Visual “5 Centimeters per Second” dari Animasi ke Live Action
Byōsoku Go Senchimētoru atau 5 Centimeters per Second adalah sebuah eksperimen Makoto Shinkai di masanya. Dirilis pada 3 Maret 2007, Film yang diproduksi oleh CoMix Wave Films ini menyajikan hal yang berbeda dari film-film Makoto Shinkai sebelumnya seperti Someone's Gaze (2013) Voices of a Distant Star (2002) She and Her Cat (1999), dan The Place Promised in Our Early Days (2004). Di sini ia tidak melibatkan unsur fantasi, alih-alih Ia justru menyajikan realitas sehari-hari. Karena hal ini, beberapa penggemar memuji film ini sebagai salah satu film terbaik dari Shinkai.
Film ini merangkai tiga babak perjalanan asmara Takaki Tōno dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Sejak awal, film ini tidak bergerak lewat konflik besar. Ia berjalan melalui detail keseharian, pergerakan waktu, dan jarak yang perlahan melebar. 5 Centimeters per Second merujuk pada kecepatan jatuhnya kelopak bunga sakura, sebuah ukuran yang terasa kecil, nyaris sepele, namun tidak bagi Makoto Shinkai.
Kisah 5 Centimeters per Second bermula dari masa kanak-kanak Takaki Tōno, saat ia bertemu Akari Shinohara di bangku sekolah dasar. Kedekatannya dengan Akari tumbuh dari kebiasaan kecil dan rasa saling mengerti. Hubungan itu mulai retak ketika jarak geografis masuk tanpa kompromi. Akari pindah ke Tochigi, lalu Takaki menyusul dengan kabar bahwa ia akan pindah lebih jauh lagi ke Kagoshima. Perjalanan kereta yang panjang, cuaca yang tidak bersahabat, dan hal-hal yang gagal tersampaikan membentuk pengalaman cinta pertama Takaki. Kedekatan yang semula terasa utuh perlahan berubah menjadi sesuatu yang rapuh dan sulit dijangkau.
Film ini membawa pentonton mengikuti dinamika perasaan Takaki. Memasuki masa remaja, Takaki terus hidup dengan hati dan pikiran yang terpaut pada masa lalu. Di Tanegashima, ia hadir sebagai sosok yang diam dan tertutup, membuat orang di sekitarnya merasa dekat sekaligus jauh. Bahkan jauh setelahnya, ketika ia akhirnya hidup di Tokyo sebagai orang dewasa, pekerjaan dan rutinitas tidak sepenuhnya menutup jarak yang terus ia bawa.
Secara visual, film ini adalah definisi estetika Jepang Mono no Aware, atau kesadaran akan kefanaan. Shinkai sangat obsesif dengan detail latar belakang: awan, kabel listrik, minimarket, dan pantulan cahaya di kereta. Dunia digambarkan sangat indah dan detail, kontras dengan perasaan karakter yang kesepian dan hampa. Seakan menekankan bahwa dunia terus berputar di tengah kenangan, harapan, dan waktu saling berkelindan tanpa pernah benar-benar selesai.
Hampir dua dekade setelah rilis animasinya, 5 Centimeters per Second hadir dalam versi live action. Film ini akan tayang di bioskop Indonesia mulai 30 Januari 2026, setelah sebelumnya melakukan penayangan perdana di Busan International Film Festival 2025 dan rilis di Jepang pada Oktober 2025. Disutradarai oleh Yoshiyuki Okuyama dengan skenario Ayako Suzuki, film ini dibintangi Hokuto Matsumura sebagai Takaki dan Mitsuki Takahata sebagai Akari, bersama jajaran pemeran lain seperti Nara Mori, Yuzu Aoki, hingga Aoi Miyazaki.
Makoto Shinkai menyampaikan respons personal terhadap adaptasi ini. Ia menyebut sempat merasa tidak nyaman, seolah menyerahkan tongkat estafet kepada generasi lebih muda. “Tapi seketika saya mulai terhanyut oleh visualnya, dan pada akhirnya, yang mengejutkan saya, saya menangis,” ujarnya. “Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk Okuyama dan seluruh kru,” lanjut Makoto Shinkai.
Okuyama sendiri menyebut proses dua tahun pengerjaan film ini sebagai pengalaman pertama memahami makna bekerja dalam tim secara penuh. “Selama dua tahun terakhir, saya telah mencurahkan hampir seluruh waktu saya untuk karya ini. Untuk pertama kalinya, saya benar-benar merasakan dari lubuk hati yang terdalam apa artinya ‘menciptakan sesuatu dalam sebuah tim.’ Kami semua mengerjakan film ini dengan sepenuh hati, dan menghargai setiap langkah dalam proses pembuatannya,” terangnya.
Versi live action ini tentu menawarkan sudut pandang baru atas kisah yang sudah dikenal, tanpa menghapus jejak animasinya. Ia hadir sebagai kelanjutan dialog tentang jarak, waktu, dan upaya melepaskan. Hal yang sejak awal membuat 5 Centimeters per Second terus diingat dan dibicarakan.