Period Piece: Riar Rizaldi tentang Sinema dan Nostalgia Masa Depan


Ada sebuah bioskop di daerah Kopo, Bandung, yang dulu diesebut sebagai Pasundan Theatre. Dulu, tempat itu menayangkan film-film kelas B. Riar Rizaldi tumbuh bersama ruang pemutaran film tersebut. Dan dari ingatan terhadap ruang itu, lahirlah Period Piece, pameran museum pertamanya di Indonesia.

Ketika ditanya, Riar cepat-cepat menjauhkan diri dari label autobiografis. "Di karya ini saya menghindari autobiografi, autoetnografi, dan sebagainya. Bagi saya, bioskop bukan hanya nostalgia personal, tapi juga tempat yang memproduksi memori kolektif," katanya. Yang ia minati bukan kenangan pribadinya tentang bioskop Kopo, melainkan apa yang diwakili oleh ruang semacam itu sebelum ia hilang dari kehidupan kota. Sebuah tempat sosial di mana orang-orang bertemu dengan budaya gambar bergerak, sebelum televisi dan kemudian smartphone mengambil alih fungsi itu satu per satu.

Period Piece dipamerkan di Museum MACAN dan bergerak melalui tiga karya yang masing-masing mengambil periode berbeda tapi saling terhubung dalam satu pertanyaan besar: bagaimana gagasan tentang kemajuan selalu datang bersama sesuatu yang lain, sesuatu yang jarang disebutkan dalam narasi resminya.

Fanfictie: Volcanology (2025) bergerak di abad ke-19, menelusuri benturan antara ilmu vulkanologi kolonial Belanda dan kosmologi Jawa. Tropenkolder (2026), yang dikerjakan atas komisi Eye Filmmuseum Amsterdam, mengkaji film-film phantom ride dan pemogokan buruh kereta api tahun 1923. Dan Bioskop Asymptotic (2026), karya komisi baru untuk Museum MACAN, membayangkan ulang lobi bioskop Indonesia era 1990-an sebagai ruang di mana waktu seperti terhenti.

Riar menyebut semua ini dengan satu frasa: nostalgia masa depan. Kerinduan terhadap dunia yang pernah menjanjikan kemajuan, pengalaman kolektif, dan kehidupan yang lebih baik, tapi tidak pernah benar-benar sampai ke sana.

Mengapa bioskop? Mengapa sinema sebagai titik masuk?


Bagi Riar, jawabannya berkaitan dengan teknologi secara lebih mendasar. Ia menjelaskan bahwa teknologi sebagai pencapaian efisiensi hampir selalu bermula dari kepentingan militer. Tapi sinema berada di luar jalur itu. "Penting buat saya untuk membicarakan teknologi menggunakan kacamata sinema, karena, bagi saya, ia semacam akar teknologi yang non-militeristik," katanya. Teknologi layar abad ke-21 bisa ditarik mundur ke sejarah sinema itu sendiri, dan bioskop adalah titik di mana teknologi itu pertama kali bertemu dengan ruang sosial secara luas.

Tapi sejarah sinema juga tidak pernah netral. Riar menunjuk ke konteks kolonial dengan cara yang cukup spesifik. Dalam Tropenkolder, ia kembali ke tahun 1923, ke footage film yang dibuat oleh filmmaker Belanda dengan kamera yang diletakkan di atas kereta. Gambar-gambar itu memperlihatkan keindahan alam Hindia Belanda dalam bingkai yang rapi. Sementara di luar bingkai, di sisi-sisi rel itu, ada buruh-buruh yang bekerja dan sedang dalam proses mogok. "Bagaimana sejarah sinema tidak pernah netral. Bahkan sampai hari ini," kata Riar.

Ia juga menarik sebuah perbandingan antara sinema dan wayang. Keduanya menggunakan layar dan cahaya, luminositas dari lampu atau api. Tapi ada perbedaan mendasar: seluloid merekam realitas secara indikal melalui proses kimiawi, sementara wayang lebih mirip televisi, ada dimensi kelangsungan atau liveness di dalamnya, bukan memori yang bekerja. 

Perbandingan ini tidak ia buat untuk meromantisasi wayang sebagai "asli" versus sinema sebagai "asing," melainkan untuk membandingkan bagaimana tradisi gambar-bergerak melalui kerja mediasi layar sudah ada jauh sebelum sinema datang dibawa kolonial. Dengan menarik perbandingan ini, terlihat jelas upaya Riar untuk mempertanyakan ulang logika sinema modern yang hadir dari cara barat membangun sains dan teknologi.

Dalam Fanfictie: Volcanology (2025), Riar mengeksplorasi pertemuan antara sains kolonial Belanda abad ke-19 dan kosmologi atau pemahaman lokal tentang gunung berapi. Ceritanya berpusat pada sosok Franz Wilhelm Junghuhn, seorang ahli geologi dan naturalis Belanda yang karyanya dianggap merepresentasikan sains kolonial bertemu, dan juga berbenturan, dengan interpretasi spiritual dan filosofis masyarakat lokal mengenai alam. Dalam Instalasinya, Riar juga menampilkan kursi kayu bekas yang ia temukan di bioskop lokal di Padang beserta dua gunungan wayang yang berdiri di belakangnya.

zoom


Bioskop Asymptotic adalah karya yang paling langsung berhubungan dengan ingatan dan ruang. Sebagaimana karya-karya instalasinya yang berangkat dari bangunan set film, Instalasi ini merekonstruksi lobi bioskop era 1990-an, tapi Riar tidak ingin menyebutnya sekadar rekonstruksi nostalgis. "Saya selalu merasa pembangunan ruang di film itu semacam liminal space, ada tapi tidak ada secara bersamaan. Ada fisiknya, tapi bukan pengalaman ruang yang seharusnya."

“Liminal” adalah kata yang ia pinjam dari konsep non-place yang dicetuskan Marc Augé untuk menggambarkan perasaan aneh yang muncul ketika seseorang berada di ruang-ruang fungsional yang tidak memiliki ikatan sejarah, relasi sosial, atau identitas budaya. Lobi bioskop yang direkonstruksi itu adalah non-place dalam dua lapis sekaligus. Ia adalah replika dari ruang yang sudah tidak ada, dan ia berdiri di dalam galeri, sebuah konteks yang sama sekali berbeda dari fungsi aslinya.

Yang Riar minati dari nostalgia, dan ini ia tegaskan dengan cukup jelas, bukan yang sifatnya nasionalistis atau politis seperti yang sedang marak secara global. "Nostalgia yang lebih bersifat reflektif. Ada momen-momen di mana Anda merasa punya kedekatan dengan suatu periode sejarah, tetapi di saat yang sama Anda tidak ingin periode itu hadir kembali. Sesuatu yang meninggalkan perasaan janggal secara sensori," katanya.

Riar Rizaldi adalah seniman dan filmmaker yang sudah membawa karyanya ke MoMA New York, Centre Pompidou Paris, Venice Architecture Biennale, Berlinale, Locarno, IFFR, dan BFI London. Period Piece pada dasarnya adalah upaya Riar Rizaldi untuk mempersoalkan bagaimana Indonesia menerima dan mengolah modernitas dari luar. Pada kesempatan kali ini,  persoalan itu dihadirkan di rumah sendiri.

web-18
web-17
web-19
web-20
web-21
web-22
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.