Sulur Ingatan dan Ilusi: Membaca Pameran Natalie Sasi Organ dan Adytria Negara di ara contemporary
Akhir pekan ini, ara contemporary membuka pintunya bagi publik untuk bertemu dengan dua pameran solo perdana. Presentasi ini menandai babak baru dalam praktik setiap senimannya: Natalie Sasi Organ dari Thailand dan Adytria Negara dari Indonesia. Ada sebuah pengalaman menubuh yang saya rasakan di setiap ruang, di setiap pameran. Kedua seniman dapat “bermain” dengan bagaimana kita melihat, menghirup, dan merasakan. Di waktu yang bersamaan, ada sulur-sulur memori yang ditarik ke hidup kita hari ini lewat karya-karya yang dipamerkan.
Saat menapakkan kaki di galeri utama, pengunjung disambut oleh She lit my mouth without a word, pameran perdana Natalie Sasi Organ, disertai teks pameran oleh Vân Đỗ. Menuruni tangga ke galeri fokus, Depictions, Depictions menandai pameran solo pertama Adytria Negara, disertai teks pameran oleh Yacobus Ari R. Menyatukan dua praktik yang berbeda namun beresonansi, kedua seniman mempertimbangkan bagaimana objek mewujudkan, membangun, dan mengubah ilusi dan ingatan. Praktik Natalie berakar pada pendekatan objek sebagai wadah “ritual” yang intim. Natalie juga menjelajahi garis keturunan dan pengalaman yang mengikat di sekitarnya. Sementara, Adytria merefleksikan objek perseptual dan representasionalnya–mempertanyakan bagaimana keseharian dilihat, diingat, dan dibayangkan kembali.
She lit my mouth without a word
Dalam bahasa Indonesia, judul pameran ini berarti “dia membakar mulutku tanpa sepatah kata”, sebuah ungkapan puitis yang dimanifestasikan lewat serangkaian lukisan minyak, instalasi kinetik, patung, dan karya berbasis teks. Karya-karya ini menandai tiga tahun sejak sang seniman kembali ke Thailand, tanah kelahiran ibunya. Bergerak dalam siklus keinginan dan kehilangan, pameran ini berakar pada lanskap sensorik dan psikologis yang dibentuk oleh ingatan, ritual, dan tubuh. Di seluruh pameran, yang dipengaruhi oleh warisan Thailand-Inggrisnya, Natalie menggunakan objek dan material dari kedua konteks budaya. Ia mengkonfigurasi ulang dan merekontekstualisasikannya dari catatan sejarah personal dan kolektif.
Di antara karya-karya yang ada, sirih terus dieksplorasi oleh Natalie sebagai elemen yan kuat; membangkitkan transformasi tubuh dan pergeseran nilai-nilai budaya dari waktu ke waktu. Elemen-elemen ini berfungsi tidak hanya sebagai simbol, tetapi juga sebagai wadah ingatan yang terwujud, di mana metafora dari keintiman, kedisiplinan, dan warisan berpotongan. Melalui pendekatan ini, Natalie merefleksikan kompleksitas hubungan keluarga dan transmisi budaya, di mana kasih sayang dan pengekangan sering kali berdampingan.
Api muncul sebagai elemen yang berulang dan membimbing–dalam gestur yang intim dan seremonial. Api hadir dalam laku perawatan, serta dalam pemanggilan Yu Fai, praktik pascapersalinan Thailand. Sebagai sumber kehangatan dan kekuatan penghancuran, api beroperasi sebagai metafora yang berubah-ubah, bergerak antara “merawat” dan “merusak”, “hidup” dan “busuk”. Alih-alih iluminasi netral, pameran ini dikonsepkan melalui kehadiran cahaya api yang tidak stabil, di mana visibilitas bersifat parsial dan makna tetap berubah-ubah.
Pada akhirnya, She lit my mouth without a wor' mengeksplorasi bagaimana ingatan dilestarikan, diubah, dan diwujudkan–apa yang dipertahankan, apa yang memudar, dan apa yang terus membentuk jati diri seseorang.
Depictions, Depictions
Depictions, Depictions menjadi ruang bagi Adytria Negara untuk melanjutkan penyelidikan artistiknya tentang hakikat gambar dan objek, membangun keterlibatannya dengan trompe-l’œil: sebuah tradisi lukisan yang mengaburkan batas antara representasi dan realitas. Melalui lukisan minyak yang digarap dengan cermat, ia menciptakan kembali objek sehari-hari dalam skala yang tepat, meniru tekstur dan keberadaan materialnya dengan saksama.
Alih-alih menekankan subjek simbolis atau sesuatu yang “grande”, Adytria mengalihkan perhatiannya ke keseharian yang sering diabaikan. Praktiknya bersumber dari kepekaan yang secara informal digambarkan sebagai “memulung”: cara menemukan dan mengumpulkan objek sebagai catatan waktu, masing-masing ditandai oleh jejak penggunaan, pengabaian, dan penemuan kembali. Dalam konteks ini, tindakan “memulung” tidak hanya menjadi metode seleksi, tetapi juga cara mencari makna dalam kehidupan sehari-hari.
Di seluruh karya, objek muncul sebagai ilusi yang dibuat dengan cermat. Buku, benang, dan bentuk-bentuk yang dirakit hanya ada sebagai permukaan yang dilukis. Namun, di balik ketelitian visualnya terdapat pertimbangan ulang tentang bagaimana gambar dibentuk dan dipersepsikan. Penggambaran ini tidak sekadar mereplikasi realitas; ia membingkainya kembali, mengajak publik untuk mempertanyakan apa yang dilihat, apa yang diingat, dan apa yang tersisa. Depictions, Depictions menghadirkan karya yang secara teknis sangat teliti dan secara konseptual sangat terbuka. Dengan membayangkan kembali hal-hal yang familiar, Adytria mengusulkan keterlibatan yang lebih reflektif dengan gambar yang terungkap seiring waktu, di mana makna tidak langsung, tetapi secara bertahap menjadi fokus.
Mengunjungi kedua pameran ini adalah sebuah cara untuk mencari akar tradisi dan keseharian yang terus menjalar seiring waktu–memelankan waktu lagi untuk menyadari bahwa setiap indera menyimpan memori akan benda dan pengalaman menubuh dari masa ke masa. Kedua pameran ini dibuka untuk publik hingga 9 Mei 2026.