Press Print Party: Perayaan Publikasi Cetak yang Penuh Warna
Sebuah perayaan publikasi cetak independen bertajuk Press Print Party (PPP) telah sukses diselenggarakan pada 13 hingga 15 Desember 2024 lalu di The Brickhall Fatmawati City Center. Selama tiga hari, PPP membuka ruang bagi komunitas kreatif untuk berbagi pengetahuan lewat karya-karya cetak maupun berbagai aktivasi seperti gelar wacana dan lokakarya. Press Print Party sendiri merupakan sebuah inisiatif dari Yayasan Pustaka Seni Indonesia, yayasan non-profit sosial-budaya yang berfokus pada pendidikan, penelitian, dan promosi seni serta desain melalui media cetak, pers, dan buku.
Diinisiasi oleh tujuh pegiat seni dan publikasi cetak—Kamengski, Cipsi Studio, Graphic Handler, Petrikor Books, Binatang Press!, Feat Studio, and Double Happiness—Press Print Party menghadirkan 75 exhibitors dari berbagai latar belakang praktik dan geografis. Di antara daftar penerbit, seniman, kolektif, hingga individu dari Indonesia yang menjual karya cetaknya, terdapat beberapa exhibitor dari mancanegara seperti 51 Personae (CN), Betweenia Project (CN/AUS), Hikita Chisato (JP), IN/SECTS Publishing (JP), dan Sojanggak (KR). Lewat buku, zines, dan karya seni cetak, publikasi-publikasi tersebut membawa berbagai topik menarik dari tempat mereka berasal seperti ekosistem musik dan publikasi, keseharian, hingga kuliner khas yang tak banyak orang ketahui. Tak kalah menarik, berbagai publikasi lokal dengan beragam tema mewarnai Press Print Party. Petrikor Books, penerbit dari Yogyakarta, memperkenalkan Halftime Speech, sebuah publikasi yang mengungkap sisi baru dari sepak bola yang penuh kejutan; Tiny Studio dari Tangerang Selatan membawa buku Wet Pussy yang secara judul mengundang kontroversi, namun di dalamnya berisi kumpulan gambar harfiah dari “kucing basah”; serta Grafis Nusantara yang membawa koleksi stiker dari arsip-arsip budaya pop Indonesia.
Berpegang pada visinya untuk menjadi ruang berbagi pengetahuan antar praktisi kreatif, Press Print Party juga menyediakan ruang diskusi, gelar wacana, dan lokakarya. Pada hari pertama dalam sesi “Exploring The Spectrum of Publishing-based Initiatives”, Yogyakarta Art Book Fair, Sub Zine Fest, dan Bunga Zine Fest berbagi soal spektrum publikasi independen yang semakin inklusif dan terbuka. Di sesi presentasi “Pages of Asia”, IN/SECTS Publishing (JP), Sojanggak (KR), dan Grafis Nusantara (ID) juga memaparkan soal ekosistem publikasi cetak di negaranya masing-masing dan bagaimana skena publikasi independen di Asia dapat berjejaring dan berkembang. Di hari yang sama, Bumi Kardus juga mengadakan lokakarya “Daur Kardus” yang mempromosikan keberlanjutan. Hari kedua menghadirkan Copyright/Reserved dan Grafis Nusantara dalam gelar wacana “The Art Book Fair Experience” yang membahas pengalaman masing-masing inisiatif memamerkan karya cetaknya di art book fair di berbagai negara, dan pentingnya membangun jaringan dan mendistribusikan publikasi cetak. Dalam presentasi “The Sounds of Printed Matters”, Delpi Suhariyanto, Izhar Fathurrohim, dan Arsita Pindandita mengeksplorasi persimpangan dan titik temu publikasi dan musik; Arian13, Herry Sutresna, dan David Tarigan membawa memori ekosistem cetak di Indonesia pada dekade 90-an hingga 2000-an dalam sesi “Rekam Jejak Terbitan dan Budaya Cetak Independen 1990an-2000an”. Binatang Press! juga memperkenalkan langkah demi langkah merancang karya cetak di sesi lokakarya “Fundamentals in Print Planning”.
Hari ketiga Press Print Party diwarnai dengan presentasi “Words of Women” oleh Ula Zuhra, Intan Anggita Pratiwi, dan Bardjan yang membagikan proses kreatif, pengalaman, dan tantangan mereka sebagai perempuan dalam mengekspresikan suara melalui tulisan, dengan latar belakang yang berbeda. Guru Bumi, Yayasan Peduli Bumi, dan Noor H. Dee juga membahas peran penting orang tua dan praktisi kreatif dalam menumbuhkan minat anak-anak terhadap literasi. Tak hanya gelar wacana tentang anak-anak, Press Print Party juga menghadirkan lokakarya untuk anak-anak, “Cetak Rumah Tangga”, yang diinisiasi oleh rurukids. Sebagai bentuk hiburan, Press Print Party juga menampilkan para musik selektornya dalam sesi live DJ set setiap harinya.
Press Print Party yang pertama ini berhasil menjadi ruang temu para pelaku kreatif, tak terbatas latar belakang fokus topik, geografis dan budaya, serta praktik cetak. Berbagai kemungkinan kolaborasi dan silang karya pun terwujud—bersamaan dengan pertukaran pengetahuan soal berbagai ranah kreatif dan isu-isu yang ada di sekitar kita. Setiap harinya, pengunjung yang beragam datang silih berganti. Interaksi antar pengunjung dan tenant juga menjadi pemandangan yang umum, memantik diskursus dengan topik yang luas. Saat waktunya pulang, pengunjung pun membawa berbagai karya cetak ke rumahnya masing-masing. Press Print Party menciptakan memori pengalaman menarik dalam menikmati “pasar” karya cetak beserta ragam kegiatan yang mendukungnya. Mimpi inisiasi ini dalam menghadirkan ruang publikasi cetak yang inklusif pun secara jelas terwujud. Dengan berkembangnya ekosistem publikasi cetak di Indonesia, Press Print Party diharapkan selalu hadir setiap tahunnya, meluaskan jangkauannya ke daerah-daerah yang kini belum dipandang sebagai sentral kreatif.