Merancang Frankenstein: Ketika Desain Produksi Menjadi Bahasa Emosi Film
Nominasi Academy Awards 2026 telah diumumkan, dan salah satu film yang sejak tayang perdananya mencuri perhatian adalah Frankenstein, adaptasi sastra gotik karya Mary Shelley dari sutradara Guillermo del Toro. Meraih sembilan nominasi, termasuk Best Production Design, film ini mampu menghidupkan kembali kisah klasik yang telah berulang kali diceritakan menjadi pengalaman visual yang sarat emosi dan kemanusiaan. Dingin, sunyi, dan sangat manusiawi, secara artistik, Frankenstein versi del Toro membangun dunia yang mencerminkan keterasingan tokoh utamanya; Sang Makhluk, yang diperankan oleh Jacob Elordi.
Di balik pencapaian visual tersebut berdiri desainer produksi Tamara Deverell, yang bekerja erat dengan concept artist Guy Davis. Kedua jenius ini merupakan kolaborator lama sang sutradara, Guillermo del Toro. Dalam wawancara resmi dengan Joe Fordham dari The American Society of Cinematographers, Tamara Deverell membongkar dan menguraikan secara detail keputusan artistik yang membentuk dunia film ini–menelusuri bagaimana riset, kerajinan tangan, dan emosi dirajut ke dalam setiap keputusan artistik.
Frankenstein karya del Toro dirancang sebagai ode untuk novel era Victoria karya Mary Shelley–sebuah proyek yang telah menghantui imajinasi sang sutradara selama puluhan tahun. Sejak tahap awal, Guy Davis memimpin eksplorasi visual yang mencakup warna, bentuk, dan arah naratif, sembari tetap menghormati akar sastra novel aslinya. Alih-alih sekadar merekonstruksi estetika periode tertentu, tim desain berupaya menerjemahkan tema-tema Shelley; keterasingan, ambisi, dan kerinduan, ke dalam bahasa ruang dan material.
Lokasi fisik menjadi elemen krusial dalam proses ini. Saat melakukan pencarian lokasi di Inggris, Tamara Deverell dan del Toro menemukan artefak sejarah yang membantu menghidupkan eksperimen ilmiah Victor Frankenstein dalam konteks dunia nyata. Salah satu penemuan paling berpengaruh terjadi di Hunterian Museum, Royal College of Surgeons, Inggris, di mana mereka mempelajari Evelyn Tables; studi anatomi abad ke-17 karya John Evelyn. Papan kayu pinus yang dilapisi glasir dengan jejak arteri, vena, dan saraf tersebut menjadi jembatan yang menghantui antara sains dan seni.
“Saya menggambar sendiri vena-vena itu dengan tangan, lalu kami membuatnya dari benang dengan nodus limfa kecil yang dipahat. Semua itu kami modelkan secara 3D dan kami aplikasikan ke papan kayu tua yang sudah kami lapukkan. Semuanya dibuat dengan sangat teliti secara manual. Guillermo dan Dan (sinematografer) ingin benda-benda tersebut terlihat nyata tapi tetap cantik,” jelas Tamara Deverell.
Penekanan pada materialitas–benda-benda yang dapat disentuh, dilapukkan, dan disinari–menjadi prinsip utama di sepanjang produksi. Desain lain lahir dari sketsa konseptual Guy Davis, yang berfungsi sebagai perpanjangan intuitif dari imajinasi del Toro.
“Guillermo sudah lama memiliki hubungan kerja yang baik dengan Guy,” kata Tamara Deverell. “Sketsa Guy sering kali sangat lepas, digambar dengan tangan. Ia bekerja menggunakan iPad atau tablet, tapi dengan pendekatan yang sangat fleksibel, mirip dengan cara Guillermo berpikir. Guillermo memanfaatkan Guy untuk menangkap apa yang ada di kepalanya.”
Untuk set paling ambisius dalam film–sebuah kapal ekspedisi Arktik yang membeku di es, serta laboratorium Victor Frankenstein yang berdiri di atas menara air era Victoria–departemen artistik memanfaatkan teknik pemodelan 3D. Alat digital ini memungkinkan del Toro menjelajahi set secara virtual, menguji gagasan artistik sekaligus batasan teknis sebelum konstruksi dimulai. Lebih dari itu, pendekatan ini membuka ruang eksplorasi mendalam terhadap tekstur, skala, dan atmosfer.
