MALIQ & D’Essentials Menangkap Rasa dan Fenomena dalam Visual Album Can Machines Fall In Love?

MALIQ & D’Essentials merilis album kesembilannya yang bertajuk Can Machines Fall In Love? pada tanggal 30 Mei 2024 lalu. Setelah melewati sesi workshop selama satu tahun sejak Juni 2023, MALIQ & D’Essentials meluncurkan tujuh lagu, termasuk dua single yang menarik perhatian banyak orang yaitu “Kita Bikin Romantis” dan “Aduh”. Tak hanya lagu-lagu indah dari MALIQ & D’Essentials, visual untuk sampul album Can Machines Fall In Love? juga menjadi perbincangan—memantik rasa ingin tahu akan apa yang dibicarakan oleh MALIQ & D’Essentials ketika kita membahas soal mesin dan perasaan jatuh cinta yang cukup kontradiktif.

Dimasz Joey, Creative Director MAD Haus, bercerita kepada Grafis Masa Kini bahwa setiap tahunnya, MALIQ & D’Essentials dan tim selalu mencari premis untuk apa yang ingin mereka sampaikan lewat musik dan aktivasi di sekitarnya. Kilas balik tahun lalu, MALIQ & D’Essentials merayakan 20 tahun perjalanannya di dunia musik—menandakan banyaknya momen kita yang dilalui bersama dengan karya dari grup ini seperti saat jatuh cinta untuk pertama kali, menemukan cinta sejati, menikah, hingga berkeluarga. Menurut Joey, selama dua dekade, MALIQ & D’Essentials menemani naik turunnya hidup para pendengar, terlebih soal percintaan. Kesadaran tersebut mendorong MALIQ & D’Essentials untuk kembali merayakan cinta yang dibagi bersama para pendengarnya. “Penciptaan lagu MALIQ & D’Essentials melekat pada momen-momen banyak orang, terutama soal cinta. Metode kami adalah menangkap momen dan perasaan yang saat itu anak-anak MALIQ & D’Essentials rasakan. Kami coba rangkum semua itu dalam sebuah album, exhibition, hingga konser,” cerita Joey. Album Can Machines Fall In Love? merupakan buah manis dari konser dua dekade MALIQ & D’Essentials tahun lalu. “Ternyata waktu mereka (MALIQ & D’Essentials) bikin-bikin lagu, momen dan perasaan mereka itu lagi saling romantis satu sama lain setelah konser tahun lalu. Perasaan dan momen tersebut di-capture lewat lagu, makanya proses penciptaan lagunya itu sangat natural.”

Di tengah perasaan penuh cinta, ada satu hal yang menjadi perhatian MALIQ & D’Essentials dan akhirnya menjadi premis untuk album Can Machines Fall In Love? beserta visualnya. Fenomena AI yang semakin mengambil alih banyak sektor dalam keseharian manusia menjadi keresahan tersendiri bagi MALIQ & D’Essentials dan tim. “Secara premis, waktu itu kita ngobrol dengan satu partner di MAD Haus yang adalah orang AI (Artificial Intelligence). Ya, AI secanggih itu, dia bisa bikin apapun, tapi ada satu yang tidak bisa dia bikin yaitu rasa. Kami merasa, menciptakan sesuatu dari rasa merupakan keunggulan MALIQ & D’Essentials,” ungkap Joey. Dalam prosesnya, MALIQ & D’Essentials juga melihat kembali perjalanan mereka menciptakan lagu. Mulai dengan campur tangan teknologi sederhana hingga secanggih saat ini, lagu MALIQ & D’Essentials tetap melekat di hati pendengar lintas generasi. Joey menegaskan, “Berarti ini bukan soal teknologi. Ya, teknologi sebagai elemen yang membantu saja. Ingredients utamanya adalah MALIQ & D’Essentials itu sendiri.”

Zoom-1

Menerjemahkan rasa dan fenomena AI ke dalam visual tentu menjadi tantangan sendiri, mengingat dua hal tersebut hingga saat ini dinilai berseberangan. Langkah pertama yang dilakukan oleh MALIQ & D’Essentials dan tim adalah mencari seseorang yang mampu menerjemahkan konsep tersebut. “Kita dari dulu cocok banget dengan Anton Ismael. Dia jago foto komersial, tapi yang bikin dia istimewa adalah dia selalu bilang ‘Guecapture momen bukan modelnya’,” cerita Joey. Setelah perancangan ide dengan Anton Ismael, seorang fotografer senior, MALIQ & D’Essentials memutuskan untuk membuat satu sampul album yang sederhana dan apa adanya, namun mampu menyampaikan konsepCan Machines Fall in Love? yang adalah kaleidoskop momen-momen berharga MALIQ & D’Essentials dalam satu rasa. “Anton Ismael akhirnya meng-capture satu komputer saja. Kalau bicara soal ‘mesin’ pastinya kita kepikiran komputer. Kami juga bikin tanpa adabeauty shot karena maununjukinMALIQ & D’Essentials yang apa adanya. Kami pakai komputer lama yang masih tabung karena anak-anak (MALIQ & D’Essentials) memang suka hal-halvintage yang punya desaintimeless,” jelas Joey. Konsep desainmid-century juga menjadi inspirasi besar untuk visual album ini.

