Edwin Te Menyoal Elang Hitam, Properti Intelektual dan Ekosistem Komik Lokal


“Suatu ketika, pada tahun 2012, aku pernah ditegur ibu-ibu waktu aku pergi ke Korea. Ia heran, wajahku seperti orang asia timur, tapi aku enggak bisa berbahasa Korea, Jepang, maupun Cina. Lalu ia bertanya ‘what are you?’ dan pertanyaan ini memantik pikiranku lebih dalam. Bukan siapa aku, tapi ‘aku ini apa?’. Pertanyaan ini terus kubawa ketika aku menggarap prototip Elang Hitam,” ujar Edwin Fernando Tranggono, atau Edwin Te, desainer dan komikus yang baru-baru ini IP-nya terpilih mewakili Indonesia di ajang bergengsi Asian Content & Film Market (ACFM) 2026 di Busan melalui Jaff Content Market 2025. 

Elang Hitam dimulai tahun 2013 ketika Edwin mempersiapkan tugas akhir kuliah. Edwin masuk Desain Komunikasi Visual karena ingin menjadi komikus. Meski kariernya kemudian lebih banyak bergerak di desain grafis, komik tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.Tugas akhirnya dimulai dari pertanyaan sederhana melalui kacamata desain, “Format komik seperti apa yang paling cocok untuk komik Indonesia?”. Akhirnya ia muncul dengan ide bagaimana membuat penceritaan seperti komik Jepang tapi tampilannya seperti komik Amerika. “Sulit bagi komik indonesia untuk membuat komik setebal dan sepanjang komik Jepang. Kelebihannya mereka cukup engaging dan nyaman dibaca. Sayangnya ekosistem dan industri kita belum cukup mendukung. Sementara, format komik Amerika boleh kalah tebal dari komik Jepang, tapi ukurannya jauh lebih besar, sehingga ia bisa dikoleksi layaknya vinyl. Format komik Amerika lebih masuk akal dibuat oleh komikus lokal karena ceritanya bisa selesai dalam satu chapter. Jadi aku padukan desain buku komik amerika dengan teknik penceritaan komik one shot Jepang”. Dari sana, terciptalah prototipe Elang Hitam pada tahun 2014. 

Pertanyaan “what are you?”, terus membekas di benaknya. Pada pandemi 2020, pertanyaan itu membawanya kembali ke dunia komik. Setelah Elang Hitam ia merilis beberapa judul komik secara independen. Ada Sibiru yang terinspirasi dari tontonan masa kecilnya berjudul Jin dan Jun. Lalu ia juga merilis komik Naraka yang kemudian sempat diterbitkan dalam versi bahasa Inggris di Singapore Comicon. Membaca ulang Naraka membuatnya melirik kembali tentang hubungannya dengan orangtuanya sendiri. Lewatnya, ia kembali belajar menjadi seorang manusia. Kenapa ia harus membuat komik? Baginya membuat komik adalah upayanya menjawab pertanyaan soal identitas dirinya.

Sejak 2021-2025 ia sibuk mengerjakan komik lain, hingga pada tahun 2025 ia kembali meninjau Elang Hitam. Awalnya Elang Hitam sempat dirilis perminggu sebanyak tiga halaman di Facebook. Karya-karya yang terkumpul kemudian ia cetak dalam satu buku untuk keperluan tugas akhir. Bertahun kemudian, ia menyadari bahwa ini tentang pencarian jati diri sebagai seorang Edwin, warga Indonesia keturunan Tionghoa. Ia menggambarkan keterasingannya melalui karakter utama yang tak memiliki ingatan. 

zoom-1


Pada tahun 2013, saat mengembangkan Elang Hitam, Ia mendapatkan inspirasi untuk kostumnya dari pelukis legendaris Raden Saleh. Ia dengan berani menentang narasi kolonial Belanda, terutama ketika ia melukiskan kembali Diponegoro sebagai pahlawan yang gagah, alih-alih tahanan yang tertindas. Semangat pembangkangan dan martabat itulah yang menjadi dasar identitas visual dan semangat Elang Hitam. Ia kemudian menambahkan penanda visual yang mewakili anak muda melalui kuncir rambut yang diadaptasi langsung dari siluet khas Petruk sebagai simbol humor, kejujuran, dan suara rakyat jelata. Sabuknya diadaptasi dari Warok, para penjaga yang dikenal karena kesaktian dan kekuatan supranatural mereka, yang melambangkan tugas Elang Hitam sebagai pelindung.

