Di Balik Perancangan Jersei

Yakob Sayuri menyerang dari sisi kiri pertahanan kesebelasan Irak. Ia berhasil mengecoh pemain lawan lalu menerobos masuk ke kotak penalti. Ia kembali menggiring bola sebelum melepaskan umpan silang. Tak terkawal, Marselino Ferdinan leluasa menerima umpan dan melesakkan bola ke gawang Irak sekaligus menjadi gol pertama Indonesia di ajang Piala Asia 2024. Tak hanya gol cantik itu yang menarik perhatian, namun juga jersei yang para pemain timnas Indonesia kenakan. Jersei merah berkerah dengan aksen putih berhasil memadukan kesan klasik dan modern. Fajar Ramadhan adalah orang di balik rancangan jersei timnas tersebut.

Fajar sendiri sudah menggeluti profesi sebagai apparel designer atau desainer pakaian, khususnya jersei, selepas lulus dari jurusan Desain Produk Industri di Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Karir tersebut bermula dari kegemarannya membuat desain fantasi untuk jersei sepak bola sewaktu kuliah. Pada saat itu, ia pun sempat mengikuti lomba perancangan jersei. Menurutnya, dengan latar pendidikan tersebut, dirinya mendapat pelajaran mengenai proses desain yang runut dan metodologi serta riset dalam desain. Sebelum bergabung bersama jenama lokal Mills sebagai Apparel Designer, Fajar sempat bekerja untuk Riors dan League.

Kembali ke soal jersei timnas. Jersei tersebut kali pertama dirilis dan diproduksi oleh Mills. Dalam perancangan jersei tersebut, Fajar membawa konsep “Bring Back Glory” yang terinspirasi dari jersei timnas pada SEA Games 1987 saat terakhir kali timnas merasakan gelar juara. Fajar mengembangkan pola diagonal pada jersei lama tersebut agar sesuai dengan teknologi rajutan yang kini dipakai tanpa menghilangkan unsur desain aslinya. Di bagian dalam leher, Fajar membuat rancangan dari angka 35 yang mengikuti bentuk perisai sebagai peringatan 35 tahun medali emas SEA Games dan dikombinasikan dengan pola yang diambil dari bentuk atap Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Selain soal bentuk visual, perancangan jersei juga menekankan pada aksesibilitas khalayak terhadap jersei ini. Terlebih lagi, jersei ini merupakan jersei timnas dan selayaknya bisa dijangkau oleh banyak kalangan. “Jerseinya sendiri di-set untuk tidak slimfit, baik versi replika maupun authentic-nya. Jadi, supaya publik dan masyarakat umum yang badannya enggak seideal olahragawan juga bisa memakai jersei timnas ini dengan nyaman,” Fajar menjelaskan. Sekadar informasi, pada umumnya jersei dibuat dalam dua versi, yaitu autentik yang mengacu pada jersei dengan spesifikasi yang sama dengan jersei yang dipakai pemain dan replika sebagai versi “ekonomis” jersei autentik.

Dalam pandangan dan pengalaman Fajar, perancangan jersei dimulai dengan penentuan material. “Kalau untuk material, ditentukan dulu di awal karena berpengaruh juga pada eksekusi jerseinya, apakah nanti akan disublim, di-deboss atau pun yang lain. Contohnya, ketika suatu jersei sudah menggunakan jacquard fabric, menurut saya sudah enggak perlu diberikan grafis-grafis lagi yang ramai karena jacquard sendiri sudah merupakan nilai plus, value berlebih dalam sebuah jersi,” jelas Fajar

Zoom

“Proses perancangan jersei layaknya proses desain pada umumnya aja, sih. Dimulai dari ideation, kemudian penjabaran konsep setelah itu masuk ke draf desain, revisi desain, revisi sample, sampai hasil akhirnya adalah final product yang di-launching,” menjelaskan soal tahap-tahap yang biasa ia lalui dalam merancang sebuah jersei. Selain jersei timnas Indonesia, dalam sembilan tahun berkarir ini, Fajar sudah membuat rancangan jersei untuk banyak klub profesional dalam negeri, seperti Persija, Persela Lamongan, Bhayangkara FC, Arema Malang, Persid Jember, Persikad Depok, dan PSKC Cimahi. Tak hanya itu, ia pun merancang jersei Tranmere Rovers, sebuah klub Divisi 4 di Inggris.

Dalam perancangan jersei, ada beberapa elemen yang dapat diaplikasikan sebagai turunan desain. Sebagai contoh, nameset atau fon pada nama dan nomor punggung pemain. “Kalau untuk nameset, enggak setiap desain jersei ada desain nameset, sih. Beda cerita kalau sudah levelnya timnas. Kami berikan juga desain spesial, contohnya jersei timnas 2022 itu lengkap sampai nameset-nya,” Fajar menuturkan. “Kalau yang lain, contoh di Mills, tempat saya kerja, saya siapkan desain nameset yang bisa dipakai semua tim yang bekerjasama dengan Mills dan umur design nameset itu saya atur di dua tahun. Setelah dua tahun baru kemudian kita rancang lagi design nameset yang baru.”

“Kalau sekarang karena industrinya juga semakin berkembang, beda dengan ketika saya mulai berkarir dulu. Sekarang apparel designer sudah punya value yang bisa untuk hidup. Mungkin kasarnya seperti itu. Prospek karirnya sih teman-teman bisa dimulai dari freelance dulu. Kemudian coba apply ke brand yang lebih besar. Kalau beruntung bahkan bukan tidak mungkin juga bisa abroad ke global brand,” menyampaikan pandangannya soal profesi sebagai perancang jersei.

Keprofesian yang dilakukan Fajar dapat dilihat dalam berbagai macam lapisan. Di ranah praktik desainer, apparel designer menunjukkan kemahiran multidisiplin yang dimiliki oleh seorang desainer. Seorang desainer patut memiliki kompleksitas pengetahuan, tak hanya soal visual, kecakapan soal material dan produksi juga esensial dikuasai. Sementara itu, dalam konteks industri, apparel designer cukup potensial berkembang mengingat pasarnya mulai terbentuk, sehingga profesi ini dapat ditekuni dan memiliki jenjang karir. Di sisi lain, publik pun patut menaruh perhatian khusus terhadap visual jersei. Di balik jersei yang menawan, terdapat perancangan melalui kaidah desain profesional.

Slide-1
Slide-2
Slide-3
Slide-4
About the Author

Daud Sihombing

Daud Sihombing has been writing professionally for the past 9 years. This fervent alternative publishing enthusiast prefers his quaint little town over the hustle and bustle of the city and doesn't let sleep stop him from watching every single AS Roma match.