Cerita Kota: Seni, Ingatan, dan Pertukaran di Singapore Art Week

Menegaskan posisinya sebagai pusat seni global, Singapura mengubah kotanya menjadi sebuah kanvas hidup bagi khalayak lokal maupun internasional melalui program selama satu minggu yang dikenal sebagai Singapore Art Week (SAW). Diselenggarakan dari tanggal 23 hingga 31 Januari, festival ini menghadirkan rangkaian pameran, pertunjukan, dan platform eksperimental yang padat, mewarnai kota dengan beragam ekspresi artistik. Inisiatif-inisiatif ini tidak hanya menghidupkan lanskap budaya Singapura, tetapi juga memperkuat daya tariknya sebagai destinasi internasional sekaligus pasar seni yang kian signifikan. Seperti yang disampaikan Guo Teyi, Direktur Singapore Tourism Board Leisure Events, “Skala dan jangkauan SAW yang terus berkembang memperkuat posisi Singapura sebagai destinasi yang dinamis untuk menemukan seni internasional dan Asia Tenggara. Kolektor seni, penggemar budaya, dan pengunjung datang bukan hanya untuk program-programnya, tetapi juga untuk merasakan perpaduan unik antara inovasi artistik dan gaya hidup kosmopolitan Singapura.”


zoom-1

Di tengah komitmennya untuk menyoroti seniman Asia Tenggara, SAW mengangkat pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai apa yang sebenarnya membentuk sebuah kolaborasi Asia Tenggara yang autentik. Tema-tema apa yang mendefinisikan kawasan ini, dan siapa saja yang dilibatkan—atau justru dikecualikan—dalam membentuk produksi seni Asia Tenggara? Salah satu pameran utama yang menanggapi pertanyaan ini adalah pementasan Asia Tenggara dari Wan Hai Hotel: Singapore Strait (diterjemahkan sebagai Lingkaran Laut), yang mengubah lobi Warehouse Hotel, sebuah bangunan warisan yang telah direstorasi. Dipresentasikan oleh ART SG bekerja sama dengan Rockbund Art Museum dari Shanghai dan dikuratori oleh X Zhu-Nowell, pameran ini menampilkan daftar eksklusif seniman Asia Tenggara. Melalui pendekatan spesifik-situs, pameran ini meleburkan batas antara ruang pameran dan perhotelan, serta menanamkan seni kontemporer ke dalam narasi sejarah dan komersial masa lalu maritim Singapura.

Menawarkan perspektif kuratorial yang berbeda, Isang Dipang Langit: Fragments of Memory, Fields of Now menampilkan seniman Filipina kontemporer yang praktiknya berakar pada ingatan, tempat, identitas, dan chapalang: istilah Filipina yang secara longgar dapat diterjemahkan sebagai “campur aduk.” Dikuratori bersama oleh Gunalan Nadarajan dan Roopesh Sitharan serta dikomisi oleh National Arts Council (NAC), presentasi ini menyelami persinggungan antara seni dan teknologi, serta menelaah bagaimana seniman Asia Tenggara menavigasi hibriditas, ketercerabutan, dan masa depan digital melalui bentuk-bentuk spekulatif dan eksperimental.


zoom-2

“Singapore Art Week lebih dari sekadar perayaan seni, ia merupakan bukti kekuatan transformatif kreativitas yang menghubungkan manusia, memantik wacana, dan membentuk kemungkinan-kemungkinan baru yang menarik,” ujar Tay Tong, Direktur Arts Ecosystem Group di NAC. Etos kolaborasi ini terasa kuat di seluruh program SAW. Proyek seperti Ground Loops, bagian dari SAW Open Call, mencerminkan semangat tersebut melalui kemitraan antara laboratorium riset berbasis di Singapura, Feelers, dan School for Poetic Computation dari New York. Dengan mempertemukan seniman dari Singapura dan New York, proyek ini memposisikan teknologi bukan sekadar sebagai alat, melainkan sebagai bahasa bersama bagi penyelidikan seni kontemporer. Sejalan dengan itu, Reworlding yang dikuratori oleh Debby Ding melanjutkan diskursus teknologi dengan menelusuri sejarah realitas virtual melalui praktik seniman perempuan kontemporer dari seluruh Asia, sekaligus menyoroti genealogi alternatif seni digital.

Secara kolektif, keberagaman program yang dihadirkan mewujudkan komitmen SAW terhadap kosmopolitanisme, keberagaman, dan multikulturalisme: bukan sebagai cita-cita abstrak, melainkan sebagai praktik nyata yang tertanam dalam strategi kuratorial dan kolaborasi lintas batas. Alih-alih menyajikan Asia Tenggara sebagai identitas yang tunggal atau statis, SAW menghadirkan narasi-narasi yang terfragmentasi, diperdebatkan, dan terus berkembang, yang mencerminkan kompleksitas kawasan ini. Dengan demikian, Singapura diposisikan bukan hanya sebagai kota tuan rumah, tetapi sebagai mediator kritis yang memfasilitasi dialog antara kekhususan lokal dan pertukaran global, serta antara tradisi dan futuritas teknologi. Melalui pertemuan-pertemuan berlapis ini, Singapore Art Week menegaskan kembali kapasitas seni untuk membayangkan masa depan budaya yang baru, sembari tetap berakar pada realitas tempat, sejarah, dan komunitas.


web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.