekuasaan yang jauh dari jangkauan negosiasi individu.
Dalam pernyataan senimannya, Karim menulis bahwa media sosial dan platform digital terus memberi kita berita terbaru dari seluruh dunia. Dari kejauhan, kita menyaksikan ledakan konflik global yang kemudian masuk ke kehidupan sehari hari dan menjadi hal biasa. Kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial tetap dianggap normal. Lewat teknologi informasi yang ada di ujung jari kita, perang, ketegangan geopolitik, dan keputusan elite kerap merembes pelan ke dalam ritme hidup manusia tanpa disadari. Karim mempertanyakan bagaimana hidup bisa dijalani secara normal di dalam sistem yang justru mengatakan sebaliknya.
Alih-alih menggambarkan manusia sebagai korban atau pahlawan perlawanan, karya karya dalam pameran ini menyoroti tubuh tubuh biasa yang dilatih untuk tetap berfungsi. Tubuh sering dibentuk oleh ekspektasi yang diberikan oleh otoritas, bahkan tanpa tekanan fisik yang kasat mata. Meski tubuh sering diberi kebebasan untuk memilih, pilihan-pilihan tersebut rentan dikendalikan karena berasal dari algoritma. Karim menulis bahwa orang orang di lapisan bawah hierarki menjadi bagian dari sistem yang sangat rentan, dan kita telah menjadi komoditas bagi mereka yang berkuasa, bukannya mendapatkan kebebasan yang sesungguhnya.
Haliza dalam teks kuratorialnya turut mengaitkan karya Karim dengan pemikiran Mark Fisher tentang bagaimana frustrasi hidup dalam birokrasi dan logika manajemen menghasilkan semacam kepasrahan yang aneh, semacam kepuasan getir atas nasib kita sendiri. Namun berbeda dari kritik tajam Fisher terhadap budaya kontemporer, lukisan bagi Karim berfungsi sebagai bantalan yang menyampaikan sistem kode tersebut dengan lebih halus. Warna-warna hidup dalam karyanya bukan dimaksudkan sebagai stimulus bagi pikiran kita yang sudah kelebihan rangsangan, melainkan sebagai respons terhadap refleks afektif kita sendiri.
Kehadiran berbagai benda temuan dalam instalasi menjadi semacam improvisasi bagi Karim untuk mengenali logika kehidupan sehari-harinya sendiri, juga orang-orang di sekitarnya. Ia mengumpulkan benda-benda yang terasa asing, memungutnya, dan untuk sementara melepaskannya dari sistem normal kehidupan sehari hari. Tindakan sederhana ini menopang rasa keberdayaan pribadi yang sering terlupakan dalam ruang ruang kebiasaan.
Tuesday, Thursday, and Tiger Balm berlangsung di Estyle Art Gallery, Taichung, sejak 13 Juni hingga 12 Agustus 2026.