Secara garis besar Elang Hitam bercerita tentang sebuah kota di wilayah utara Pulau Jawa yang dikendalikan oleh faksi-faksi silat. Dua legiun silat, Elang Hitam dan Macan Loreng, pernah melindungi sebuah kerajaan yang kuat bersama faksi bela diri lainnya. Namun, ketika sebuah peristiwa tak terduga menghancurkan keseimbangan mereka, Macan Loreng bangkit dan mendominasi, merebut wilayah kerajaan yang luas dan memusnahkan Elang Hitam. Tiga puluh tahun kemudian seorang pemuda tanpa ingatan tiba-tiba muncul menyelamatkan seorang lelaki tua tak berdaya dipalak oleh anggota Macan Loreng. Layaknya takdir, Gelar Elang Hitam yang dilarang oleh mereka yang berkuasa, terpaksa ia gunakan untuk menjadi benih harapan akan keadilan bagi orang-orang tertindas. 

Edwin menceritakan bagaimana ia dan kawan-kawan berproses dalam Jaff Content Market 2025 yang digelar akhir November lalu. Dari 10 IP terpilih, 3 di antaranya sudah mendapatkan LOI (Letter of Interest) untuk diadaptasikan ke alih media. Sementara itu, ada 2 IP yang terpilih untuk maju ke ACFM 2026 yaitu Elang Hitam dengan World Without Sleep karya Ferdian Feisal.

Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat Elang Hitam menarik. Pertama, adalah narasi tentang pencarian jati diri yang memungkinkannya terhubung dengan banyak orang. Pertanyaan mendasar “what are you?” menurutnya bersifat universal. Di sisi lain, yang menjadi alasan selanjutnya, Elang hitam memiliki konteks budaya yang kuat dan bersifat paralel dengan sejarah Indonesia. Kedekatan Identitas dan budaya ini lantas menjadi kunci utama dalam proses pengalihwahanaan IP-nya ke dalam medium film. Sembari menunggu ACFM yang akan digelar tahun depan, Edwin tengah mematangkan world building, desain karakter, atau mungkin film pendek untuk memberikan gambaran potensi bagaimana perkembangan IP-nya ke depan. Baginya, Elang Hitam adalah upaya berkelanjutan untuk melihat budaya Indonesia melalui perspektif kontemporer. 

Penyelenggaraan Jaff Content Market, menurutnya cukup membuka mata para komikus lokal mengenai potensi penguatan ekosistem IP komik di indonesia. Berbagai platform dan festival sebetulnya sudah lebih dahulu muncul lewat inisiatif komunitas komik lokal. Misalnya saja komunitas Baca Komik Lokal yang mengoleksi dan berbagi akses koleksi untuk bisa menikmati karya komik-komik lokal. Lalu, Pesta Komik Bandung yang menyediakan ruang bagi para pegiat dan komunitas komik lokal untuk saling berjejaring. Ada Comipara di Jogja yang menggabungkan skena komik lokal dengan festival budaya pop jepang. Bagi Edwin, selain memberi ruang bagi para komikus untuk menjual karyanya, platform-platform ini juga berperan sebagai semacam support group yang pada gilirannya menguatkan ekosistem komunitas komik lokal. “Secara kualitas dan kuantitas, komik-komik lokal saat ini mengalami pertumbuhan yang bagus,” ujarnya.


Kilas balik menyoal perkembangan komik lokal dari masa ke masa, Edwin menyoroti mengapa industri komik lokal tidak dapat bertahan lama. Pada era keemasan komik Indonesia di periode 1950 hingga 1970-an, di mana komik-komik superhero lokal seperti Sri Asih karya R.A Kosasih, Gundala Putra Petir karya Hasmi, Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes TH, Jaka Sembung karya Djair Warni, dan Panji Tengkorak karya Hans Jaladara laku keras secara komersial, namun kurangnya pematangan manajemen membuat para penerbit yang menaungi mereka tergerus oleh komik-komik Jepang yang konsisten membanjiri awal era 1990-an. 

