Mengurai Rasa dan Sejarah: Doorway dan ruins and blueprints di ara contemporary
Ara contemporary dengan bangga mempersembahkan program pameran ganda perdananya yang berlangsung serentak di dua ruang galeri mereka: Main Gallery dan Focus Gallery. Di Main Gallery, pengunjung dapat menikmati Doorway, pameran tunggal dari seniman asal Spanyol yang berbasis di Singapura, Carmen Ceniga Prado. Sementara itu, Focus Gallery menghadirkan ruins and blueprints, pameran kelompok yang menampilkan karya tujuh seniman asal Asia Tenggara.
Dalam praktiknya, Carmen Ceniga Prado mengeksplorasi tubuhnya sendiri dan spektrum pengalaman yang menyertainya melalui pendekatan abstraksi. Ia tertarik pada nuansa-nuansa halus dan sensasi internal yang muncul sebelum sempat dikategorikan oleh tubuh atau pikiran sebagai emosi maupun sensasi fisik. Abstraksi menjadi medium untuk merepresentasikan apa yang tak berbentuk dan bersifat visceral, sekaligus membuka ruang menuju pengalaman tubuh yang lebih mendalam.
Sebelumnya, Ceniga Prado dikenal dengan karya ukir kayunya—proses yang bersifat taktil dan menuntut kerja fisik intens, namun juga menghadirkan batasan ketika mencoba menangkap keadaan yang cair dan tak pasti. Setelah didiagnosis mengalami nyeri kronis, ia mulai menjadikan lukisan dan mark-making sebagai medium untuk mengekspresikan kehadiran tubuh dan gerakannya. Dalam proses ini, ia memunculkan pertanyaan-pertanyaan seperti: Seperti apa bentuk sebuah desahan?
Pameran Doorway memuat kepekaan terhadap dinamika tubuh serta proses menghayati perubahan-perubahan halus di dalamnya. Gagasan ini kian menguat sejak Ceniga Prado pindah ke Asia Tenggara. Ia menggunakan palet warna terbatas yang diperluas melalui permainan transparansi, menciptakan efek cahaya dan bayangan alih-alih warna murni. Transisi tonal yang lembut mempertegas nuansa perubahan serta gerak subtil antar bayangan warna. Ritme dan vitalitas dari garis-garis lukisannya pun menjadi elemen utama yang menonjol.
Dalam karya-karya terbarunya, Ceniga Prado juga menjahit potongan-potongan kanvas menjadi satu kesatuan. Teknik ini menyerupai proses merangkai fragmen pemahaman hingga membentuk satu gambaran utuh—sebuah metafora atas proses mengenali tubuh internal yang terus berubah. Melalui pelacakan ritme tubuh yang sunyi, lukisannya membuka kemungkinan bahasa di luar kata, bahasa yang muncul dari ruang-ruang di antara.
Di lain sisi, pameran ruins and blueprints mengeksplorasi dialog yang terus berlangsung antara sejarah dan masa kini, khususnya melalui cara kita menafsirkan ulang peristiwa atau konteks sejarah dari sudut pandang masa kini. Tujuh seniman yang terlibat mengangkat relevansi sejarah dan bagaimana warisannya terus membentuk kehidupan saat ini, dengan menjadikan reruntuhan sebagai metafora awal.
Karya-karya dalam pameran ini mengurai bagaimana penggalian kembali sejarah dapat mengungkap ketegangan antara akurasi historis dan interpretasi kontemporer. Meski berpijak pada realitas masa kini, karya-karya ini mencerminkan bagaimana masa lalu tetap membentuk pandangan, praktik, dan tindakan saat ini. Sejarah tidak hanya menjadi masa lalu yang selesai, melainkan terus hadir dalam pengalaman hidup kita hari ini.
Melalui metafora reruntuhan dan cetakan biru, pameran ini menyiratkan relasi siklikal di mana masa lalu membentuk masa kini, dan masa kini menyusun dasar bagi masa depan. Sebuah siklus berulang antara mengingat dan membayangkan ulang. Seniman yang berpartisipasi antara lain: Agan Harahap, Dita Gambiro, Enka Komariah, Ipeh Nur, Irfan Hendrian, Lai Yu Tong, dan Natalie Sasi Organ.
Pameran ganda di ara contemporary ini berlangsung hingga 3 Agustus 2025.