Saat Suara Menubuh: Mendalami MAGDALENE karya FKA twigs

Pengalaman musik masa kini menuntut kebangkitan indera yang melibatkan penglihatan, suara, dan tekstur. Mungkin ini menjadi bukti peran multidimensional yang harus diadopsi oleh seorang musisi—bukan sekadar mencipta atau menampilkan musik demi musik itu sendiri, tetapi menghidupkannya melalui kekayaan dunia yang mereka bangun, menjadikan mereka bukan hanya komposer, tetapi juga arsitek, seniman, dan desainer. Tekanan ini terasa lebih tajam bagi mereka yang beroperasi dalam atau berdekatan dengan pop, sebuah genre di mana musik tak terpisahkan dari citra, cerita, dan persona. Namun, tuntutan ini tidak menyurutkan FKA twigs—sebaliknya, ia menyambutnya dengan melipatkan berbagai macam dimensi ke dalam seni, meletakkan dasar bagi kreasi dunia dalam rilis MAGDALENE, album studio keduanya.​

Perjalanan menuju MAGDALENE dimulai dengan penglihatan, saat sampul album menyajikan visi twigs sebagai entitas humanoid—cantik dengan cara yang menyeramkan, terfragmentasi, dan tertransformasi—menunjukkan transformasi yang telah ia alami (secara medis, mental, fisik, dan spiritual). Perbedaan dalam estetik ini tercermin saat kami membandingkan sampul album dalam diskografi twigs: dalam album studio pertamanya LP1, kita disambut dengan ilustrasi twigs yang menatap ke kejauhan-menjauh dari kita, dengan profilnya yang ditandai oleh noda merah muda-merah yang kontras dengan sosok porselennya; dan dalam album studio ketiganya EUSEXUA, twigs diposisikan dekat dengan pemirsa, terlihat menatap langsung kepada kita. Kedekatan potret ini menampilkan twigs dalam kekuatan dan kerentanannya—fitur-fiturnya menjadi pusat perhatian dengan kejernihan, yang telah dihiasi dengan glitter dan perhiasan perak. Setiap sampul album menjadi bukti dari proses terus-menerus-menjadi—sebagai artikulasi dari diri-diri twigs yang berbeda. Namun, MAGDALENE menyajikan kita dengan versi twigs yang cenderung ke arah etereal dan penghormatan kepada figur Maria Magdalena.​

zoom-1
Credit: Surface Mag

“Berhubungan dengan Maria Magdalena selama beberapa tahun terakhir, secara spiritual, saya mulai mengeksplorasi [dihapus], yang merupakan ide bahwa, sebagai seorang wanita, saya bisa murni, saya bisa suci, dan saya bisa seperti bunga segar—tetapi pada saat yang sama, saya bisa menjadi sosok yang berbahaya, dan menggoda, dan maha mengetahui dan juga penyembuh. Mempelajari dualitas yang ada dalam diri saya adalah hal yang sangat menggembirakan dan saya mampu melihat diri sendiri seutuhnya- saya mampu menjadi suci seperti saya mampu menjadi sensual.” twigs menjawab dalam sebuah wawancara tentang proses artistiknya. Figurasi Maria Magdalena telah membawa interpretasi ilahi dan inspirasi di antara seniman dan teolog yang menemukan resonansi dalam kisah pengasingannya; sejalan dengan pengamatan jurnalis Eliza Griswold yang menyatakan bahwa Maria Magdalena telah secara khusus diidolakan sebagai “pelindung orang terbuang”. Melalui banyak narasi tentang Magdalena, ia telah dibayangkan sebagai seorang santo, seorang pendosa, seorang biarawati, seorang mistikus, dan istri Yesus. Griswold, yang memiliki minat terhadap figur Magdalena yang dihormati namun disalahpahami secara historis, mengamati bahwa “Maria Magdalena tetap, di atas segalanya, seorang figur liminal dan mewujudkan ketidakpastian.”​

