Wulang Sunu dan Catatan-catatan Kecil di Balik Karyanya


Suatu waktu, Wulang sedang menyiapkan sebuah poster untuk tur Rich Brian. Tenggatnya pendek, ia sedang mengurus anak yang baru lahir, dan ide harus muncul cepat. Pertemuan pertamanya dengan tim Brian hanya memberi sedikit ruang. Mereka hanya menunjukkan arah gaya, menyebut karya-karya Wulang yang mereka sukai, dan menyerahkan sisanya pada proses. Ia mendengarkan album Where Is My Head?, mengumpulkan potongan lirik, adegan video klip, dan kata-kata yang menempel di kepala. Dari seluruh itu, ia menemukan fragmen ruang. “Aku sematkan sedikit ide tentang penemuan jati diri dari cerita Dewa Ruci dan Bima,” katanya. Dua persona Brian muncul di dalam komposisi, bergerak dalam ruang-ruang yang saling berhubungan, seperti serpihan pengalaman yang menyusun diri seseorang.

Momen itu menunjukkan bagaimana Wulang bekerja. Ia membaca situasi, mencatat, menyusun visual, dan membuka ruang bagi intuisi. Ia menyebut prosesnya “biasa aja,” tetapi perjalanan yang membawanya ke titik itu terbentuk dari lintasan pengalaman, referensi, dan kebiasaan mencatat hal-hal kecil.

Apa-apa yang kita lihat dalam karya Wulang Sunu sudah ia bangun jauh sebelum poster itu dibuat. Masa kecilnya tidak berbeda dari banyak orang. Ia bertemu dengan komik, film animasi, video game, dan seperti anak-anak yang lain, menggambar adalah kegiatan menyenangkan baginya. Yang membedakan adalah keputusan yang ia buat di SMA. Pada masa itu, tren membuat stiker dan kaus sangat marak, ia jadikan itu medium ekspresi sekaligus cara menambah uang jajan. Di saat yang sama, ia mulai jenuh dengan komik konvensional. Bertepatan dengan itu, novel grafis terjemahan bermunculan di toko buku. Judul seperti Persepolis, Chicken with Plums, Contract with God, hingga Three Shadows membuka pengalaman baru membaca visual. “Bacaan yang menyegarkan dengan plot yang berbeda,” katanya. Dari pertemuan itu, ia semakin mantap menggambar.

Referensinya datang dari banyak medium. Semua itu masuk sebagai cara mengembangkan sensitivitas visual, sebelum akhirnya muncul sebagai bentuk yang khas. Figur dan ornamen muncul dari beragam tempat, “dari apa pun yang aku lihat, dengar, dan tonton,” ujarnya. Teater, bacaan, musik, sampai potongan lagu bisa memantik visual. Kecintaannya pada novel grafis membuatnya senang pada garis yang tidak rapi, bergetar, dan terasa organik. “Garis yang seperti itu buatku ada nyawanya, dan ternyata untuk beberapa orang jadi cara mengidentifikasi karyaku,” tuturnya. Lambat laun, orang lain mulai mengenal karyanya dari karakter garis itu. 


Selain mengerjakan karya-karya ilustrasi, Wulang juga aktif dalam berbagai proyek visual lainnya. Berangkat dari pertemanan SMA, lahirlah Studio Batu. Dari kesamaan hobi mengerjakan graffiti dan mural di masa SMA, studio itu berkembang menjadi tempat bereksperimen lintas medium. Sejak 2013 mereka mengerjakan film pendek, animasi, pertunjukan visual, juga proyek kolaboratif yang melibatkan banyak pihak.

Bekerja sebagai kolektif menghadirkan tantangan tersendiri. “Ada banyak naik turunnya karena bekerja sebagai kolektif artinya bekerja dengan banyak kepala,” kata Wulang. Mereka belajar mengelola ego, mengisi satu sama lain, dan memahami kolektif ini sebagai ruang tertentu. Bagi Wulang, kolektif adalah tempat keluar dari ruang ego pribadi. Di situ ia belajar membagi porsi, mengukur intensitas, dan percaya pada kolaborator. Meski berbeda dari proses berkarya individu, ia menyebut semangat bermain-main di Studio Batu tetap sama. Dari Studio Batu, ia juga terlibat dalam berbagai proyek, seperti kolaborasi dengan Miles Film membuat video mapping di ArtJog, dan proyek terbesar mereka sejauh ini, yaitu video mapping untuk Light to Night Festival bersama Budi Agung Kuswara.

