Museum DGI Y2K: Retrospeksi Ramalan Masa Depan yang Pernah Optimis
Buka aplikasi kamera di ponsel hari ini dan kita akan menemukan banyak filter yang meniru kamera digital tahun 2000-an. Warnanya agak pucat, kilatan blitz terlalu terang, dan tanggal berwarna oranye muncul di sudut foto. Di etalase toko, di unggahan OOTD (outfit of the day) pada linimasa media sosial, dan di sampul album musisi yang lahir setelah 2005, kilau krom, gradasi pelangi holografik, serta huruf yang berpendar dan diregang muncul lagi. Estetika yang dulu dianggap norak itu kini disebut Y2K, dan dirayakan oleh generasi yang tidak sempat mengalaminya.
Istilah Y2K sendiri mula-mula lahir dari kecemasan akan runtuhnya sistem komputasi menjelang pergantian abad. Kini ia dikenang lewat estetika yang memancarkan optimisme lugu terhadap masa depan. Dari kontras itulah Museum Desain Grafis Indonesia (Museum DGI) memulai Y2K: a Decade in Transition, pameran arsip desain grafis Indonesia tahun 1997 sampai 2009. Pameran ini menjadi bagian dari ADGI Design Week 2026, pekan desain yang diselenggarakan Asosiasi Desainer Grafis Indonesia (ADGI), organisasi yang dihidupkan kembali pada masa yang sama dengan periode yang dipamerkan. Berlangsung pada 14 hingga 25 Oktober 2026, pameran ini digelar di Melting Pot, lantai dasar ASHTA District 8, Jakarta Selatan.
Pengunjung menyusuri satu linimasa dan empat gugus artefak yang isinya majalah, buku, selebaran, flyer klub, hingga tangkapan layar forum dari masa awal internet. Keempat gugus itu bernama Reformasi dan Ledakan Ekspresi, Cara Baru Terhubung, Konsumsi dan Budaya Pop Baru, serta Alat Baru dan Estetika Baru.
Pameran ini meminjam nama Y2K, tetapi membacanya sebagai penanda zaman dan tidak berhenti pada kilau estetikanya. Frasa “a decade in transition” merujuk pada tahun-tahun ketika Indonesia berada dalam peralihan yang menakutkan sekaligus mendebarkan, dengan latar krisis ekonomi Asia dan kerusuhan yang mengguncang negeri. Keran kebebasan bersuara yang puluhan tahun nyaris tertutup mendadak dibuka deras. Masyarakat yang terbiasa menyensor diri sendiri harus belajar berbicara, berdebat, dan menyatakan pendapat di ruang publik yang jauh lebih terbuka. Hampir bersamaan, internet hadir sebagai infrastruktur baru, dan suara-suara baru bertemu dengan teknologi baru.
Perubahan itu tampak dalam angka maupun dalam benda. Pemilu 1999 diikuti 48 partai, padahal era Orde Baru hanya mengenal tiga. Judul buku, majalah, dan koran baru bermunculan. Televisi berkembang, portal berita mulai hadir, dan komunitas serta alternative space tumbuh di berbagai kota. Di dunia maya, forum, mailing list, dan situs personal membuka cara baru untuk bertemu dan membangun komunitas. Film, musik, fashion, periklanan, sastra, dan berbagai subkultur alternatif ikut menemukan ruang serta audiens baru.
Semua itu dikerjakan oleh orang-orang yang jarang disebut namanya, yakni pengarah artistik, desainer, pekerja komunikasi dan pemasaran, penerbit, fotografer, ilustrator, dan pembuat situs. Mereka menerjemahkan perubahan zaman ke dalam artefak yang kita lihat, baca, gunakan, dan konsumsi setiap hari. Desainer masa itu berdiri di sebuah ambang. Satu tangan masih memegang drawing pen, film separasi, dan hasil fotokopi, sementara tangan lainnya mulai belajar menggerakkan mouse. Perpaduan keterampilan analog dan komputer itu melahirkan masa coba-coba yang bergairah, dengan jejak yang canggung sekaligus berani pada karya visual saat itu.
Aulia Akbar, peneliti sekaligus co-curator pameran ini, menjelaskan bahwa ada keinginan untuk membandingkan dua masa. “Pameran ini berupaya memantik refleksi retrospektif dengan membandingkan fenomena estetika Y2K masa lalu dengan tren serupa yang kini tengah diadopsi oleh generasi baru,” ujarnya.
Menurut Aulia, perbandingan itu punya dasar di luar soal gaya visual. “Terdapat paralelisme kondisi sosio-politik antara era transisi akhir milenium (1998-2000) dengan situasi kontemporer,” katanya. Ia menunjuk gelombang ketidakpastian global dan disrupsi teknologi. Dahulu disrupsi itu berupa masuknya internet, kini berupa kecerdasan buatan, dan keduanya menuntut mekanisme adaptasi yang serupa.
