Ruang-Ruang di Antaranya: Membaca Tema International Design Day 2026

Apa yang terjadi ketika desain tak lagi dibaca sebagai hasil akhir, melainkan sebagai apa yang terjadi di antaranya?

International Council of Design (ICoD) secara resmi mengumumkan tema International Design Day (IDD) 2026: The Spaces In Between(Ruang-ruang di Antaranya), yang mengajak pelaku desain untuk memahami bahwa apa yang terjadi di antara kita itu penting. Selama ini, di belahan dunia mana pun, desain hanya dilihat melalui objek, output, produk final. Padahal, apa yang terjadi di antara praktiknya–di setiap sela prosesnya–justru merupakan makna yang paling dalam dan berarti, baik di ruang fisik, digital, atau emosional. Ruang-ruang di antara praktik desain yang kita lakukan sehari-hari merupakan wadah koneksi antarmanusia, membuka kemungkinan yang mustahil untuk direka ulang oleh teknologi apa pun.

Society for Experiential Graphic Design (SEGD) menjadi tuan rumah untuk perayaan International Design Day tahun ini. Para desainer di seluruh dunia diundang untuk menempatkan fokus pada ambang di mana ide dan proses menjadi pengalaman, individu menjadi komunitas, dan desain menjadi cara kita merasa, berelasi, dan hidup berdampingan dengan satu sama lain.

Mengapa ruang di antaranya itu penting?

Pertanyaan itu mungkin muncul di benak kita yang selama ini bekerja dalam sistem kapital yang hanya menunggu hasil akhir, yaitu rancangan yang paling baik. Di Indonesia sendiri, berkaca pada kasus-kasus di industri kreatif yang akhir-akhir ini terjadi; ide, proses, dan kolaborasi seakan sangat sedikit nilainya–nol bahkan! Mungkin ini waktunya kita untuk semakin menyadari dan menyuarakan bahwa desain itu bukan hanya soal hasil, objek yang kita buat. Desain lebih dari itu–tentang apa yang terjadi di antara manusia dalam ruang fisik, digital, dan emosional yang memungkinkan ide tercipta dan koneksi terbentuk. Ambang inilah tempat desain menemukan bentuknya; menjadi jembatan dan instrumen komunikasi yang membuat kita semakin mudah untuk memahami dan peduli.

Alih-alih dalam waktu singkat, relasi antarmanusia terbentuk secara bertahap melalui proses yang tidak mudah. Ruang-ruang di antara praktik kita sehari-hari, mulai dari bertemu, saling menunggu, berdiskusi, mendengarkan, saling meragukan, hingga berdebat, memengaruhi proses kreatif kita dan bagaimana kita bergerak bersama–dan proses itu begitu “mahal” nilainya. Praktik desain memainkan peran penting dalam membentuk proses tersebut, namun sayangnya ruang-ruang itu justru paling jarang dibicarakan dan dirancang secara sadar. Padahal, ada kekuatan besar yang tersimpan di dalamnya yang bisa menjadi alat untuk desain yang terus bernapas.

Di perayaan International Design Day tahun ini, kita bisa ambil waktu untuk melambat dan melihat lebih dekat ambang-ambang tempat proses dan koneksi itu terbentuk.

Membaca desain dari apa yang tidak bisa diukur

Hari ini, terutama di Indonesia, desain dinilai dari apa yang bisa diukur. Kriteria ini tentunya penting, tapi tidak cukup untuk menjelaskan bagaimana desain dialami dan dirasakan, karena “produk” desain akan berlanjut ke dalam pengalaman, perilaku sehari-hari, emosi, dan ingatan. International Council of Design mengajak kita untuk mengingat dan merefleksikan kembali: desain poster yang menjadi awal sebuah gerakan, desain rabu yang menuntun orang asing pulang, deskripsi karya di museum yang membantu orang memahami, desain digital yang mengundang empati dan partisipasi, dan logo yang merayakan identitas.

Dalam berbagai skala dan bentuk, desain membentuk cara kita hidup bersama dan merasa menjadi bagian dari sesuatu. Rasa itu sama bermakna dengan objek yang dapat diukur. Maka, tema tahun ini menantang desainer untuk membaca desain dari hal-hal yang tak bisa diukur, mempertimbangkan bagaimana karya desain mampu memfasilitasi koneksi dan pengalaman. Ini juga menjadi titik awal dari edukasi untuk para pemangku kebijakan dan masyarakat luas untuk juga melihat desain dari hal-hal yang tak dapat diukur.

Pada akhirnya, melampaui itu semua, tema International Design Day tahun ini membawa kita kembali pada akar, yaitu apa yang kita sebut “komunikasi visual.” Mampukah desain kembali menjadi instrumen komunikasi yang lebih dari sekadar “produk akhir”? Mampukah desain kembali menjadi ruang berproses dan bertemu?  Kita hidup di era komunikasi digital tanpa henti. Begitu mudah dan cepatnya kita berjejaring. Namun, ironisnya, ada keterputusan koneksi yang mendalam, ada kerinduan akan ruang yang menjadikan kita “sangat manusia.” Teknologi memungkinkan komunikasi instan, tetapi banyak dari kita yang mengalami isolasi, polarisasi, dan kecemasan. Kecepatan, efisiensi, dan skala, dan semua yang mampu kita hitung sering kali hanya menyisakan sedikit ruang untuk kepedulian.

Desain memiliki kekuatan untuk membangun kembali ruang yang mempertemukan manusia. Dalam setiap prosesnya, desain membentuk cara kita bergerak, berbagi ide, saling merawat, dan membayangkan masa depan bersama.

Identitas Visual IDD2026

Identitas visual International Design Day 2026 dikembangkan oleh Holmes Studio yang dipimpin oleh Founder dan Creative Director Lucy Holmes, anggota dewan SEGD dan desainer yang diakui secara internasional. Holmes Studio menghadirkan pendekatan strategis yang berpusat pada manusia, menerjemahkan fokus tema pada koneksi, transisi, dan ruang bersama ke dalam identitas visual yang fleksibel untuk partisipasi global.

About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.