Menjaga Kemanusiaan: Art SG dan The Humane Agency
Dalam lanskap Singapore Art Week (SAW) yang semakin berlapis dan kosmopolitan, seni berfungsi bukan semata sebagai objek visual atau komoditas budaya, melainkan sebagai titik temu: sebuah ruang perjumpaan di mana gagasan, pengalaman, dan perbedaan dapat dinegosiasikan secara kolektif. Peran ini menjadi semakin signifikan dengan kehadiran S.E.A. Focus untuk pertama kalinya di ART SG: sebuah kolaborasi strategis yang menandai babak baru bagi platform ini sekaligus memperluas medan dialog seni kontemporer Asia Tenggara menuju konteks global yang lebih luas. Dengan mengintegrasikan S.E.A. Focus ke dalam salah satu pameran seni internasional terkemuka di kawasan ini, Singapura semakin menegaskan posisinya sebagai simpul budaya yang mempertemukan praktik-praktik regional dengan audiens, kolektor, dan wacana internasional.
Bersama ART SG, S.E.A. Focus beroperasi sebagai salah satu pilar utama SAW, berfungsi sebagai ruang pertemuan antara seni, pasar, dan diskursus kritis. Di sini, seni diposisikan sebagai bahasa bersama yang memungkinkan dialog lintas batas – baik kultural, geografis, ideologis, maupun generasional – sekaligus memperkuat agenda kosmopolitan yang dijanjikan SAW. Sebagai respons terhadap fragmentasi yang dihasilkan oleh ketidakpastian global, S.E.A. Focus memposisikan seni sebagai bentuk “solusi sementara”, yang menawarkan kemungkinan jeda: untuk memperlambat ritme dan persepsi, membuka diri terhadap refleksi, serta mengundang kembali koneksi antarmanusia. Perlakuan terhadap seni dalam konteks ini berdekatan dengan abstraksi ruang white cube, di mana konteks-konteks tertentu diredam dan estetika menjadi objek sekaligus subjek utama perhatian.
Narasi ini dieksplorasi melalui tema kuratorial The Humane Agency, yang dikuratori oleh John Tung dengan konsultasi artistik oleh Emi Eu, Direktur Eksekutif STPI. Alih-alih memosisikan seniman sebagai pengamat yang berjarak, tema ini menempatkan perupa sebagai agen aktif dari realitas masing-masing. Praktik artistik mereka menyoroti welas asih, kepekaan, dan tanggung jawab etis sebagai “aset” dalam merespons narasi-narasi yang dihasilkan mesin, yang kian beredar dan bahkan mendominasi dunia kita. The Humane Agency mengajukan gagasan bahwa praktik seni memiliki kapasitas untuk tetap berakar pada kemanusiaan kita, di mana karya seni menjadi wadah untuk mengartikulasikan bagaimana kita merasakan, memahami, dan menanggapi dunia.
Dalam kerangka kuratorial ini, karya-karya yang dipresentasikan tidak semata dimaksudkan untuk “mewakili” isu-isu tertentu, melainkan untuk menetapkannya sebagai topik yang layak didiskusikan; dengan demikian menciptakan titik temu emosional dan intelektual antara seniman dan audiens. Seni menjadi medium yang menghubungkan pengalaman personal dengan kondisi kolektif, serta memungkinkan kompleksitas untuk muncul tanpa menyederhanakan realitas yang dihadapi. Dengan mempertemukan praktik dari seniman mapan maupun yang tengah berkembang, S.E.A. Focus 2026 membangun sebuah narasi yang beragam, non-linear, dan saling beririsan, yang pada akhirnya mencerminkan dinamika Asia Tenggara itu sendiri.
Sebagai titik temu dalam ekosistem SAW yang lebih luas, S.E.A. Focus di ART SG juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara kurator, galeri, institusi, dan pasar seni, dalam membangun ekosistem seni yang berkelanjutan. Lebih dari sekadar pameran, platform ini membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, pengembangan praktik kuratorial, serta potensi perluasan jejaring bagi seniman Asia Tenggara. Dalam konteks ini, seni tidak hanya dipamerkan, tetapi diaktifkan sebagai ruang bersama di mana solidaritas, imajinasi, dan kemungkinan masa depan dapat dinegosiasikan secara kolektif.