James Jean: Dalam Tuturannya Sendiri
Menjelang pembukaan pameran Sintila di Baik Art Gallery, Grafis Masa Kini berkesempatan untuk menghadiri sesi bincang James Jean di Museum MACAN dan mengadakan wawancara dengannya. James Jean berbicara tentang perjalanan pribadinya dalam merangkul sejarah kreatif serta identitasnya sebagai seniman diaspora serta fase praktiknya yang kaya dan bagaimana itu berparalel dengan seniman-seniman Asia lainnya. Ia juga menceritakan tentang proses organik dalam berkarya dan pentingnya untuk bergerak dari intuisi.
GMK: Apa yang memicu Anda untuk mencari paralel dengan seniman lain?
James Jean: Saya percaya bahwa karya saya hanya ada dalam konteks seni yang sudah tercipta (di sekitar). Saya selalu mencintai seni—yang menciptakan obsesi saya untuk terus-menerus melihat dan mempelajari karya seni. Mungkin pertanyaan Anda mengarah pada fakta bahwa sebagian karya saya memiliki kemiripan dengan banyak seni historis, dan koneksi yang saya temukan secara tidak sengaja? Nah, pengenalan seperti ini sebenarnya fenomena yang relatif baru, karena saya baru menyadarinya setelah sudah lama berkarya.
Terutama dengan ukiran-ukiran seperti Areldur, dan bahkan figur budaya tertentu seperti Sho Ji Pi-Li dari karakter Sunflower yang saya bikin, orang lain suka menemukan koneksi yang sangat mengejutkan dan menarik dalam karya-karya ini. Saya merangkul persamaan itu karena hal tersebut menunjukkan bahwa apa pun yang Anda ciptakan tidak pernah berdiri dalam ruang hampa, melainkan berada dalam kesinambungan kreativitas.
GMK: Saya menanyakan ini karena saya merasa untuk mencapai fase “ini” dalam praktik seni Anda, kita harus melalui semacam “kematian ego”—menjauh dari identifikasi diri yang berlebihan (overidentification with self) dengan karya—untuk bisa menerima keselarasan atau kemiripan dalam karya dengan seniman. Apakah Anda melihat diri Anda sebagai bagian dari leluhur budaya kreativitas ini, dan apakah Anda merasa lebih dekat, atau jadi bagian antara seniman Asia-Amerika atau diaspora Asia?
James Jean: Saya rasa lebih dekat dengan praktik seni dari diaspora Asia yang lebih luas, karena keadaan saya mencerminkan fenomena modern yang sedang dihadapi banyak orang saat ini. Yang menjadi menarik belakangan ini adalah besarnya jarak antara negara-negara, karena mereka mulai mengotakkan dan menjauhkan diri, padahal dalam sejarah globalisasi, akan selalu ada perpindahan besar-besaran dan migrasi manusia ke luar negeri. Hal ini jadi menarik, karena apa yang kita lihat adalah pergerakan (sejarah) ke arah sebaliknya.
Sekarang saya berada di pertengahan usia 40-an, dan ini adalah usia di mana saya mungkin telah mengumpulkan banyak pengalaman dan perspektif yang cukup bijaksana saat menanggapi isu-isu tersebut, khususnya tentang makna identitas. Sebagai seorang ayah yang melihat proses anak saya menghadapi identitasnya, saya merasa pengalaman kami sangat berbeda, karena ia hidup di antara LA dan Jepang, dan memiliki eksistensi yang cair di antara berbagai ragam budaya, dan juga hidup dengan perubahan budaya yang sangat konstan: budaya Jepang berubah dengan cepat, dan hal yang sama terjadi di AS, sekarang kita menyaksikan identitas negara itu runtuh di depan mata.
Jadi, saya merasa semuanya berada dalam entropi yang terus berlangsung, dan seiring bertambahnya usia, kami bisa melihat pola dalam kehidupan: hal-hal akan runtuh lalu dibangun kembali, lalu akan kembali runtuh lagi. Saya bisa bilang hal yang sama juga berlaku dengan identitas, di mana Anda punya gambaran tentang diri Anda, lalu gambar itu tidak lama akan runtuh. Anda harus mengalami krisis jatuh-bangun, dan siklus ini akan terus berulang sampai Anda mati.
GMK: Menarik bahwa praktik Anda tampaknya merangkul keluwesan diri dan kehidupan, termasuk hubungan dengan budaya. Apakah Anda merasa ke depan karya Anda akan lebih bereksperimen dan berdialog dengan “diaspora” ini?
James Jean: Saya berharap begitu. Sebenarnya itu sesuatu yang sudah lama saya pikirkan. Bagaimana saya membawa percakapan tentang diaspora ke dalam karya saya sendiri, karena banyak orang bertanya tentang itu. Mungkin hal itu akan muncul secara alami seiring waktu.
Saya pikir jika saya memiliki narasi yang lebih jelas, itu mungkin membantu saya menavigasi dunia seni karena menciptakan kerangka bagi audiens dan kurator untuk mampu membicarakan (dan merasa dekat dengan) karya saya. Jujur saja, karya saya cenderung imajinatif dan ganjil; mungkin dengan cara yang tidak langsung berbicara tentang isu sosial-politik “nyata”. Sifatnya sangat tidak berwujud, sehingga terkesan seperti saya mencoba menghindari isu-isu tersebut.
Jadi, saya berusaha menciptakan dialog yang terasa autentik untuk mulai membawa perspektif segar dalam karya. Saya berharap bisa mencapainya di masa depan, hanya saja saya belum tahu kapan itu akan terjadi. Saya akan terus membiarkan karya mengalir dan melihat bagaimana perkembangannya.