Karya-karya yang lahir dari kerja kolektif tidak hanya datang dari Studio Batu. Pada tahun 2011-2016 ia sempat terlibat dengan Papermoon Puppet Theatre. Baginya, bekerja bersama Papermoon memberinya pengalaman yang luar biasa. Salah satunya saat mereka tampil di sebuah festival pertunjukan di Inggris yang ia sebut “gila”. Selain tampil, di sana ia berkesempatan menonton beragam jenis pertunjukan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pengalaman itu masih ia cerna sampai hari ini. 


Di luar kolektif, perjalanan individual Wulang bergerak selaras. Salah satu titik penting dalam kariernya adalah mengerjakan sampul buku. Dari pekerjaan itu, ia belajar membangun cerita dari setiap proyek. Ia terbiasa bertukar pikir dengan banyak orang, membaca teks yang terkait dengan tema karya, mencatat bayangan adegan atau frasa yang muncul tiba-tiba, dan mengumpulkan thumbnail kecil dalam notebook. Dari temuan-temuan itu ia menyusun komposisi yang terasa selaras dengan naskah utamanya. Proses panjang itu kemudian ia rangkum dalam pameran tunggal di galeri Uma Seminyak, Bali berjudul “di balik laman: tergores dan kubiarkan terbuka,” yang berlangsung hingga awal tahun 2025. Pameran itu menjadi ruang untuk menampilkan karakter atau adegan yang sebelumnya tidak muncul di sampul buku, tetapi tetap ia rasa menarik. “Residu-residu itu aku keluarkan,” katanya. Pameran tersebut juga menjadi ruang untuk mengingat hal-hal yang ia pelajari dari proses membuat sampul.

Ia menggambar dari apa yang ia lihat, baca, dan rasakan. Dari apa yang ada di sekitar dan apa yang ia temukan di sana. Bermula pada 2016, secara tidak sengaja ia menemukan seremoni Rampogan Macan, tradisi kuno di Jawa yang melibatkan pertarungan antara sekelompok pria bersenjata tombak dengan harimau Jawa di alun-alun. Setelah membaca sumber-sumber lain, ia melihat banyak potensi visual dan makna, baik tersurat maupun tersirat. Ketertarikannya seputar mitos, sejarah, dan hewan turut berperan dalam membangun imaji visual yang ia kerjakan ia kerjakan akhir-akhir ini. “Dari hal-hal itu, mungkin aku menganggap karyaku sebagai upaya memahami apa yang ada di sekitarku sambil mengajukan pertanyaan yang barangkali beresonansi dengan orang lain,” ujarnya.

Tahun 2025 menjadi tahun yang sibuk baginya. Baru-baru ini ia juga mengerjakan sebuah proyek yang tak kalah menantang dari Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Ia berkolaborasi dengan Muklay untuk menggarap poster JAFF tahun ini. Tahun ini adalah ulang tahun ke-20 JAFF, sehingga visual utama dikerjakan oleh dua seniman sekaligus. Proses tersebut menantang karena mereka harus membayangkan bagaimana kedua karya dapat berpadu dan bekerja tanpa saling menutupi.

Momen-momen semacam ini memperlihatkan betapa ruang kreatif Wulang bekerja. Ia bisa mengerjakan sampul buku, kolaborasi dengan seniman lain, mengembangkan proyek kolektif, hingga bekerja untuk musisi internasional. Namun semua itu tetap kembali pada metode yang sama: mengamati dan menyusun garis-garisnya dari catatan-catatan kecil di bukunya. Meski eksekusi visualnya tampak rumit, caranya bekerja berangkat proses yang sederhana dan kesederhanaan itu tidak muncul tiba-tiba. Ada rangkaian panjang pengalaman yang ia bangun melalui disiplin, dan itu ia lakukan untuk menjaga agar apa-apa yang hadir dalam karyanya tetap jujur pada apa yang ia lihat dan rasakan. 

web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.