Pengantar pameran menyampaikan hal yang senada. Hari ini kita hidup di masa depan yang dulu dibayangkan: internet ada di saku, akses informasi berada dalam genggaman, dan kita berinteraksi dengan akal imitasi dalam kehidupan sehari-hari. Namun tidak semua masa depan yang datang menepati janji optimismenya. Bersamanya hadir kenyataan distopis yang sebelumnya hanya kita kenal lewat novel dan film fiksi ilmiah. Kita pun kini hidup dalam masa transisi, hanya saja semuanya terasa berlangsung terlalu cepat, hampir tanpa jeda, dan menyisakan sedikit ruang untuk bernapas.
Mengumpulkan arsip dari periode ini ternyata tidak mudah. Aulia menyebut rentang waktunya sebagai tantangan pertama. “Proses kurasi pameran ini menghadapi tantangan besar karena merentang masa transisi (1997-2009), di mana para praktisi desain grafis dituntut bekerja secara hibrida antara teknik manual (sablon) dan digital (mouse),” tuturnya.
Tantangan kedua datang dari dokumentasi. Menurut Aulia, kurator menghadapi kendala akibat minimnya budaya pengarsipan budaya digital pada masa-masa awal internet. Kendala itu bertambah karena sebagian pemilik platform menghapus jejak digital, sehingga arsip sejarah yang tersedia makin sempit. Hal ini membuat tangkapan layar forum, yang kini dipajang di salah satu gugus, menjadi bahan yang sulit didapat.
Bagi Aulia, desain grafis punya kedudukan khusus dalam pameran ini. Ia menyebutnya sebagai “instrumen penanda zaman yang merekam secara otentik eksistensi serta dinamika sosio-kultural pada masa tertentu”. Pengarsipan itu juga ditujukan kepada para perancang masa kini. “Dokumentasi sejarah ini dihadirkan agar generasi perancang grafis kontemporer memahami bahwa profesi mereka memiliki akar sejarah yang panjang, alih-alih merasa hadir tanpa landasan historis,” kata Aulia.
Ia menambahkan konteks yang membedakan Indonesia dari negara lain. “Desain grafis di Indonesia tumbuh melalui upaya pencarian jati diri yang mandiri, berbeda dengan negara-negara maju yang arah perkembangannya ditopang oleh kebijakan kebudayaan (cultural policy) yang mapan,” ucapnya. Sejarah profesi ini, dengan kata lain, banyak ditulis oleh para praktisinya sendiri.
Dari sana percakapan beralih ke kondisi hari ini. Aulia mengingatkan bahwa jumlah institusi pendidikan Desain Komunikasi Visual (DKV) melonjak drastis hingga hampir 189 di Indonesia. Angka itu, menurutnya, menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai esensi dan kualitas praktiknya. Kekhawatirannya tertuju pada arah praktik tersebut. “Praktik desain grafis yang terjebak pada orientasi estetika semata dikhawatirkan hanya melayani siklus konsumsi, alih-alih mendorong perancang untuk berpikir kritis dalam merespons dan memperbaiki kondisi sosial,” katanya.
Pernyataan itu terasa relevan di tengah topik pamerannya sendiri. Y2K hari ini hadir sebagai estetika yang mudah dikenali dan mudah dikonsumsi. Pameran ini mencoba menunjukkan apa yang ada di balik estetika itu, yaitu orang, alat, dan keadaan yang membentuknya.
Selain pameran arsip, Museum DGI juga menampilkan A2Z of Y2K. Pameran ini menyatukan 26 desainer, dan masing-masing menafsirkan satu huruf alfabet melalui bahasa visual Y2K. Responsnya beragam, mulai dari tipografi yang berani dan bentuk eksperimental hingga optimisme digital dan masa depan yang dibayangkan. Bersama-sama, 26 huruf itu membentuk alfabet kolektif Y2K yang meninjau kembali cara sebuah generasi membayangkan masa depan, dan cara bahasa visualnya terus memengaruhi desain grafis saat ini.
Y2K hari ini adalah nostalgia yang dipinjam generasi yang tidak mengalaminya. Setiap generasi melakukan hal serupa, yaitu merayakan kembali masa lalu di generasi sebelumnya sambil membayangkan masa depan versinya sendiri. Budaya retro 1960-an dan 1970-an dirayakan generasi milenial pada dekade 1990-an, dan imaji futuristik memenuhi budaya populer pada 1950-an.
Museum DGI mengajak pengunjung berhenti dan menengok tempat kita berangkat. Tujuannya meminjam nostalgia estetik sekaligus keberanian, optimisme, dan humanisme yang dulu membuat orang percaya bahwa masa depan layak dibayangkan. Pertanyaan yang ditinggalkan pameran ini sederhana: kita sudah tiba di masa depan, dan masa depan seperti apa yang masih berani kita bayangkan?