Museum MACAN Mengajak Kita Menyusuri Lanskap yang Bergeser

Di bawah tema besar Where Are We in Time: A Season Across Shifting Landscapes, Museum MACAN membawa kita ke berbagai lanskap dan lapisan waktu melalui pameran tunggal Riar Rizaldi, pameran grup Menelan Cakrawala, presentasi khusus oleh Marcos Kueh dan Dawn Ng, serta Ruang Seni Anak Museum MACAN Ruth Marbun: Beradu Padu. Dengan praktik dan medium yang berbeda, kelima presentasi ini seakan menawarkan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang memiliki kompleksitas masing-masing – membuka perspektif kita lebih luas lagi bahwa ada banyak hal yang terjadi di pergeseran yang begitu cepat hari ini.

zoom-1

Period Piece

Seniman dan pembuat film asal Indonesia, Riar Rizaldi, mempersembahkan pameran museum pertamanya di Indonesia, setelah menjalani karier internasional yang telah membawa karyanya ke MoMA, New York; Centre Pompidou, Paris; Venice Architecture Biennale; serta festival film bergengsi termasuk Berlinale, Locarno, IFFR, dan BFI London. 

Bekerja di persimpangan antara teknologi, sejarah kolonial, dan lanskap industri ekstraktif, Rizaldi menelusuri dalam Period Piece bagaimana gagasan kemajuan di Indonesia selalu terikat pada sistem kerja kolonial dan eksploitasi sumber daya alam; dari berkembangnya ilmu vulkanologi pada abad kesembilan belas, perkeretaapian dan sinema pada awal abad kedua puluh, hingga pengalaman layar dan ruang sosial yang terus berubah di masa kini.

Pameran ini berpusat pada Bioskop Asymptotic (2026), sebuah instalasi baru yang dikerjakan atas komisi Museum MACAN, yang membayangkan ulang lobi bioskop Indonesia era 1990-an sebagai ruang di mana waktu seolah terhenti secara spekulatif. Karya ini ditampilkan bersama Fanfictie: Volcanology (2025), yang mengkaji benturan antara ilmu pengetahuan kolonial Belanda dan kosmologi Jawa, serta Tropenkolder (2026), yang dikerjakan atas komisi Eye Filmmuseum, Amsterdam, dan menengok kembali film-film phantom-ride serta pemogokan buruh kereta api tahun 1923 untuk merenungkan sinema, buruh, dan kelambatan sebagai bentuk perlawanan terhadap akselerasi.

zoom-2

Menelan Cakrawala

Pameran grup ini dibuka dengan sebuah provokasi: cakrawala, terlepas dari tampilannya yang terlihat netral, sesungguhnya tidak sesederhana itu. Lama diperlakukan sebagai batas di mana darat, laut, dan langit bertemu, cakrawala sesungguhnya adalah medan yang dikonstruksi, tempat pengetahuan diproduksi, wilayah dibayangkan, dan kekuasaan dijalankan. Menghadirkan karya-karya modern dan kontemporer oleh Akiq A.W., Anselm Kiefer, Antoine A.J. Payen, Dede Eri Supria, Eddy Susanto, Franz Wilhelm Junghuhn, Heinz Mack, I Nyoman Masriadi, Ipeh Nur, Jan Daniel Beynon, Jean Dubuffet, Lang Jingshan, Moelyono, Raden Saleh, Robert Rauschenberg, S. Sudjojono, Thảo Nguyên Phan, Theaster Gates, Wakidi, dan Zao Wou-Ki, pameran ini menelusuri bagaimana lanskap diproduksi melalui budaya visual di berbagai rezim penglihatan. 

Inti historisnya adalah idiom Mooi Indië dari akhir abad kesembilan belas hingga awal abad kedua puluh di Indonesia kolonial, di mana penggambaran kepulauan yang serasi dan damai menutupi realitas sosial dan ekologis dari sistem perkebunan dan kerja paksa.

