Melihat Dengan Rasa: Menelusuri Ingatan dan Rumah dalam Walk the House karya Do Ho Suh
Dalam kunjungan ke London, kami berkesempatan menghadiri pameran penting Do Ho Suh yang bertajuk Walk the House di Tate Modern. Pameran ini menandai pertunjukan solo perdana Suh di London, kota yang telah lama menjadi basis tempat tinggal dan berkaryanya—sebuah jejak dalam perjalanan artistik yang terus berkembang, yang senantiasa merawat pertanyaan-pertanyaan berlapis tentang rumah, sebagaimana yang terpantul dari tempat-tempat yang ia diami. Judul pameran ini berasal dari kenangan masa kecilnya saat rumah keluarganya sedang dibangun di Seoul. Kala itu, Suh mendengar para tukang kayu menyebut istilah “walk the house” saat mereka mengerjakan sebuah hanok. Rumah tradisional Korea ini bersifat fleksibel secara struktur—mudah dibongkar-pasang dan dipindahkan—dan menjadi metafora menyentuh bagi proses mencipta, menghidupkan kembali, sekaligus merengkuh keretakan dalam konsep rumah, sebuah proses yang terus dialami Suh selama berpindah-pindah antara Seoul, New York, dan London.
Selama lebih dari 30 tahun, Suh terus mengeksplorasi makna ‘rumah’ dalam kaitannya dengan kemajemukan tempat—yang ia masuki, tinggali, dan tinggalkan. Dalam sebuah wawancara, ia menyatakan bahwa ketertarikan ini bermula ketika ia meninggalkan Korea Selatan pada tahun 1991 untuk melanjutkan studi di Amerika Serikat: “Sebenarnya, konsep rumah baru benar-benar hadir bagi saya setelah saya meninggalkan Korea. Saat saya tinggal di sana, saya sama sekali tidak memikirkannya.” Jarak itu, menurutnya, memberinya sudut pandang untuk merenungkan kenangan yang ia bawa lintas batas dan ruang tinggal. “Saya memiliki keterikatan emosional dengan tempat-tempat yang pernah saya tinggali dan tinggalkan. Karya saya adalah cara untuk berurusan dengan perpisahan-perpisahan itu.”
Pameran dibuka dengan Rubbing/Loving Project: Seoul Home (2013–2022), sebuah upaya untuk menyulam ingatan Suh dengan jejak fisik rumah masa kecilnya di Korea. Karya ini dibuat menggunakan teknik gosok: Suh kembali ke rumah itu, menutup permukaannya dengan kertas, lalu menelusuri permukaannya menggunakan grafit. Ia menggambarkan proses ini sebagai sesuatu yang membutuhkan “tekanan yang presisi”—sederhana dalam bentuk, namun intens dan melelahkan jika dilakukan dalam skala besar. Keletihan itu, katanya, menjadi penanda kapan harus berhenti; tuntutan fisik dari proses tersebut justru menjadi penentu jarak antara dirinya dan karya. Teknik ini kemudian diterapkan pada fragmen-fragmen rumah lamanya yang lain, seperti dalamRubbing/Loving: Apartment A, 348 West 22nd Street, New York, NY 10011, USA(2014). Dalam karya ini, Suh mengganti grafit dengan pensil berwarna, menciptakan pergeseran nada yang mencolok. Jika rumah masa kecilnya digambarkan dalam skala abu-abu yang khidmat, maka apartemen New York-nya tampil dengan warna yang lebih hidup dan menyentuh—barangkali mencerminkan ingatan yang lebih tajam, lebih emosional, atau mungkin lebih dekat secara waktu.
Benang merah ini berlanjut dalam instalasi terbarunya,Nest/s (2025), yang mencoba menangkap kondisi liminal dalam bangunan-bangunan di Seoul, New York, dan London. Karya ini melawan kebutuhan arsitektur akan kepastian dan ketangibilitas; sebaliknya, Suh berusaha memvisualisasikan kualitas tak terlihat dari keadaan di antara—transisi yang tak bernama namun terasa. Hasilnya adalah apa yang ia sebut sebagai arsitektur yang “mustahil namun berkesinambungan”—sebuah struktur tak tergenggam yang melayang di antara ingatan, tempat, dan waktu. Gagasan ini diangkat dengan pendekatan yang agak berbeda dalamPerfect Home: London, Horsham, New York, Berlin, Providence, Seoul (2024), yang menyusun kembali fragmen-fragmen rumah: sudut lorong, wastafel kamar mandi, sakelar lampu, unit pendingin ruangan. Kedua instalasi ini ditampilkan sebagai fragmen-fragmen yang pecah, bentuknya menggantung dan tak selesai. Namun, penempatan keduanya yang berdampingan menciptakan kesinambungan yang halus—benang samar yang menolak kronologi. Di sini, Suh menyampaikan bahwa mengingat tidak punya titik awal atau akhir yang pasti; ingatan dapat dipicu oleh pertemuan yang tak terduga, bukan hanya lewat objek tertentu, tapi juga melalui ruang—pertemuan yang mampu membangkitkan momen-momen yang dianggap telah lama berlalu.
Sebagai pengunjung, kita sadar bahwa pameran ini dibangun dari ingatan-ingatan Suh. Namun dalam menapaki ruang-ruangnya—meski hanya sesaat—kita tak bisa tidak teringat pada ingatan kita sendiri. Keterampilan Suh membangkitkan lapisan-lapisan kerja ingatan, di mana pengalaman satu orang menjadi portal bagi refleksi orang lain. Ia menunjukkan kemampuannya sebagai seorang pengatur ruang yang ulung, menciptakan keintiman di tengah ruang putih galeri yang netral. Salah satu elemen paling kuat adalah penggunaan arsitektur kain. “Saya memilih kain untuk karya arsitektur karena sifatnya yang tembus pandang memungkinkan ruang di sekitarnya masuk ke dalam karya, mengaburkan batas antara karya seni dan tubuh pengunjung,” jelas Suh. “Saya ingin pengunjung melihat arsitektur museum melalui karya saya—bahwa itu bukan sekadar ruang putih untuk seni. Jika Anda berada di dalam karya arsitektur kain, Anda sebenarnya menjadi bagian dari karya itu: Anda mengaktifkannya.”
Dengan gestur ini, Suh membuka undangan yang lebih luas—bukan sekadar untuk melihat, tapi untuk merenung bersama. Untuk tinggal sejenak dalam pertanyaan tentang apa yang membuat sebuah tempat menjadi rumah. Untuk mengingat pintu, jendela, dan dinding yang pernah kita lewati, dan bertanya: Bagaimana kita menyebut sebuah tempat sebagai rumah? Dan apa, pada akhirnya, yang membentuk keberadaan rumah itu sendiri?