ICAD 16 Soroti Kondisi Kita Hari Ini dan Berbagai Kemungkinan di Masa Depan

Indonesia Contemporary Art & Design (ICAD) telah memasuki edisi ke-16. Berlangsung hingga 8 November mendatang di grandkemang Hotel Jakarta, ICAD mengusung tema “Being: Becoming” – mengangkat gagasan tentang kondisi kita hari ini (being) dan berbagai kemungkinan untuk bergerak melampaui kondisi tersebut (becoming). Tahun ini, lebih dari 40 seniman, desainer, dan praktisi kreatif dari dalam maupun luar negeri menjadikan karya seni dan desain sebagai cara untuk menggali beragam pertanyaan dan pengalaman. Karya-karya yang dipamerkan pun menyoroti isu-isu seputar kekuasaan, ingatan, budaya, perkembangan teknologi, hingga pengalaman pribadi. 

“Proses menjadi, dengan demikian, adalah tentang bernegosiasi dengan kekuatan yang membentuk kita, membayangkan kemungkinan lain, serta mengambil – atau mengambil kembali, meski hanya sekejap – kebebasan yang dibutuhkan untuk sekadar ‘ada’, sambil membawa fragmen yang kita tolak untuk hilang,” ujar Putra Hidayatullah, kurator.

Berbeda dari tahun sebelumnya, ICAD 16 menampilkan karya seniman dan praktisi kreatif dari 12 negara, antara lain Indonesia, Thailand, Brunei Darussalam, Jepang, Korea Selatan, Palestina, Turki, Prancis, Belanda, Uganda, dan Amerika Serikat. 

zoom

Special Appearance tahun ini mempersembahkan penghormatan kepada nama besar dari Indonesia, yaitu Made Wianta, seniman kontemporer yang dikenal lewat eksplorasi gaya dan bahasa visualnya yang tak terbatas. Sejumlah nama lain turut memperkaya ICAD 16 lewat karya yang beragam. Dari kategori In Focus, Putu Sutawijaya, pelukis asal Yogyakarta yang dikenal luas melalui karya-karya figuratifnya. Hadir pula Ahmet Öğüt, seniman lintas media berbasis di Belanda yang mengangkat solidaritas terhadap Palestina melalui karyanya.

Di kategori Featured, Jamaluddin Phonna, seniman asal Aceh yang juga dikenal sebagai filmmaker dokumenter dan peneliti, mengangkat cara masyarakat setempat mengenang peristiwa tsunami, sementara Larissa Sansour, perupa asal Palestina yang menggunakan fiksi ilmiah untuk membahas sejarah dan identitas bangsanya.

Perspektif baru juga hadir melalui Open Call yang mempertemukan seniman terpilih dari lebih dari 100 pendaftar. Di antaranya Clarissa Tiffany, seorang perupa dan kurator dari Indonesia, yang menelusuri pengalaman, memori, dan sejarah perempuan Tionghoa-Indonesia; serta Yang Amat Mulia Pengiran Anak Hamlatul Arsy Mulia Bolkiah dari Brunei Darussalam sebagai kurator, sekaligus peneliti independen yang mengangkat berbagai kepercayaan budaya Melayu dalam pameran tahun ini.

“ICAD sejak awal menjadi ruang yang mempertemukan seni, desain, dan berbagai disiplin secara inklusif. Di ICAD 16, kami kembali membuka ruang bagi seniman dan praktisi kreatif dari Indonesia maupun dari berbagai negara untuk menghadirkan karya dan perspektif mereka. Kami berharap ICAD dapat menjadi ruang yang dekat dan terbuka bagi publik untuk menikmati karya, bertemu dengan gagasan yang berbeda, dan melihat berbagai kemungkinan yang muncul dari pertemuan lintas disiplin,” ujar Edwin Nazir, Festival Director ICAD.

Berkolaborasi dengan seniman, pelaku kreatif, asosiasi, dan pusat kebudayaan asing, ICAD 16 juga menghadirkan berbagai program publik berupa talks dan workshop sepanjang penyelenggaraan pameran, serta program kawasan Kemang 12730. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi www.arturaicad.com atau ikuti akun resmi @icadartura di Instagram dan platform media sosial lainnya.

web-16
web-17
web-18
web-19
web-20
web-21
web-22
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.