Mungkin MAGDALENE karya FKA twigs menawarkan kemungkinan bagi twigs untuk memberikan kepastian. Ia merayakan banyaknya figur Maria Magdalena dan mengusulkan interpretasi sendiri berdasarkan pengalaman hidupnya, dimana ia memposisikan dirinya sebagai menjawab kepada roh Maria Magdalena yang membimbing proses artistiknya dan hasilnya—termasuk keputusan untuk tidak bergantung pada ikonografi religius dalam sampul albumnya. Kita merasakan penghormatan terhadap Magdalena paling kuat dalam penulisan lagu twigs, yang terlihat dalam lagu utama album berjudul mary magdalene. twigs memposisikan dirinya sebagai Magdalena dan bernyanyi:​

Saya takut dengan api

Seperti Maria Magdalena

Makhluk berhasrat

Datang sedikit lebih dekat padaku

Langkahkan sedikit lebih dekat padaku

Saya bisa membawamu ke tempat yang lebih tinggi

Saya melakukannya seperti Maria Magdalena

Saya ingin kau mengatakannya

Datang sedikit lebih dekat hingga kita bertabrakan

twigs menangani dualitas figurasi Magdalena dengan menggambarkan Maria Magdalena sebagai subjek hasrat dan seorang penyelamat—sesuai dengan pengalaman yang mendasarkan keperempuanan: “Saya pikir, bagi saya, itu berkaitan dengan emotional labour yang tidak dibayar dan tidak diakui yang dilakukan wanita ke dunia setiap hari. Tentu saja sejak saya muda, saya diajarkan untuk merawat, dan diajarkan untuk sadar diri secara sosial, dan sadar akan emosi saya dan [untuk] menjadi ibu.”​

Menyelami kompleksitas keperempuanan menjadi tema yang bergema sepanjang MAGDALENE, saat kita mendengar twigs bernyanyi tentang percampuran keinginan dan melepaskan kehidupan lama, cinta lama, dan cara menjadi yang lama. Diskursus publik telah menyebut MAGDALENE sebagai album tentang patah hati karena dugaan keterkaitannya dengan perpisahan publik dan tuduhan pelecehan seksual yang dialami FKA twigs—tetapi, twigs sendiri menolak klaim tunggal ini dan menganggap MAGDALENE sebagai album yang hanya tentang perasaan: “Maksud saya ada beberapa elemen dalam album yang menjadikan ini sebagai album patah hati, tetapi saya rasa itu tidak mengcakupi semua hal. Saya merasa ini adalah album yang bergerak dari rasa. Anda tahu, ini adalah album tentang perasaan yang saya alami. Dan kita sangat beruntung hidup di zaman di mana memiliki rasa bisa menjadi kekuatan super. Itu sangat menyatukan, dan menyenangkan untuk merasa bahwa saya tidak sendirian dalam hal itu juga.”​

zoom-2
Credit: Rolling Stone

Sensitivitas twigs tidak berhenti pada emosi—ia meluas pada penghidupan tekstur, yang muncul sebagai kekuatan sentral sepanjang album. Ini terlihat dalam permadani sonik yang kaya, di mana twigsmenjalin bersama senar-senar yang rusak, snare 808, sampel eklektik, vokal operatik, dan ritme yang puitis. Jadi, tidak mengherankan jika aransemen dan melodi album ini terasa mendalam—hanya dengan melihat kredit, kita dapat melihat deretan kolaborator bintang yang luar biasa: Arca, Koreless, Nicolás Jaar, Benny Blanco, Cashmere Cat, Noah Goldstein, Skrillex, dan Future. Koreless sendiri pernah mengatakan bahwa dia belum pernah bertemu dengan seseorang seperti twigs, memuji “ingatan suara ensiklopedis yang gila” miliknya.

Mungkin wajar untuk mengasumsikan bahwa latar belakang twigs dalam tari memberikan kontribusi besar pada kekayaan pengalaman album ini. Setelah berlatih untuk bernari sejak usia tujuh tahun, ia memiliki pengetahuan yang mendalam dan terwujud tentang koreografi—pemahaman yang melampaui penampilan dan meresap ke dalam pendekatannya terhadap suara. Sensibilitas yang terwujud ini memungkinkannya untuk memperlakukan bahan-bahan yang berbeda sebagai perpanjangan dari bahasa yang sama, menciptakan semacam simbiosis antara suara dan gerakan.

