Joyfull Studio: Cerita Rasa Tiga Dimensi


Joyfull Studio lahir pada 2023 dari kegelisahan yang sederhana. Romy Tomyando melihat banyak brand ingin tampil premium, tetapi belum menemukan partner kreatif yang mampu menggabungkan penceritaan, detail artistik, dan teknologi 3D secara maksimal. Dari titik itu, ia mulai merancang sebuah studio yang berfokus pada kualitas visual, riset, dan eksekusi yang presisi. “Keinginannya sederhana, membuat karya visual yang bukan hanya bagus, tapi juga punya rasa,” ujarnya.

Dalam proses pembentukannya, Joyfull Studio tidak dibangun sendirian. Bersama Ageng Dewa sebagai Producer, Lalu Arif Akbar di 3D Animation, Jesica sebagai Project Manager, dan Zulian di Motion Design, Romy merumuskan visi bersama. Mereka ingin membangun studio yang peka terhadap detail, berani bereksperimen, dan konsisten mendorong standar kerja di industri kreatif. Kesamaan visi itulah yang menjadi fondasi awal Joyfull Studio hingga hari ini.

Ketertarikan Romy pada dunia visual sudah muncul sejak usia dini. Ia memulainya dari melukis, mengeksplorasi sketsa, gestur, warna, dan tekstur melalui cat minyak dan akrilik. Dari proses itu, ia belajar bagaimana emosi dapat hadir lewat sapuan dan komposisi. Pada saat yang sama, fotografi memperluas caranya melihat dunia. Ia memotret lanskap pesisir di Bintan, lalu beralih ke fesyen dan minat insani. Cahaya, emosi, dan komposisi nyata menjadi pelajaran penting dalam perjalanannya.


Keinginan untuk membawa seluruh fondasi visual itu ke medium yang lebih luas membawanya berkuliah di Institut Kesenian Jakarta, jurusan perfilman, dengan fokus pada penyutradaraan. Di sinilah pengalaman melukis dan fotografi terasa saling mengisi. “Semua pengalaman sebelumnya seperti menemukan tempatnya dalam penceritaan visual,” ujarnya. Dari sana, Romy mulai serius mendalami bidangnya terutama di ranah komersial.

Awal kariernya banyak bersentuhan dengan industri periklanan media sosial. Ia mengerjakan video komersial untuk brand lifestyle, olahraga, dan consumer goods. Ia juga terlibat dalam berbagai kampanye digital dan kebutuhan konten media sosial untuk UMKM. Pengalaman ini membentuk cara pandangnya terhadap visual yang harus relevan, cepat, dan tetap komunikatif. Fondasi tersebut kemudian menjadi nilai penting Joyfull Studio, menggabungkan kualitas visual yang terjaga dengan pemahaman terhadap ritme ekosistem digital.

Seiring berjalannya waktu, Romy melihat kebutuhan visual brand semakin kompleks, terutama pada ranah animasi tiga dimensi (3D) dan visual premium. Perubahan ini mendorongnya mendalami dunia 3D secara lebih serius, mulai dari material, cahaya, simulasi, hingga cara membangun visual produk yang terasa sinematik dan aspiratif. Dari gabungan pengalaman penyutradaraan, komunikasi brand, dan kemampuan teknis inilah Joyfull Studio akhirnya dibentuk sebagai mitra kreatif bagi brand yang ingin tampil berbeda.

Dalam mengeksekusi sebuah proyek, Joyfull Studio bekerja dengan proses yang terstruktur namun tetap memberi ruang improvisasi. Tahap awal selalu dimulai dengan memahami brand, audiens, dan tujuan komunikasi. “Ini tahap paling penting,” kata Romy. Dari situ mereka mencari sudut pandang yang membedakan karya tersebut dari visual lain di kategori yang sama. Proses berlanjut ke tahap konseptual melalui moodboard, eksplorasi gaya, dan key visual. Setelah konsep terbentuk, masuk ke pra-produksi dengan storyboard dan treatment detail, lalu ke tahap produksi yang melibatkan modeling, texturing, lighting, simulasi, animasi, hingga rendering. Tahap akhir ditutup dengan pasca produksi, termasuk editing, color grading, dan sound design, untuk memastikan karya terasa utuh dan konsisten dengan visi awal.


Salah satu proyek paling menantang bagi Joyfull Studio adalah iklan Wardah Retinal. Wardah ingin menghadirkan pendekatan visual yang belum pernah mereka gunakan sebelumnya. Mereka membayangkan sebuah laboratorium futuristik yang gelap, minimalis, dan modern, dengan nuansa yang lebih dekat ke dunia fashion avant-garde. Proses riset dan eksplorasi visual berjalan intens karena tim diminta menciptakan dunia yang tetap ilmiah, namun tetap stylish dan premium. Tantangannya meliputi penciptaan material yang terasa sains sekaligus estetis, permainan pencahayaan dark-lux, serta menjaga karakter Wardah tetap hadir dalam atmosfer visual yang baru. “Ada rasa takut dan deg-degan, tapi justru di situ kami menguji batas,” ujarnya. Dari proyek ini, Joyfull Studio belajar bahwa keberanian mengambil risiko sering kali membuka kemungkinan baru yang berharga.

Ke depan, Joyfull Studio ingin berkembang sebagai studio yang tidak hanya memproduksi visual premium, tetapi juga menjadi partner strategis bagi brand. Fokus mereka meliputi penguatan identitas visual, pengembangan sistem produksi yang efisien, kolaborasi dengan brand lokal dan internasional, serta perluasan layanan ke product video high-end, 3D cinematics, dan brand world-building. Di saat yang sama, mereka juga membuka kemungkinan pengembangan IP visual dan riset kreatif.

Bagi Joyfull Studio, perjalanan kreatif tidak dimulai dari menunggu kesempatan. “Karya mendahului reputasi,” kata Romy. Konsistensi, keberanian bereksperimen, dan perhatian pada detail menjadi cara mereka membangun karakter visual. Dengan keyakinan bahwa keterbatasan dapat melahirkan gaya yang otentik, Joyfull Studio memilih untuk membangun pintu-pintunya sendiri melalui karya yang relevan dan punya posisi yang jelas.

web-18
web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.