What Gathers, What Holds: Dini Nur Aghnia dan Upaya Menjahit Bentang Alam
Ketika membayangkan sebuah lanskap, ada bayangan tentang keagungan alam, di mana struktur alam dianggap sempurna dan utuh—seolah ia terbentuk tanpa proses. Gunung, sungai, bentang alam, dan lembah menjadi suatu tatanan yang alami; menghapus asal usulnya sebagai pembuktian atas narasi ekologi yang berakar pada diskursus kolonialisme. Narasi ini menuntut penegasan superioritas manusia, di mana alam menjadi bagian dari penaklukan, berseberangan dengan keyakinan masyarakat adat tentang ko-eksistensi alam dengan manusia. Dikarenakan hal ini, alam kerap dianggap “sebagaimana adanya”—jarang dipertanyakan—tanpa menyadari proses serta perubahan yang membentuk keberadaannya.
Dini Nur Aghnia merenungkan narasi-narasi yang terabaikan ini melalui fragmen dan relasi yang membangun sebuah lanskap. Dalam pameran terbarunya di Gajah Gallery Yogyakarta, ia membangun subjek dari “kepingan-kepingan” tersebut, dan memperlakukannya sebagai kesatuan (yang selalu) utuh, di mana ia memberi peran pada setiap bagian yang bergerak. Bagi Dini, komposisi dan proses itu sendiri memiliki bahasa, sekaligus menghadirkan paralel agensi: menyoroti benang yang menghubungkan kerja perempuan yang kerap tersembunyi.
Bertajuk What Gathers, What Holds, pameran ini menampilkan rangkaian karya yang Dini Nur Aghnia yang diciptakan sebagai upaya memikirkan ulang rangkaian bahasa visual tentang lanskap dan kerja sebagai bagaian dari “perubahan yang konstan dan akumulatif” serta meretas ulang relasi kita terhadap ekologi dan kerja rawat sebagaimana yang kita kenal. Dengan menolak pendekatan melalui komposisi, Dini mempertanyakan makna dan proses pembentukan sebuah karya-kerja domestik itu sendiri dengan menggunakan teknik patchwork dan jahitan untuk menyingkap garis keturunan perawatan dan ekspresi yang terjalin di antara perempuan Indonesia.
Sebagai upaya untuk memberi penghormatan pada sejarah kerja rawat tersendiri, karya Dini mengundang penonton untuk melihat lebih dekat, serta mengapresiasi peran rumit sedimentasi dalam menghidupkan sebuah nafas dan struktur karya. Ia menciptakan relasi audiens sebagai pendekatan untuk masyarakat agar melihat kerja-kerja perempuan yang seringkali terabaikan dan tak terlihat. Dalam Luminous Shore, ia merangkai butiran resin dan menatanya secara halus di atas papan kanvas. Elemen-elemen tersebut menyatu sebagai gradasi warna dan tekstur yang menyerupai citra lembah sungai, namun sekaligus mengajak penonton untuk mendekat, alih-alih memandang dari kejauhan.
Jika diamati lebih saksama, setiap butiran resin menyimpan kehidupannya sendiri yang berisi bunga, batu permata, atau tumbuhan. Barangkali, lanskap yang dibangun Dini adalah tentang merawat bagian-bagian yang membentuk sebuah tanah, ketika ia menemukan keindahan dalam setiap butir tanah dan setiap sedimen.
Ajakan untuk melihat keindahan lanskap secara berbeda juga terwujud dalam karya lain seperti Luminara, di mana Dini menggambarkan keutuhan sebuah gunung melalui teknik quilt patchwork. Saat mendekat, kami bisa melihat pola rumit pada setiap bagian medan gunung: di bagian atas, pola merah muda dan biru saling berkelindan, dan semakin ke bawah, semburat hijau mulai muncul, menyatu dalam keutuhan susunan kain.
Tidak ada singularitas dalam dunia Dini, karena ia menghidupkan keseluruhan dari setiap bagian yang bergerak. Barangkali, inilah cara untuk melihat alam: sebagai konstelasi relasi yang terus terbentuk, dirawat, dan dihadirkan melalui perhatian yang mendalam. Dalam praktik Dini, lanskap bergeser dari sesuatu yang dilihat atau dimiliki menjadi sesuatu yang dialami secara intim, bagian demi bagian, gestur demi gestur. Melalui keteguhannya pada proses, sentuhan, dan akumulasi, ia menata ulang cara pandang kita pada kerja yang menopang baik tanah maupun kehidupan.
Apa yang terkumpul, pada akhirnya, bukan hanya material, tetapi juga ingatan, perawatan, dan waktu. Apa yang menopang bukan semata struktur, melainkan ketekunan sunyi dari kerja yang tak terlihat—tangan-tangan yang menjahit, menata, memperbaiki, dan mengingat. Dengan demikian, Dini Nur Aghnia tidak hanya menawarkan pembacaan ulang tentang lanskap, tetapi juga penataan ulang nilai itu sendiri, di mana yang terabaikan menjadi pusat, fragmen dihargai sebagai keutuhan, dan ekologi dipahami sebagai sesuatu yang tak terpisahkan dari jalinan keberadaan kita.