Kei Imazu: Penenun Catatan Masa Lalu
Ruang pameran Museum MACAN bertransformasi menjadi ruang naratif yang mengalir selayaknya gelombang waktu. The Sea is Barely Wrinkled, pameran tunggal pertama Kei Imazu di museum ini, menarik pengunjung ke lautan catatan non-linear masa lalu–perihal kolonialisme, lingkungan, dan mitologi–yang ditenun lewat karya-karya puitis nan politis. Di tengah lekuk representasi visual dari Nyi Roro Kidul, kami duduk dan berbincang dengan Kei Imazu tentang kekaryaannya–tentang pandangannya.
Kei Imazu (l. Jepang, 1980) adalah perupa asal Jepang yang kini berkarya di Bandung, Indonesia. Sejak awal, ia dikenal dengan praktik seni yang memadukan teknik artistik tradisional dan teknologi digital untuk menggali sejarah secara non-linear; di mana ingatan, kekuasaan, dan fragmen-fragmen tempat saling bertaut. Sejak pindah ke Bandung pada 2018, Kei memperluas penelitiannya, melintasi batas temporalitas dan geografi, dengan keterlibatan mendalam pada warisan kolonial dan transformasi lingkungan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia.
Dalam karya-karyanya, Kei membalut kedua isu tersebut dengan bumbu mitologi lokal karena baginya narasi yang tumbuh di tengah masyarakat merupakan pintu untuk menggali relasi antar manusia, sejarah, dan alam. Seperti keberadaan Nyi Roro Kidul yang menyambut pengunjung pameran–menandakan kekuatan alam dan spiritualitas yang mampu menandingi ambisi kolonial. Nyi Roro Kidul sendiri merupakan sosok penguasa laut selatan Jawa dan diposisikan sebagai simbol pengimbang kekuatan duniawi.
“Saya melihatnya sebagai representasi alam yang bisa mengalahkan ambisi manusia,” ujar sang seniman.
Permainan simbol ini semakin kuat ketika kami berpindah ke tengah ruangan: tengkorak dan kapal dagang era Batavia milik VOC yang berlayar dari Amsterdam tahun 1628 menuju Batavia, beserta reruntuhnya. Tenggelam di perairan Australia pada Juni 1629, kapal tersebut tak pernah sampai ke tujuannya–apa yang dirancang sebagai simbol kemegahan kolonialisme, justru menjadi monumen kegagalan.
“Mungkin ini seperti bentuk karma,” ucap Imazu. “Mungkin alam sedang marah pada keserakahan manusia.”
Melalui lukisan Jakarta yang tenggelam, Kei tidak hanya bicara tentang krisis iklim atau kesalahan urbanisasi hari ini. Ia menunjuk langsung pada sejarah pembangunan kota yang cacat sejak awal. “VOC tidak pernah merancang kota ini untuk rakyatnya. Mereka hanya ingin mengambil sumber daya. Akibat dari keserakahan itu baru kita rasakan sekarang.”
Sebagai seniman, Kei menyandingkan fakta sejarah dan mitos dengan puitis–sebuah praktik yang menjadi ciri khasnya. Bagi Kei, dalam irisan antara keduanya kita, sebagai manusia, bisa menemukan sudut pandang baru terhadap sejarah.
Terkoneksi dengan dua latar budaya yang berbeda namun memiliki keterikatan sejarah yang kuat, Kei turut menggali masa pendudukan Jepang di Indonesia. Bisa dibilang, ini adalah pemantik keresahan Kei terhadap pengarsipan sejarah. Dalam prosesnya, Kei menemukan bahwa akses terhadap sejarah Indonesia banyak dibatasi–tak sedikit arsip dan dokumen penting tentang negara ini tersimpan di Belanda, alih-alih di rumahnya sendiri. “Kalau kita telusuri dua abad terakhir sejarah Indonesia, semua arsipnya ada di sana,” ujarnya. “Dan itu pun ditulis dari sudut pandang Belanda.”
Pertanyaan besar pun muncul di benak Kei–tentang siapa penulis sejarah, siapa yang dilupakan? Kei, yang tertarik pada peta-peta kuno buatan kolonial, menyadari bahwa arsip sejarah sering kali tidak netral. “Peta-peta itu dibuat untuk menemukan lokasi perkebunan; sebuah alat untuk eksploitasi,” tegas Kei. “Bukan untuk masyarakat lokal, bukan untuk kita.” Di waktu yang sama, masyarakat Indonesia memiliki tradisi lisan yang kuat; cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut, generasi ke generasi. “Saya ingin menunjukkan bahwa itu juga merupakan bentuk pengarsipan,” kata Kei. “Tidak semua arsip harus berbentuk dokumen tertulis. Mitos, cerita rakyat, pengalaman; itu semua bagian dari sejarah yang sah.”
Melalui pendekatan multidisipliner, Kei menggabungkan teknik tradisional dan teknologi digital untuk menciptakan visual yang kompleks–layaknya kolase yang hidup. Proses ini memungkinkan sang seniman untuk menavigasi sejarah secara non-linear–lompat dari satu abad ke abad lain, dari mitos ke dokumen, dari cerita rakyat ke peta kolonial yang presisi. Semuanya dirangkai dalam lapisan-lapisan visual yang padat, namun tetap hangat–mengingatkan pada sentuhan ibu. Ke depannya, Kei ingin memperluas praktiknya ke medium baru, termasuk suara, untuk menuturkan sejarah dengan caranya sendiri. “Saya ingin bereksperimen dengan bunyi. Mungkin suara bisa jadi cara baru untuk merasakan sejarah,” katanya.
Di luar aspek sejarah dan teknis, praktik artistik Kei juga menyentuh ranah identitas. Sebagai perempuan Jepang yang kini tinggal di Indonesia, Kei menyaksikan perbedaan besar dalam lingkungan kekaryaannya. Bagi Kei, lingkungan Indonesia lebih ramah kepada seniman perempuan. Kei juga menyebutkan tokoh-tokoh perempuan Indonesia seperti Kartini sebagai figur yang membentuk pandangannya terhadap peran perempuan dalam sejarah. “Perempuan di Indonesia itu hebat. Thumbs up!” ucapnya dengan gaya khas yang jenaka namun penuh makna.
Dalam perjalanan kekaryaannya, Kei Imazu menjembatani kesenjangan antara arsip dokumentasi kolonial dan cerita lisan dari penutur lokal. Lewat karya-karyanya, Kei menawarkan ruang terbuka bagi kita untuk bertanya: sejarah siapa yang sedang kita percayai?