Panggung Fragmen: Chae Jimin Menyusun Ulang Makna Lanskap Dalam Logika Digital


Melangkah masuk ke ruang pamer THEO Jakarta, mata pengunjung akan langsung dihadapkan pada sebuah dinding oranye raksasa yang mendominasi kanvas. Namun begitu pandangan bergerak menyusuri tepiannya, celah-celah kecil mulai terbuka: sepotong langit, hamparan padang, seekor hewan, figur manusia yang terpotong. Dinding itu tidak menutup apa pun secara utuh. Justru dari celah-celah potongannya, dunia lain ikut muncul. Inilah pengalaman pertama yang ditawarkan Stage of Fragments: Before the Landscape Settles, pameran tunggal seniman Korea Selatan Chae Jimin yang berlangsung di THEO Jakarta sejak 11 Juli hingga 15 Agustus 2026.

Tidak seperti pelukis modern yang melukis lanskap dari pengamatan langsung terhadap alam, Chae Jimin membangun lanskapnya dari fragmen-fragmen gambar yang ia susun dan pertimbangkan satu per satu. Dinding, tangga, pintu, jendela, ladang, langit, hewan, hingga figur manusia hadir berdampingan dalam satu bidang kanvas. Semua elemen ini terasa familiar ketika dilihat sendiri-sendiri, tapi begitu digabungkan, kesan itu berubah menjadi ambigu. Tidak ada narasi tunggal yang mengikat semuanya. Setiap objek berdiri sebagai citra independen, dan pengunjung diajak menjelajah ruang di antara apa yang tampak nyata dan apa yang sepenuhnya hasil konstruksi.

Yang membuat karya-karya ini menarik untuk diperhatikan lebih dekat adalah proses di baliknya. Chae menyebut pendekatannya sebagai Manual Rendering. Sepintas, komposisi lukisannya bisa disalahartikan sebagai hasil olahan digital, mengingat kerapian bidang warna dan presisi perspektifnya. Tapi seluruh proses pengerjaan dilakukan dengan tangan, menggunakan cat minyak di atas kanvas. Chae meminjam logika visual fotografi, perspektif arsitektur, teknik pemodelan digital, pelapisan, dan pencahayaan yang terukur, lalu menerjemahkan semua itu kembali ke dalam proses melukis yang lambat dan fisik. Ada semacam gesekan yang sengaja diciptakan antara kecepatan citra digital yang biasa kita konsumsi sehari-hari dengan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan satu lukisan cat minyak.


Gesekan inilah yang menempatkan karya Chae dalam wacana yang disebut Post-Digital Constructed Landscape. Lukisannya tidak bisa dibaca sebagai nostalgia terhadap tradisi lukisan lanskap, dan juga tidak sekadar mereproduksi citra digital ke atas kanvas. Yang ia lakukan adalah menyelidiki bagaimana sebuah gambar dibangun, dibingkai, dan akhirnya dialami oleh mata kita di tengah lanskap visual masa kini. Bidang warna datar bertemu dengan ilusi kedalaman ruang yang meyakinkan. Struktur arsitektural memotong bentangan lanskap terbuka. Objek-objek yang tampak akrab justru terlepas dari cerita yang pasti.

Judul pameran ini, Stage of Fragments, menangkap kondisi tersebut dengan cukup tepat. Kanvas diperlakukan sebagai panggung, tempat berbagai elemen visual untuk sementara hadir bersama sebelum akhirnya membentuk makna, jika memang pada akhirnya membentuk makna. Chae sengaja tidak mengarahkan penonton pada satu penafsiran. Hubungan antar elemen dibiarkan tetap terbuka, sehingga setiap karya selalu berada dalam proses menjadi, tidak pernah benar-benar selesai.

Karya The Orange Wall Does Not Cover the Whole World menjadi contoh paling jelas dari pendekatan ini. Dinding oranye berukuran monumental mendominasi komposisi, tapi serpihan langit, lanskap, hewan, dan kehadiran manusia tetap muncul lewat celah dan tepian dinding. Dinding tersebut berfungsi ganda: sebagai bentuk arsitektural sekaligus sebagai penanda batas yang menyembunyikan dan memperlihatkan pada saat bersamaan, memisahkan sekaligus menghubungkan berbagai realitas dalam satu bidang gambar. Dua karya lain, Stage of Fragments #1 dan Stage of Fragments #2, melanjutkan eksplorasi serupa dengan memadukan potongan lanskap dan bentuk arsitektural yang disusun cermat sehingga menolak penyelesaian cerita yang tunggal. Sementara rangkaian karya Untitled yang berukuran lebih kecil memperlihatkan bahasa visual yang sama dalam skala yang lebih intim.

Di masa kini kita semakin sering menjumpai lanskap bukan sebagai tempat, melainkan sebagai citra yang telah lebih dulu dikonstruksi. Langit terpotong oleh layar, ruang dibentuk lewat proses rendering, objek-objek bertumpuk seperti lapisan, dan setiap adegan selalu terbuka untuk terus diedit. Karya-karyanya berangkat dari kondisi ini, tapi alih-alih membiarkan citra tetap bergerak dalam kecepatan dunia digital, ia menariknya kembali ke proses melukis yang lambat dan material.

zoom


Pada pandangan pertama, lukisan Chae terlihat jelas dan presisi. Langit biru, rumput hijau, dinding, tangga, pintu, jendela, hewan, dan figur manusia tersusun dalam komposisi yang tegas. Tapi kejernihan visual ini tidak pernah benar-benar mengarah pada realitas yang stabil. Sebuah dinding juga menjadi permukaan yang menutupi citra lain. Sebuah pintu berfungsi sebagai jalan masuk sekaligus bingkai yang memunculkan adegan lain di baliknya. Tangga memberi kesan pergerakan tanpa tujuan yang jelas, sementara hewan dan figur manusia hadir bukan sebagai tokoh utama, melainkan saksi sementara di dalam ruang gambar.

Chae lahir di Korea Selatan pada 1983. Ia meraih gelar Bachelor of Fine Arts dalam bidang Lukisan dari Seoul National University, kemudian melanjutkan studi Master of Arts di Chelsea College of Arts, London. Karyanya pernah dipresentasikan di Hermès Liat Tower Singapura, Hermès Shanghai Maison, Gallery Joeun Seoul, dan Ginza Tsutaya Tokyo, di antara sejumlah pameran lainnya.

Melalui Stage of Fragments: Before the Landscape Settles, THEO Jakarta melanjutkan komitmennya menghadirkan suara-suara penting dalam seni kontemporer Korea sambil membuka ruang dialog antara audiens Korea dan Indonesia. Pameran ini mengajak kita meninjau ulang makna lanskap hari ini sebagai citra yang terus dibentuk oleh persepsi, teknologi, memori, dan bahasa material dalam seni lukis. 

web-18
web-19
web-20
web-16
web-17
web-15
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.