Inspirasi arsitektural sendiri diambil dari rumah-rumah bangsawan di Skotlandia dan Inggris yang menjadi referensi untuk kediaman keluarga Frankenstein, sementara lokasi di Toronto digunakan sebagai pengganti Swiss dan wilayah Arktik. Sepanjang proses tersebut, warna memegang peranan sentral.
“Warna sangat penting bagi Guillermo,” ujar Tamara Deverell. “Kami syuting dalam berbagai kondisi pencahayaan, dimulai dari cahaya musim dingin Arktik yang rendah. Untuk adegan-adegan itu, kami berdiskusi tentang bagaimana menggunakan cahaya Aurora Borealis. Dan untuk adegan malam, kami membicarakan bagaimana menggunakan api dan cahaya lilin sungguhan agar semuanya tetap berada dalam batas yang masuk akal untuk periode waktu tersebut.”
Salah satu bangunan paling kompleks dalam film ini adalah kapal Angkatan Laut Kerajaan Denmark, The Horizon, yang membingkai konflik antara Victor Frankenstein dan ciptaannya. Untuk merancang kapal ini, Tamara Deverell memadukan latar belakang pendidikannya sebagai mahasiswa seni yang pernah bekerja dengan produsen kapal kayu, dengan riset sejarah yang mendalam.
Sementara itu, sejarawan seni Matthew Betts membantu menentukan dimensi kapal, sementara penasihat kelautan Jim Dines memastikan keakuratan rigging sesuai periode. Di saat yang bersamaan, desainer kostum Kate Hawley kemudian memperkuat kohesi visual dengan memilih warna kostum kru yang selaras dengan nuansa biru beku pencahayaan adegan di atas kapal.
Di luar kemegahan visual, desain produksi Frankenstein juga dibentuk oleh karakter; terutama visi del Toro tentang Sang Makhluk sebagai sosok sensitif dan seorang pengembara yang terasing. Relasi antara ruang dan karakter digunakan untuk menegaskan ketimpangan antara pencipta dan ciptaan. “Sang Makhluk selalu hidup di tempat-tempat sementara,” ungkap Tamara Deverell, “Sementara Victor memiliki rumah keluarga, apartemen, dan laboratoriumnya sendiri. Saat kita pertama kali bertemu Sang Makhluk, ia berada di laboratorium Victor, tapi ia tidak benar-benar menjadi bagian dari tempat itu. Karena itu, kami tidak berfokus pada penciptaan ruang khusus untuk Sang Makhluk.”
Melihat dari jalan cerita film, alam semesta itu sendiri menjadi perpanjangan dari identitas Sang Makhluk. Pelariannya dari laboratorium membawanya ke hutan, di mana cahaya dan lanskap menekankan kesendirian, bukan ancaman. Sepertinya, semua bingkai dari film ini mampu memanggil emosi yang dikoyak-koyak keterasingan dan sepi. Sang sutradara sendiri memaknai film ini sebagai karya yang sangat personal. Baginya, film ini menyoal maaf dan penerimaan.
“Film ini sangat biografis. Awalnya saya berpikir untuk membuat film tentang saya dan ayah saya. Pada akhirnya, film ini menjadi tentang saya, ayah, dan anak-anak saya sendiri. Saya ingin membicarakan momen dalam hidup ketika saya menyadari bahwa ketidakhadiran saya (mewakili) transformasi saya menjadi ayah saya sendiri di usia 40-an. Penafsiran ulang novel ini sepenuhnya disesuaikan dengan saya sebagai Victor Frankenstein. Saya adalah Sang Makhluk, saya adalah sang anak, bahkan saya adalah Elizabeth. Dengan cara yang sama seperti novel tersebut, Frankenstein adalah tentang hal-hal yang telah saya alami di dunia ini.”
Di tangan del Toro, Frankenstein menjelma menjadi dunia gotik yang sangat manusiawi. Melalui desain yang dikerjakan dengan ketelitian ekstrem dan visi yang sangat personal, film ini memberikan nafas pada empati, penyesalan, dan koneksi manusia, yang diwujudkan bukan hanya lewat narasi dan akting, tetapi melalui ruang-ruang yang sangat asing dan biru, tapi anehnya memantik rasa hangat dan familiar.