GMK: Anda menyebut “nyata” dan “imajiner”, juga tindakan “menghadapi” dan “melarikan diri”. Bagaimana Anda menyeimbangkan imajinasi dan realitas?
James Jean: Saya pikir itu kekuatan sebuah gambar, ia bisa membawa begitu banyak makna dan bobot, bahkan tanpa disengajakan. Anda tidak harus berniat untuk menanamkan makna tersebut, tapi (gambar) itu tersendiri memilikinya.
Itulah keajaiban menciptakan seni, Anda seperti wadah yang membiarkan energi dunia mengalir melalui diri Anda. Dalam proses kreasi, gambar itu akan membangun kekuatannya tersendiri. Ketika Anda terlalu sadar diri atau terlalu memaksakan makna, justru aura karya itu akan hilang. Itulah yang saya inginkan dalam berkarya: mengasah aura itu agar berkembang dengan sendirinya.
Mungkin itulah mengapa karya saya bisa berbicara, dan diterima oleh banyak orang. Saya sendiri pun tidak terlalu eksplisit tentang apa yang ingin saya sampaikan. Justru setelah karya selesai, barulah ia bisa “mengatakan” tentang apa ia sebenarnya.
GMK: Saya melihat konsistensi dalam aura karakter dan dunia yang Anda ciptakan, sering ada rasa keajaiban yang tulus dan penghormatan pada alam. Apakah Anda sengaja menciptakan dari “intensi” yang sama untuk menjaga konsistensi ini?
James Jean: Saya suka membiarkan semuanya berkembang secara organik, jadi saya bekerja murni dari imajinasi. Saya sering bertanya, “kenapa saya menggambar seperti ini?” atau “kenapa karakter saya seperti ini?” atau “kenapa komposisi saya selalu seperti ini?”
Saya menyadari bahwa hal itu sebenarnya di luar kendali saya. Saya merasa sangat beruntung bisa mengembangkan koneksi tangan dan pikiran selama saya berkarya—hingga sejauh ini. Tapi sebenarnya itu bukan hasil usaha sadar. Itu hanya soal membiarkan intuisi mengambil alih, dan dari situlah elemen alami muncul dan karakter memperoleh kehidupannya sendiri.
GMK: Apakah Anda selalu tertarik pada alam?
James Jean: Saya suka alam, tapi tidak bisa dibilang saya mencintainya. Saya justru suka berada di studio dan di dalam ruangan [tertawa]. Mungkin itulah cara alam mengekspresikan dirinya melalui saya.
Secara umum, saya mencintai dunia visual, jadi saya selalu memotret dan mengedit foto saat tidak melukis. Saya terobsesi membuat gambar—itulah cara kerja saya. Sejak kecil, saya sudah terobsesi melihat foto di majalah dan iklan film. Lalu saya mulai menyalinnya dalam bentuk gambar, dan ketika menemukan komik, saya belajar menggambarnya juga.
Mungkin kita semua memang “terprogram” dengan cara-cara tertentu, dan saya memang diciptakan untuk merekam dunia secara visual melalui gambar dan lukisan.
GMK: Apakah Internet berperan besar sebagai sumber referensi visual Anda?
James Jean: Ya, tentu. Tapi saat saya masih di sekolah seni, saya sering pergi ke Perpustakaan Umum New York (New York Public Library) dan melihat koleksi gambar mereka. Mereka mengorganisasi segala hal di dunia dalam map-maptertentu. Misalnya, jika Anda ingin gambar mobil, Anda harus membuka map berisi kliping majalah tentang mobil dari National Geographic. Bayangkan semua jenis gambar mobil ada di sana, dan Anda harus menelusurinya satu per satu.
Itulah cara analog saya menemukan referensi. Saya masih mengingatnya dengan hangat, karena sekarang Internet—terutama saat ini—cukup buruk. Banyak foto tidak lagi nyata, banyak karya yang dihasilkan AI. Ini semacam “pembusukan” sistem yang sangat mengganggu dan menyedihkan bagi manusia.
Kembali lagi ke pertanyaan Anda, saya memang sangat sering online, dan saya menyadari bahwa saya bagian dari masalah sistemik ini.
GMK: Apakah Anda khawatir karya Anda diambil, atau digunakan sebagai generator teknologi AI?
James Jean: Ya, tentu saja saya punya banyak kekhawatiran. Tapi sulit untuk melawan arus yang sudah dibuat.
Awalnya saya penasaran dengan AI, dan masih mencoba mengikuti perkembangannya. Saya tidak suka bagaimana ia mencuri karya kreatif orang secara massal—seolah merampas aura yang berpakem itu. Ketika melihat karya online, kita selalu menjadi curiga. Sekarang, niat dan usaha manusia seolah terhapus.
Saya masih mencoba memahami apa artinya semua ini, dan jujur saja cukup membuat saya depresi. Karena itu saya lebih memilih fokus pada karya saya tanpa terlalu memikirkan dampaknya. Tapi seniman itu sensitif [tertawa], kan? Saya rasa semua orang sedang merasakan kecemasan tentang masa depan dan bingung tentang perkembangan arah selanjutnya.
Hal yang selalu saya cintai dari seni adalah sifatnya yang konstan dan abadi—melukis, menggambar, memahat. Itu sesuatu yang selalu kita lakukan dan hargai. Namun sekarang ada perubahan besar dalam teknologi, dan saya masih berusaha memahaminya. Saya belum punya jawaban untuk itu saat ini.