Berkaca pada industri komik Amerika dan manga di Jepang, membangun sebuah ekosistem yang berkelanjutan merupakan kunci kesuksesan industri mereka. Sementara di Indonesia, pada masa itu indikator utamanya adalah seberapa profit yang bisa dihasilkan melalui penjualan komik. Manga Jepang dapat bertahan hingga puluhan tahun karena peran editor yang cukup krusial dalam menjaga kualitas serta potensi ekonominya. Penerbit biasanya juga menyediakan angket bagi pembaca sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah manga secara komersial. Dengan demikian kehidupan para mangaka di Jepang dapat terjamin dengan baik. Sementara itu, di Amerika, penerbit bisa mengkapitalisasi IP secara masif dengan terus menjaga kuantitas dari produksi komiknya. Mereka pintar mengadaptasi komik ke produk lain, seperti drama radio, mainan, film, animasi, hingga serial televisi. Pada masa itu, di indonesia komik-komik diproduksi secara sporadis, tidak tertata, seringkali dengan sistem beli putus.

Selain itu, secara estetika komik Amerika dan manga Jepang cukup adaptif. Komik Amerika memiliki sistem kerja yang lumayan terpisah. Satu IP bisa diproduksi oleh beberapa kreator sekaligus dengan gaya dan cerita yang berbeda-beda. Sementara industri manga Jepang lebih berfokus membuat sistem yang dapat menjaga keunikan gaya dan cerita masing-masing mangaka sehingga keberagaman itu dapat terus bertumbuh. Sistem tersebut berimbas pada kualitas, ketebalan, dan ritme terbit yang lebih konsisten. “Pada gilirannya, penerbit-penerbit komik di Indonesia pun lebih memilih menerbitkan komik terjemahan karena pertimbangan ekonomi, seperti labor cost yang lebih rendah dan penjualan yang lebih masif,” tuturnya.

Di era 90-an, komik indonesia sempat bergairah kembali ketika Komik Caroq, pahlawan super Indonesia karya Ahmad Thoriq, pertama kali terbit sekitar tahun 1992-1996 oleh penerbit Dian Rakyat. Pada periode setelahnya geliat-geliat itu terus muncul. Hingga pada tahun 2010-an, Penerbit Koloni komik, lini khusus dari Penerbit m&c! (bagian dari Gramedia Group) yang fokus menerbitkan komik-komik karya komikus lokal mulai membesar. Nama-nama seperti Faza Meonk (si Juki), Is Yuniarto (Garudayana), dan Sweta Kartika (Journal of Terror), membangkitkan optimisme ekosistem komik indonesia. 

Membaca kondisi dan budaya komik di Indonesia, Edwin menaruh harapan tinggi agar ekosistem komik lokal dapat tumbuh dan bertahan. Ia menekankan, “Kita banyak komik-komik keren tapi skenanya terlalu niche. Kita butuh kurator komik-komik pendek yang bisa menjadikannya satu kompilasi, sehingga bisa diproduksi secara masif dan murah. Ini bisa menjadi celah bagi penerbit buku, alih-alih mengambil alih IP-nya. Jika dilakukan konsisten, arusnya akan mulai terbentuk. Kepercayaan pembaca pun meningkat dan mengalami konsistensi komik yang terbit dan tamat. Begitupula kulturnya, angkanya, dan potensi investor untuk masuk,” tegasnya

“Kalau komikus lokal memahami IP, tentu posisi mereka akan lebih kuat”. Tentunya, ia menekankan agar komikus-komikus lokal dapat lebih sadar dan teliti dalam mengelola IP-nya. “Harus bisa dibedakan dan dijabarkan apa-apa yang bisa dijual, disewakan, dan dialihwahanakan ke berbagai media,” tutupnya.

web-16
web-17
web-19
web-18
web-21
web-20
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.