Tiga Dekade Gajah Gallery: Merayakan Seni Asia Tenggara dalam Satu Langit
Pada 18 Juni, bertepatan dengan Lebaran Seni Rupa di Yogyakarta, Gajah Gallery membuka pameran Many Horizons, One Sky. Ini adalah cara galeri merayakan tiga puluh tahun perjalanannya melalui presentasi yang menampilkan 19 seniman dari berbagai generasi, medium, dan wilayah Asia Tenggara.
Tiga dekade adalah waktu yang cukup panjang untuk melihat lanskap seni berubah, seniman berkembang, dan cara pandang terhadap seni kontemporer Asia Tenggara bergeser. Gajah Gallery telah hadir dalam semua perubahan itu. Melalui pertukaran budaya, program residensi, dan kolaborasi lintas negara, galeri ini telah membuka ruang bagi praktik-praktik seni Asia Tenggara untuk dilihat dan dipahami secara internasional.
Visi yang mengakar di balik semuanya cukup sederhana tapi kuat: seni kontemporer Asia Tenggara memiliki bahasa visual, perspektif, dan posisi kritis yang spesifik. Ia bukan perluasan dari narasi global yang lebih besar, melainkan pembicaraan yang berdiri sendiri dengan relevansinya sendiri.
Many Horizons, One Sky adalah pameran yang mempertemukan dialog lintas generasi. Seniman-seniman yang sudah mapan hadir bersama nama-nama yang terus berkembang. I Gusti Ayu Kadek Murniasih menghadirkan lukisan dan patung lunak dengan bahasa visual yang radikal. Semsar Siahaan menjadikan praktik seninya sebagai ruang untuk menyuarakan kritik sosial di masa yang kompleks. Ugo Untoro merenungkan eksistensi manusia dalam kehidupan kontemporer, sementara Handiwirman Saputra mencari keindahan yang tersembunyi di balik objek-objek sehari-hari.
Karya terbaru Yunizar, yang dipresentasikan untuk pertama kalinya, membawa penyederhanaan figur dan objek melalui pendekatan yang intuitif dan penuh rasa. Ini adalah langkah artistik yang berbeda dari apa yang sebelumnya dilakukan seniman ini, menunjukkan bagaimana praktik seni terus berkembang dan bergeser.
Generasi muda juga membawa energi berbeda. Rosit Mulyadi menggunakan apropriasi untuk kritik sosial-politik. Ridho Rizki memadukan pointilisme dan impresionisme dalam still life. Kayleigh Goh bekerja dengan semen dan gesso untuk mengeksplorasi materialitas dalam lanskap urban. Jemana Murti menggunakan cetak 3D untuk menyoroti relasi antara teknologi dan tradisi. Dini Nur Aghnia, Satya Cipta, dan Fika Ria Santika membawa eksperimen artistik dan penelisikan material yang mencerminkan pergeseran visual di kawasan ini.
Pameran ini juga menampilkan karya dari Yogya Art Lab, sebuah studio pengecoran perunggu yang berfungsi sebagai ruang eksperimen dan pertukaran antara seniman dan perajin lokal. Di sini, pendekatan artistik diterjemahkan ke dalam bentuk tiga dimensi. Gestur intim dalam karya Benedicto "BenCab" Cabrera. Kepekaan sosial Charlie Co. Penggambaran alam puitis Han Sai Por. Eksplorasi Jigger Cruz tentang permukaan dan bentuk. Penelusuran Jane Lee tentang batas-batas material. Refleksi Ashley Bickerton tentang hubungan manusia dengan alam. Dan respons Wei Ligang terhadap pengalamannya di Yogyakarta.
Melalui pameran ini, Gajah Gallery menegaskan kembali visinya: seni sebagai kekuatan yang mampu menggerakkan, menghubungkan, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru.
Many Horizons, One Sky berlangsung hingga 19 Juli 2026 di Gajah Gallery Yogyakarta.