Pressing Pressure dan Perpanjangan Grafis dalam Konteks Sosial Hari Ini
Setelah pameran berakhir, ada satu hal yang masih layak dipikirkan lagi dari Pameran Pressing Pressure: Tertekan, Tercetak, Tersebar yang diselenggarakan oleh Krack! bersama Elia Nurvista sebagai co-curator. Pameran ini menganalogikan teknik cetak untuk membaca banyak hal sekaligus melalui praktik dari Bakudapan Food Study Group, Gilang Propagila, Pangestumu, dan Ruang MES 56.
Judulnya memuat dua pengertian tentang tekanan; yang pertama menempel pada proses mencetak itu sendiri, yakni tekanan rakel, mesin, atau tangan yang memindahkan gambar dari satu permukaan ke permukaan lain, yang kedua datang dari luar studio. Kondisi ekonomi, persoalan pangan, krisis ekologis, situasi politik, keterbatasan sumber daya, dan pengalaman sehari-hari membuat orang perlu berbicara dan mencari cara untuk menyampaikannya. Tekanan semacam ini tidak selalu berakhir sebagai keterbatasan, sebab ia juga melahirkan siasat. Ketika alat terbatas, orang memakai apa yang ada. Ketika informasi harus bergerak cepat, gambar dibuat sederhana agar mudah diperbanyak. Ketika ruang formal tidak terjangkau, poster pindah ke jalan, stiker menempel pada benda sehari-hari, dan publikasi berpindah dari tangan ke tangan.
Sejarah cetak di Indonesia memperlihatkan pola yang sama. Ada propaganda pada masa pendudukan Jepang, penyebaran gagasan selama perjuangan kemerdekaan, hingga poster, selebaran, fotokopi, stiker, spanduk, dan kaos yang bergerak bersama demonstrasi dan gerakan warga menjelang Reformasi. Dari sini, pameran menarik minatnya pada sifat vernakular, ketika gambar mengikuti alat, kebutuhan, dan keadaan yang tersedia, lalu bergerak cair di antara seni dan kehidupan sehari-hari.
Keempat praktik dalam pameran menunjukkan sifat itu dengan cara berbeda. Gilang Propagila menghadirkan praktik grafis yang tumbuh bersama kegiatan warga. Lewat Punk Pangan, yang bermula pada masa pandemi, stiker, poster, spanduk, flyer, dan kaos menjadi bagian dari kegiatan berbagi pangan, sekaligus membawa persoalan akses pangan dan tanggung jawab negara ke ruang yang lebih luas. Bakudapan Food Study Group, lewat Hunger Tales, mengubah persoalan yang sama menjadi board game. Pemain mengambil berbagai posisi dalam sistem pangan dan berhadapan dengan harga, distribusi, kebijakan, serta ketimpangan struktural. Di sini, cetak menjadi perangkat untuk memainkan dan membagikan pengetahuan.
Pangestumu memakai repetisi stensil figur polisi dan militer untuk membicarakan semakin terbiasanya kehadiran aparat di ruang sipil. Satu figur muncul, lalu berulang, sampai keberadaannya perlahan menjadi bagian dari pemandangan. Ruang MES 56 mengambil arah lain dengan kembali pada fotografi analog dan afdruk bersama warga Nitiprayan. Kamera dipakai untuk melihat lingkungan sekitar Krack dan mempertanyakan apa yang dianggap cukup penting untuk direkam. Sebuah rumah, warung, pohon, poster yang hampir lepas, atau kejadian sederhana bisa menjadi arsip yang tumbuh dari cara warga memandang kampungnya.
Kalau dua praktik terakhir dibaca berdampingan, muncul satu benang yang menarik. Stensil Pangestumu memperlihatkan bagaimana sesuatu yang awalnya terasa ganjil menjadi biasa karena terus hadir. Kerja Ruang MES 56 menanyakan hal yang berdekatan dari sisi sebaliknya, yaitu apa yang selama ini dianggap terlalu biasa untuk dicatat.
Program publik menarik ide-ide itu kembali ke cara kerja. MES 56 bersama kelompok pemuda Nitiprayan, Uyel-Uyelan, mengadakan workshop "Merekam: Citra yang (Pernah) Hidup di Kampung Nitiprayan". Peserta menyusuri kampung, mendengarkan cerita tentang situs dan peristiwa di Nitiprayan, merekam dengan kamera analog, lalu kembali ke Krack! untuk mencetak foto yang mereka ambil. Lalu juga ada Pangestumu yang mengadakan workshop stensil untuk membuka proses dan kemungkinan reproduksi gambar lewat teknik sederhana. Sepanjang pameran, pengunjung juga bisa memainkan Hunger Tales bersama Bakudapan, gratis dengan pendaftaran.
Program publik ini adalah gambaran tentang cetak sebagai sesuatu yang dikerjakan bersama. Berjalan, merekam, mencetak, menyetensil, dan bermain adalah tindakan yang bisa dilakukan siapa saja, dan mungkin di situlah sifat vernakular yang dibicarakan kurator paling terasa.
Krack! menyebut bahwa pameran ini tidak berusaha menentukan mana yang disebut seni cetak dan mana yang bukan. Ia ingin melihat apa yang terjadi ketika sebuah gambar berada di bawah tekanan, diperbanyak, lalu dilepas ke dunia. Setelah pameran selesai, pertanyaan yang tinggal adalah ke mana gambar-gambar itu akan bergerak berikutnya dan siapa yang akan menemukannya.