MEGURU: Kanoko Takaya dan Rangkaian Keputusannya
Semarang Gallery Jakarta membuka pameran tunggal seniman asal Kyoto, Kanoko Takaya, bertajuk MEGURU. Pameran ini berlangsung sejak 25 Juli hingga 27 September 2026, menampilkan karya-karya terbaru Kanoko yang lahir dari proses panjang eksplorasi bentuk, material, warna, dan komposisi. Kurasi pameran ditangani oleh Nimas Selu Yasmine.
Judul Meguru diambil dari bahasa Jepang, 巡る, yang berarti sesuatu yang terus berputar dan berulang. Bagi Kanoko, meguru menggambarkan cara ia memahami hidup dan proses berkarya sekaligus, sebuah siklus di mana setiap pengalaman membuka hubungan baru, dan hubungan itu kembali menjadi titik berangkat bagi pengalaman berikutnya.
Cara kerja Kanoko dimulai dari sketsa. Dari titik itu, karya berkembang melalui serangkaian keputusan mengenai material, warna, dan komposisi yang diambil sepanjang proses berlangsung. Yang menarik dari pendekatan ini adalah bagaimana satu keputusan tidak pernah berdiri sendiri. Setiap pilihan membuka pertimbangan baru yang kemudian memengaruhi pilihan berikutnya, sampai seluruh elemen dalam karya menemukan keterkaitannya satu sama lain.
Teks kuratorial menuliskan pertanyaan yang menjadi dasar pembacaan pameran ini, "Can every decision we make truly stand on its own?" Pertanyaan itu relevan ketika melihat cara Kanoko bekerja. Ia tidak merancang karya dengan rencana yang sudah selesai di kepala sejak awal. Ia mengamati, membiarkan bentuk berkembang, dan mengikuti arah yang muncul dari proses itu sendiri.
Menurut Takaya, dalam proses membentuk sebuah karya, muncul sebuah sensasi seolah-olah tubuh secara tidak sadar sedang mencari “tempat yang nyaman”. Ketika tidur berdampingan dengan seseorang, menyandarkan tubuh di sofa, atau ketika menyilangkan jari-jari tangan, kita secara alami menggeser, menekan, dan menyesuaikan tubuh hingga menemukan posisi yang terasa tepat. Bagi Takaya, gerakan-gerakan tubuh yang begitu sederhana dan sehari-hari tersebut kemudian dapat ia temukan kembali dalam bentuk-bentuk karyanya ketika ia melihatnya kembali setelah proses penciptaan selesai.
Garis-garis lengkung yang lembut dan berkesinambungan, lekukan yang melahirkan tonjolan dan cekungan, serta bentuk-bentuk yang saling bertumpuk atau bersandar satu sama lain, membawa jejak sensasi yang muncul ketika tubuh menyentuh, bergerak, dan melakukan penyesuaian.
Takaya mencari bentuk melalui dialog dengan material, melalui tindakan-tindakan fisik seperti menyentuh, menekan, mengikis, membungkus, menjahit, menumpuk, dan menghaluskan. Resistensi dan kelembutan material, berat, tekstur, serta respons yang muncul pada setiap momen menjadi bagian dari gerakan dan keputusan berikutnya.
Sikap ini terutama terlihat dalam karya-karyanya yang menggunakan resin. Takaya secara sadar menyerahkan sebagian proses penciptaan pada kemungkinan dan kebetulan, tanpa sepenuhnya mengendalikan perubahan dan ketidakteraturan yang muncul di dalam lapisan resin. Dengan membiarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi antara material dan proses penciptaan tetap hadir di dalam karya, waktu yang dihabiskan dalam proses tersebut turut berlapis bersama tindakan dan perubahan yang terjadi.
Karya-karya Takaya dalam MEGURU menghadirkan bentuk yang mengingatkan pada tubuh manusia, bunga, dan unsur organik lain. Ketertarikan Kanoko pada kedekatan struktur bunga dan tubuh manusia disebutkan secara eksplisit dalam teks kuratorial. Bunga tumbuh dari satu titik pusat, dengan batang, kelopak, dan putik yang muncul sebagai bagian dari satu kesatuan. Tubuh manusia terbentuk lewat hubungan antara kepala, badan, tangan, dan kaki yang masing-masing berkontribusi pada keberadaannya. Dari pengamatan sederhana ini, Kanoko melihat bunga dan tubuh sebagai dua bentuk kehidupan yang sama-sama tumbuh dan membangun relasi dengan dunia di sekitarnya.
Material yang digunakan Kanoko dalam pameran ini turut memperlihatkan perhatiannya pada karakter tiap bahan. Kanvas yang dijahit, stone powder, serat kelapa, dan resin menjadi material utama, masing-masing dengan sifat dan tekstur yang berbeda, namun dibiarkan berkembang bersama hingga membentuk susunan yang terasa utuh.
Pengalaman menonton karya Kanoko juga tidak berhenti pada satu pembacaan. Perhatian penonton bisa berpindah dari satu elemen ke elemen lain, lalu kembali lagi dengan cara pandang yang berbeda. Setiap pergeseran perhatian membuka relasi baru yang memperkaya pemahaman atas karya tersebut, sejalan dengan gagasan meguru sebagai sesuatu yang terus berputar dan tidak pernah benar-benar selesai.
Kanoko sendiri mulai serius menekuni proses pencarian jati diri lewat karya sejak pindah ke Bali pada 2016. Dari sana ia mulai memperluas penggunaan material dalam prakteknya, sekaligus berupaya melampaui batas antara lukisan dan patung lewat eksperimen dan teknik yang tidak konvensional. Karya-karyanya dikenal lewat lekukan dan tekstur yang membangkitkan asosiasi dengan tubuh manusia, memberi kesan akrab dan intim bagi siapa pun yang melihatnya.