“The Mountain, The Moon Cave & The Sad God” adalah Nostalgia dan Ode Gorillaz pada Praktik Analog

Awal tahun ini, Gorillaz merilis animasi pendek berjudul The Mountain, The Moon Cave & The Sad God, dan sehari setelah rilisnya, seorang teman mengirimkan teks: “Gue nggak tahu apa yang bikin animasi baru Gorillaz bikin kangen masa kecil dulu.” Setelah menyaksikan Noodle, Murdoc, 2D, dan Russel berpetualang di India, saya menyadari bahwa animasi ini adalah sebuah bentuk nostalgia dan catatan dari visual-visual yang sangat familiar.The Mountain, The Moon Cave & The Sad God layaknya sebuah ode dan penghormatan kepada animasi klasik The Jungle Book.

Setiap rilisnya, Kong Studios (studio milik para member Gorillaz) selalu merekam cerita perjalanan kuartet fiksi tersebut yang absurd. Kali ini, Murdoc, Russel, 2D, dan Noodle sampai di Mumbai dengan bantuan empat paspor palsu dari seorang kenalan bisnis Murdoc. Band ini diceritakan telah meninggalkan mimpi mereka untuk menjadi bintang pop global. Di tengah rimbunnya pegunungan India, mereka mempertanyakan lagi soal eksistensi diri dan kehidupan dalam balutan proses pembuatan musik yang mistis. 

Animasi yang diberi judul dari tiga lagu dalam album terbaru Gorillaz, The Mountain, ternyata diproduksi dengan metode hibrida: lukisan tangan asli dengan sentuhan digital, properti fisik dengan trik pencahayaan, dan efek optik film yang “lawas”. Praktik analog dan digital bertemu dalam sebuah karya yang sangat autentik dan memantik memori penontonnya. Di tengah gempuran Akal Imitasi (AI), para seniman di balik The Mountain, The Moon Cave & The Sad God merayakan kerja-kerja kreatif yang sangat berakar pada kerajinan tangan manusia, sesuatu yang tentunya kita rindukan–satu poin tambahan untuk nostalgia.

Sutradara dari animasi ini, Max Taylor dan Tim McCourt dari The Line, menjelaskan bahwa setiap komponen visual memberikan kesan animasi Western tahun 1950 hingga ’60-an. “Dari awal hingga akhir, kami crafting setiap komponennya; meniru bagaimana proses tersebut dilakukan di era analog, sehingga efek akhirnya adalah penonton merasa bahwa animasi ini merupakan karya yang konkret,” kata Max Taylor.

Gagasan awal dari animasi The Mountain, The Moon Cave & The Sad God ini datang dari salah satu pendiri Gorillaz, Jamie Hewlett. Sang seniman memiliki visi untuk membangkitkan praktik animasi klasik seperti teknik melukis sel yang kemudian difotokopi–sebuah proses yang dipopulerkan oleh animasi Disney pada akhir tahun 1950-an. “Salah satu hal yang kami sukai dari era itu adalah ketika para animator melakukan Xeroxing atau fotokopi ke selulosa,” jelas Tim McCourt. Max Taylor menambahkan bahwa mereka menggunakan garis pensil untuk memastikan hasil akhir terasa seperti fotokopi, lalu menambahkan warna dengan tekstur bintik-bintik dan bayangan halus. Meskipun animasi ini tidak dibuat di atas seluloid, mereka tetap berusaha untuk mereplikasi butiran film seluloid dengan menggunakan hasil pemindaian film asli yang ditumpangkan pada adegan.

“Dalam animasi tersebut, terdapat banyak efek optik di mana kami merekam komponen asli secara langsung. Kemudian, kami meniru eksposur ganda yang biasa dilakukan pada film-film jadul. Sedangkan untuk tekstur noise, itu adalah film yang dipindai–film kosong yang ditumpangkan untuk memberikan gambaran akhir tekstur film asli. Kami juga memperkenalkan gate wave, goyangan khas film saat melewati proyektor, untuk memperkuat efek lawas tersebut,” papar Tim.

Rekaman live action dan properti fisik juga memainkan peran penting, contohnya buku dongeng yang menjadi opening animasi ini. Tim kreatif bekerja sama dengan salah satu penjilid buku lawas yang tersisa di London bernama Wyvern Binderi. Di balik bingkai pembuka animasi yang begitu cantik, ada buku tua yang dipasangi kawat piano sehingga halaman-halamannya tampak terbuka secara ajaib. Eksperimen “analog” mereka tidak berhenti di situ saja; bahkan untuk elemen yang tampaknya kecil pun, mereka melibatkan eksperimen langsung. Untuk logo gunung emas bercahaya yang muncul dalam animasi ini, tim kreatif merancangnya dari lembaran akrilik hitam dan menggunakan pengaturan kamera rostrum yang rumit untuk menciptakan efek asap di bawah lembaran tersebut. 

Latar atau background yang dilukis adalah contoh eksperimentasi lainnya. Praktik tersebut dirasa menguatkan kesan impresionisme dan menyoroti kedalaman bidang dengan dedaunan yang muncul sebagai gugusan titik-titik samar. Art Director dalam proyek ini, Eido Hayashi, mendorong tim untuk menemukan titik tengah antara praktik kesenian autentik dan kepraktisan produksi. Solusinya adalah melukis dasar secara manual, lalu menambahkan detail secara digital. Hasilnya? Tidak ada yang bisa menebak prosesnya–namun tekstur dari latar di setiap frame-nya begitu indah, seakan membawa penonton masuk ke “buku dongeng”.

Elemen penting lainnya yang menjadi kunci dari setiap rilisan animasi Gorillaz adalah desain karakternya–ciri khas dari band asal UK tersebut. The Mountain, The Moon Cave & The Sad God memperkenalkan Murdoc, Russel, 2D, dan Noodle yang lebih membumi. Kreator dari animasi ini juga memberikan penghormatan pada dongeng anak-anak seperti The Jungle Book lewat karakter anak kecil yang membuka kisah dalam animasi ini, yang kemudian bertransisi menjadi Noodle. 

Mungkin itulah mengapa The Mountain, The Moon Cave & The Sad God begitu nostalgik hingga ada kerinduan akan masa kecil, masa lalu yang hangat. Setiap elemen visual dari karya ini memang membawa kita kembali ke masa lampau yang masih merayakan praktik analog, ketidaksempurnaan, dan eksperimentasi yang luas.

web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
web-27
web-28
web-29
web-30
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.