Ini telah membentuk sebuah fisikalitas yang menjadi tanda tangan dalam musiknya—kehadiran yang dirasakan yang menjalin setiap lagu, menjadikannya (meskipun dengan cara yang agak kasar) dapat dikoreografikan. Penggabungan antara suara dan tubuh ini biasanya menemukan ekspresi penuh dalam penampilan langsungnya, di mana desain panggung, koreografi, dan rekayasa suara bersatu dalam pengalaman yang viseral, seringkali memukau. Video yang beredar di internet menangkap beberapa momen ini: Twigs yang terjatuh di tengah penampilan saat Mirrored Heart, secara fisik menggambarkan rasa tak berdaya yang tertanam dalam lagu tersebut; pole-dancing ke Cellophane, sebuah tindakan yang secara visual mencerminkan spiral kesedihan; atau kedekatan yang menghantui dalam Mary Magdalene, di mana dia turun ke penonton untuk menyanyi dengan dahi bersentuhan dengan seorang asing—membubarkan ruang antara artis dan saksi. Penampilan-penampilan ini menjadi titik pusat—momen ritualistik yang menuntut perhatian penuh dari penonton, memaksa mereka untuk mengalami MAGDALENE bukan hanya sebagai kumpulan lagu, tetapi sebagai karya yang sepenuhnya terwujud dan multidimensional. Desain panggungnya yang sederhana namun efektif: latar belakang tirai yang tetap tertutup sepanjang bagian awal pertunjukan, menciptakan rasa keintiman dan pengekangan, yang kemudian terbuka di tengah-tengah—menunjukkan instalasi kotak-kotak yang terhampar di kehampaan. Di atas struktur inilah para penarinya bergantung, berputar, dan melayang, gerakan mereka mencerminkan ketegangan album antara kerapuhan dan kekuatan, kontrol dan penyerahan.

Desain panggung yang minimal namun disengaja ini menegaskan arsitektur emosional MAGDALENE, menempatkan fokus pada tubuh—batas-batasnya, keanggunannya, kapasitasnya untuk bertahan dan mengungkapkan. Dengan cara ini, twigs tidak hanya membawakan musik; dia membentuk pengalaman, mengundang penonton ke dalam ruang di mana suara, gerakan, dan metafora visual berpadu menjadi satu keadaan yang lebih tinggi.

Dalam MAGDALENE, FKA twigs membangun lebih dari sekadar album—dia menawarkan ekosistem perasaan, gerakan, dan bentuk, di mana tidak ada elemen yang terpisah dari yang lain. Kekuatan proyek ini terletak pada penolakannya untuk memisahkan suara dari tubuh, tubuh dari panggung, atau panggung dari diri. Bahkan desain visual album ini mencerminkan rasa keterikatan ini: sampulnya menampilkan potret twigs yang terdistorsi secara digital—menghantui, terpecah-pecah, namun sangat terkomposisi—mencerminkan medan emosional dari musik itu sendiri. Ini adalah gambar yang, seperti musiknya, menolak interpretasi yang mudah, mengisyaratkan distorsi dan transendensi, kerentanan dan kekuatan. Setiap detail, dari senar yang rusak dan vokal operatik hingga pole-dance dan keruntuhan puitis, bekerja bersama untuk mengungkapkan apa yang tidak dapat ditampung oleh kata-kata saja. Komitmen ini terhadap ekspresi total—fusi antara tekstur sonik, seni visual, dan kecerdasan somatik—adalah yang membuat MAGDALENE terasa lebih dari sekadar pengalaman mendengarkan dan lebih seperti sebuah pertemuan.

Apa yang twigs ungkapkan, melalui ketepatan dan kerentanannya, adalah bahwa seni yang paling kuat bukanlah tentang kesempurnaan, tetapi tentang kehadiran. Dengan mengintegrasikan ingatan suara ensiklopedisnya dengan bahasa gerakan, desain, dan seni panggung, dia mengundang kita ke dalam dunia di mana perasaan menjadi bentuk—dan di mana penyembuhan, meskipun terpecah-pecah, menjadi mungkin melalui tindakan penampilan itu sendiri.MAGDALENE tidak hanya didengar atau dilihat—tetapi dirasakan, dalam-dalam dan tak terbantahkan, sampai ke tulang.

magdalene-23
magdalene-24
magdalene-25
magdalene-26
magdalene-27
magdalene-28
magdalene-29
magdalene-30
magdalene-31
magdalene-32
magdalene-33
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.