Seni atau Tidak Seni? 30% Art, 70% Standing oleh Studio Pancaroba x Bagasi di Studio22nya
Setelah mendapat sorotan di tengah gelombang demonstrasi pada bulan Agustus, Studio Pancaroba berhasil menempatkan diri sebagai “suara kolektif” yang mampu mengekspresikan ketidakpuasan dan perlawanan masyarakat di tengah lanskap sosial-politik Indonesia yang penuh carut-marut. Melalui Instagram dan art book fairs, Studio Pancaroba menawarkan publikasi yang mengutuk kebijakan negara, mengkritik industri kreatif dan praktik ketenagakerjaan yang tidak sehat, mempertanyakan “pernyataan publik” para birokrat dan politisi, serta merefleksikan taktik maupun teori yang diperlukan untuk mewujudkan perubahan sistemik. Studio Pancaroba mengandalkan paradoks—dalam pendekatan konseptual dan material, publik dan privat, daring dan luring—dengan bahasa desain khas mereka untuk membangun kehadiran yang samar (cryptic) dan tanpa wajah, agar pesan mereka dapat menjangkau khalayak luas.
Kritik mereka terwujud dalam desain dan bahasa visual yang mereka gunakan, termasuk unggahan pernyataan solidaritas berlatar hitam-putih, penggunaan font Comic Sans, emoji, salinan teks bernada jenaka yang ditulis dalam bahasa Inggris, dan sering kali penempatan objek-objek acak sebagai “placeholder” (yang mempertanyakan makna penting dari objek tersebut). Mungkin justru karena kesan mentah dan realistis inilah konten mereka begitu beresonansi dengan publik, sebab misteri yang mereka bangun secara eksplisit melawan tuntutan visibilitas yang dianggap penting untuk bertahan di industri kreatif. Bersama-sama, mereka memantapkan diri sebagai “pemberontak” melalui karya-karyanya; terus-menerus mengkritik diri sendiri, orang-orang di sekitar mereka, dan sistem keberadaan itu sendiri. Dalam 30% Art, 70% Standing, kita dapat membaca Studio Pancaroba secara langsung ketika mereka membawa refleksi tentang art fair, perjalanan, dan kelelahan ke dalam ruang galeri.
Saat menaiki tangga menuju Studio22nya, kami disambut oleh sebuah meja di depan galeri yang menampilkan berbagai merchandise: topi, pakaian, publikasi cetak, car signs, pengharum ruangan, dan paket stiker yang dikumpulkan dari katalog mereka serta hasil kolaborasi dengan merek travel Bagasi. Di antara barang-barang koleksi tersebut, Studio Pancaroba meluncurkan sebuah publikasi berjudul Human Story In The In-Human World yang berisi serangkaian pengamatan mereka selama perjalanan menghadiri art book fair di Asia Tenggara. Terdapat foto-foto perjalanan, keramaian, dan pengakuan yang menyayat, seperti: “Have you ever self-published because therapy was expensive and fully booked?” Buku tersebut menampilkan gaya khas mereka yang menyatukan hal-hal banal dan eksistensial dalam kehidupan sehari-hari seorang pekerja kreatif, yang kemudian meluas ke ruang galeri.
Sebuah koper, surat penolakan yang dibingkai, serangkaian poster yang ditempel di dinding, televisi yang memutar rekaman pel, kaca spion dengan tumpukan pengharum ruangan; semuanya dipajang “begitu saja” di dinding galeri. Susunan ini terbaca sebagai kritik langsung terhadap “kurasi” rapi dan dipoles yang biasanya diharapkan dalam format white-cube sebuah galeri. Namun secara bersamaan, objek-objek tersebut tampak ditempatkan dengan sengaja dan setia pada “metode” Studio Pancaroba. Akan keliru jika menyebutnya sebagai seni dalam pengertian biasa, karena terdapat sentimen Dadaisme yang kuat dalam perlakuan mereka terhadap karya-karyanya, yang semakin hidup dalam acara lelang (semu) mereka.
Kerapuhan nilai dalam seni ditampilkan secara gamblang, memperlihatkan proses pertukaran ekonomi dan relasi-relasi yang biasanya tersembunyi (atau hanya eksklusif bagi kelompok elit) dalam ruang seni. Studio Pancaroba mengirim seorang “teman” untuk berpura-pura menjadi juru lelang malam itu, membawa lembaran kertas berisi daftar karya yang dijual beserta harganya, palu mainan, dan buzzer sebagai perlengkapannya. “Jujur, ini lebih sulit daripada teater,” kata sang juru lelang saat mulai membacakan deskripsi karya-karya yang akan dijual. Interaksi antar audiens dengan juru lelang itu meniru prosedur yang lazim ditemukan dalam lelang konvensional, namun dengan perubahan signifikan pada sistem harga: alih-alih harga naik melalui penawaran, acara ini justru merayakan penurunan nilai secara terus-menerus. Para peserta lelang berlomba-lomba menurunkan harga karya seni yang nilainya terus berkurang setiap kali ada penawaran, diselingi tawa dan tatapan canggung dari sang juru lelang. Berkali-kali, ia menoleh kepada pendiri Studio22nya, Zarani Risjad, untuk meminta kepastian mengenai harga dan jalannya acara. “Apakah ini oke?” tanyanya, menunggu anggukan jempol dari Zarani sebelum mencatat siapa pemilik beruntung karya tersebut. Malam itu pun berlangsung layaknya sebuah pertunjukan—ruang galeri berubah menjadi ruang satire yang imersif.
Lelang/pameran/peluncuran publikasi yang berlangsung singkat itu semakin menegaskan konsistensi suara Studio Pancaroba. Namun, saya tak bisa mengabaikan kerentanan yang retak dan muncul di balik orkestrasi (pertunjukan) yang mereka coba pertahankan. Dari kejauhan, karya mereka terasa lucu, radikal, dan menyegarkan, tetapi ketika dilihat lebih dekat, semuanya justru begitu menyedihkan. Pertanyaan "Apakah kita memang harus terus hidup dan bekerja seperti ini?” menggema dan semakin terasa nyata lewat kehadiran fisik mereka dalam lelang, pameran, hingga merchandise yang ada. Ruang galeri tak lagi semata menjadi tempat kritik dilontarkan, melainkan ruang kontemplasi atas realitas kita sendiri. Mungkin, di situlah mereka memperlihatkan kerumitan yang tersembunyi di balik bahasa (dan upaya) kritik yang begitu dominan di kalangan kontemporer. Di luar pesan-pesan sarkastik dan humor, atau kesadaran atas brutalitas aparat, ada kebenaran mendasar yang menghantui masyarakat Indonesia: apakah kita bahkan bisa bertahan hidup? Dan jika pertanyaan itu diperluas ke dalam praktik mereka, ia berubah menjadi: mampukah kreativitas benar-benar menopang hidup kita dan membawa perubahan? Berbagai keberhasilan mereka sebelumnya telah menempatkan Studio Pancaroba sebagai pihak yang “mampu dan layak” untuk membuka kemungkinan-kemungkinan baru dalam membayangkan kreativitas maupun aktivisme. Dan jika tidak, mungkin kita hanya bisa terus menertawakan kesadaran akan kegelisahan eksistensial yang tak pernah benar-benar pergi.