Tersusun dalam empat bagian: Exploration and Disguise; The Sky as Infrastructure; Unruly Landscapes; dan Contested Landscapes, pameran ini bergerak dari praktik pembentukan citra kolonial menuju masa kini, ketika keindahan terus berfungsi sebagai modus penyembunyian dalam sistem algoritmik pengawasan, ekstraksi, dan krisis ekologis. Melalui beragam medium dan praktik yang merentang berbagai skala waktu, karya-karya ini mempertanyakan bagaimana kekuatan-kekuatan yang membentuk masa lalu terus menghidupkan dan memperumit dunia hari ini.

zoom-3

Dawn Ng: Atlantis II

Dawn Ng, perupa multidisiplin asal Singapura, mempersembahkan sebuah rangkaian karya berkelanjutan yang dimulai pada tahun 2024. Inti dari praktik Ng adalah es – material paling fana yang tersedia di iklim tropis kota asalnya, Singapura, yang ia gunakan untuk merekam perjalanan waktu dari wujud menuju ketiadaan. Prosesnya sesederhana sekaligus semonumental ini: balok-balok es berpigmen, masing-masing berbobot hingga 80 kilogram, digantung di atas tumpukan kertas xuan Tiongkok. Seiring es yang perlahan mencair, pigmen turun meresap ke setiap lapisan, meninggalkan formasi-formasi cair yang menyerupai nebula yang melayang atau kepulauan yang luruh perlahan. 

Hingga saat ini, lebih dari 300 balok telah dirakit di studio sang seniman semata-mata untuk tujuan penghancuran diri. Disusun secara berurutan, panel-panel yang dihasilkan terbaca seperti gulungan film atau lapisan geologi – yang oleh Ng disebut sebagai "permadani waktu" – di mana setiap lapisan merekam tahap kemusnahan yang berbeda.

zoom-4

Marcos Kueh: Kenyalang Circus

Dipamerkan di bagian Sculpture Garden, Kenyalang Circus adalah proyek solo perupa tekstil asal Malaysia, Marcos Kueh. Bekerja di persimpangan antara tradisi tekstil vernakular dan budaya visual kontemporer, Kueh menghasilkan tapestri-tapestrinya melalui tenun digital industri yang mereproduksi simbol-simbol sakral Borneo – karya-karya yang hidup sekaligus mengkritisi bagaimana warisan budaya dipentaskan, dikomersialisasikan, dan dikonsumsi.

Pameran ini menyoroti tiga rangkaian karya. Instalasi monumental Kenyalang Circus: Nenek Moyang (2023) menerjemahkan kosmologi masyarakat adat di Borneo – di mana air terjun berfungsi sebagai peralihan antara alam manusia dan alam leluhur – ke dalam deretan spanduk tenun yang mengalir. Seri Woven Poster mengkaji bagaimana identitas-identitas budaya dibentuk melalui pariwisata dan sirkulasi kapital, sementara seri Kerbau mengeksplorasi simbolisme hewan sebagai lensa untuk merenungkan hierarki sosial, kerja, dan kekuasaan dalam masyarakat Malaysia.

zoom-5

Museum MACAN Children’s Art Space Ruth Marbun: Beradu Padu

Museum MACAN Children's Art Space mempersembahkan Beradu Padu karya Ruth Marbun, seorang seniman berbasis Jakarta yang praktiknya mengeksplorasi hubungan antara manusia, material, dan lingkungan mereka. Merespons paradoks kehidupan modern – di mana informasi berlimpah namun koneksi terasa semakin sulit dijangkau – proyek ini menciptakan ruang bernapas bagi anak-anak dan keluarga untuk merebut kembali perhatian, membuat sesuatu bersama, dan merayakan cerita-cerita yang mendekatkan kita satu sama lain.

Melalui praktik "kolase massal", pengunjung diundang untuk merangkai gambar-gambar cetak hitam-putih menggunakan selotip berwarna dan benda-benda sehari-hari, merajut cerita mereka sendiri ke dalam sebuah instalasi modular yang terus berkembang. Setiap kreasi personal kemudian disatukan dengan karya pengunjung lain menggunakan pengikat kabel, secara bertahap mengubah galeri menjadi lanskap kolektif yang hidup – bergeser dan meluas sepanjang pameran berlangsung. Penuh keceriaan namun juga diam-diam reflektif, Beradu Padu mencerminkan ketertarikan Marbun yang berkelanjutan pada ketangguhan hal-hal biasa dan pada ikatan-ikatan yang terbentuk ketika cerita-cerita individual disatukan menjadi sesuatu yang lebih besar.  Instalasi yang terakumulasi sepanjang proyek ini selanjutnya akan dikembangkan oleh sang seniman menjadi material arsip dan karya-karya di masa mendatang.

Menelan Cakrawala dibuka untuk publik hingga 5 September 2026. Riar Rizaldi: Period Piece, presentasi khusus Marcos Kueh: Kenyalang Circus dan Dawn Ng: Atlantis II, Ruang Seni Anak Museum MACAN Ruth Marbun: Beradu Padu dibuka hingga 4 Oktober 2026.

About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.