Joey menceritakan bahwa proses kreatif di balik pembuatan visual sampul Can Machines Fall In Love? bersama Anton Ismael sangat menyenangkan karena sedari dulu MALIQ & D’Essentials percaya dengan karya-karya yang dihasilkan oleh fotografer yang akrab disapa Pak’e tersebut. “Pak’e selain fotografer dan seniman yang luar biasa, dia juga adalah pendengar yang baik. Dia tidak pernah mengedepankan egonya. Jadi, dia menyerap obrolan dengan MALIQ & D’Essentials dan mencari tahu kenapa kita menginginkan konsep tersebut,” ungkap Joey. Memiliki kemampuan menerjemahkan narasi ke dalam bentuk foto, Anton Ismael berhasil menggabungkan fenomena AI dengan perasaan cinta ke dalam satu foto yang sederhana; sebuah komputer tabung dengan efek lawas dan tipografi bertulisan Can Machine Fall In Love? “Visual sederhana seperti itu adalah treatment yang paling dekat dengan perasaan dan momen MALIQ & D’Essentials sekarang,” kata Joey.

MALIQ & D’Essentials sedari dulu selalu menjadi grup musik yang peduli dengan desain rilisan hingga produk-produk yang ditawarkan pada pendengar. Joey menjelaskan bahwa sebagai musisi, MALIQ & D’Essentials percaya dengan dua kata kunci yaitu everlasting dan generational connection. MALIQ & D’Essentials ingin musiknya juga dapat diminati lintas medium. Salah satu gebrakan artistik lainnya yang diluncurkan MALIQ & D’Essentials dalam merayakan Can Machines Fall In Love? adalah hearing session di dalam pameran visual yang digelar di ASHTA hingga 9 Juni lalu. “Kami sadar bahwa kami punya pendengar lama yang sudah satu dekade lebih mengenal MALIQ & D’Essentials, tapi juga ada generasi baru yang sering berpikir ‘Ini MALIQ & D’Essentials band apa?’” cerita Joey. Dari keresahan tersebut, MALIQ & D’Essentials dan tim percaya bahwa memberikan pengalaman mendengarkan dan melihat perjalanan dua dekade MALIQ & D’Essentials di dunia musik dapat membantu publik mengenal grup ini lebih baik. “Dengan exhibition, pendengar sama-sama punya pengalaman mengenal MALIQ & D’Essentials. So far, the exhibition is working. Ada hampir satu juta orang yang datang ke sana dan merasakan emoi berbeda saat dengar lagu MALIQ & D’Essentials atau lihat perjalanannya; ada yang nangis, senyum-senyun, tertawa,” kata Joey. Desain pameran perpanjangan dari album Can Machines Fall In Love? ini dibantu oleh Studiowoork, studio desain yang selalu ada di balik rancangan produk atau aktivasi MALIQ & D’Essentials. 

Selain pameran, MALIQ & D’Essentials juga menawarkan merchandise dengan desain yang juga timeless dan sederhana. “Kita suka yang minimalis aja. Desain polos dengan satu tipografi MALIQ & D’Essentials dan judul album,” kata Joey. Bagi Joey, merchandise MALIQ & D’Essentials sendiri punya ikatan yang kuat dengan para penggemarnya. “Mereka ingin kasih tahu identitas mereka melekat banget sama MALIQ & D’Essentials. Itu yang ingin kita bangun juga di merchandise ini.” 

Desain memiliki peran yang cukup besar dalam perjalanan MALIQ & D’Essentials di industri musik selama dua dekade terakhir. Joey mengatakan bahwa MAD Haus, “rumah” kolaborasi MALIQ & D’Essentials, merupakan kepanjangan dari (M)usic, (A)rt, dan (D)esign. Tiga pilar tersebut tidak dapat dipisahkan—seperti ungkapan Joey bahwa MALIQ & D’Essentials bergerak dengan tiga pilar tersebut. “Dari dulu, desain selalu jadi bagian penting bagi MALIQ & D’Essentials. Pendekatan MALIQ & D’Essentials dengan desain bisa dilihat dari perkembangan visual albumnya dari waktu ke waktu. Penerapan desain yang baik terus kami lanjutkan hingga sekarang karena itu membantu membentuk karakter MALIQ & D’Essentials,” kata Joey. Sebagai grup musik, MALIQ & D’Essentials juga ingin karya-karyanya dapat dinikmati oleh semua panca indra, termasuk penglihatan. “Kami percaya, rasa itu bisa ikut tersampaikan kalau mata juga ikut merasakan sesuatu. Five senses itu yang kami coba implementasikan. Kita juga cenderung judge sesuatu dari visualnya. Maka, desain yang baik akan membantu pendengar memproses karya-karya MALIQ & D’Essentials,” lanjutnya. Ke depan, MALIQ & D’Essentials akan menawarkan gebrakan visual lain saat pendengar menyaksikan konser besarnya di sepuluh kota di Indonesia. “Kalau orang nonton konser, pasti melihat key visual yang musik banget, kayak orang main gitar. Kami enggak suka itu. Kami mau feel yang dibangun saat orang melihat visual konser seperti melihat pameran,” kata Joey, menutup pembicaraan. MALIQ & D’Essentials akan segera mengumumkan tanggal tur album Can Machines Fall In Love? di berbagai kota di Indonesia.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
Slide-6
Slide-5
Slide-7
Slide-8
Slide-9
Slide-10
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.