Arsitektur Dialog Staging Desire 

Medan yang membentuk sebuah pameran diharapkan dapat menentukan gerak pengunjung, memberikan kita—sebagai penonton—sebuah kejelasan dalam pengalaman. Kita menjadi aktor begitu memasuki ruangnya; kurasi menjadi arah, menentukan garis pandang: ke mana harus melihat, dan kapan harus mengalihkan. Pameran dapat dianggap sebagai teater—atau bahkan kedua format bisa dipadukan. Bukankah seni pada akhirnya adalah bentuk performance (pertunjukan) juga? Pertanyaan ini dieksplorasi melalui Staging Desire di Komunitas Salihara, ketika abstraksi menjadi narasi dan identitas/ingatan dipertaruhkan.

“Penyebutan pameran ini sebagai dialog, bukan kolaborasi, adalah pilihan yang disengaja,” ujar Ibrahim Soetomo, Manajer Galeri Salihara, dalam perbincangan kami. Pameran ini mempertemukan dua seniman: Imam Sucahyo dan Nindityo Adipurnomo, dalam eksplorasi mereka terhadap hasrat sebagai penuntun praktik artistik masing-masing. Inisiasi ini dimulai dari penemuan Nindityo terhadap karya Imam melalui Instagram, hingga akhirnya berkunjung ke Tuban. Nindityo tertarik pada material Wayang milik Imam, yang dibuat dari fragmen-fragmen yang ditemukan di berbagai penjuru Tuban—sebuah perwujudan dari ingatan dan refleksi Imam, serta hubungannya dengan tempat itu. Nindityo sendiri tertarik pada bentuk material sebagai artikulasi dari “identitas”, baik personal maupun kolektif, yang dieksplorasi melalui karya-karya patungnya. Karya patung Nindityo bersifat terstruktur dan penuh perhitungan—berbanding terbalik dengan karya Imam yang bersandar pada fragmen—namun keduanya tetap saling bersinggungan dalam pemikiran mereka mengenai lingkungan, makna, dan masyarakat. Pertemuan antara kedua pembuat ini menandai kesejajaran dalam praktik mereka, yang kemudian melahirkan pameran ini.


zoom-1
Credit: Witjak Widhi Cahya, Komunitas Salihara Arts Center

“Peran saya lebih banyak dalam memfasilitasi dialog dan interaksi di antara mereka,” ungkap Zarani Risjad, kurator Staging Desire sekaligus salah satu pendiri Baseline Studio. “Sangat menarik terlibat dalam kerja sama mereka dan menyaksikan bagaimana mereka bergerak dari ontologi yang berbeda, yang kemudian menemukan bentuknya melalui pertemuan dalam praktik.” Perbedaan bentuk di antara keduanya menyatu di ruang pameran, dan justru melahirkan percakapan di antara berbagai material. Mungkin kita membaca ruang ini sebagai rancangan untuk menunjukkan perbedaan praktik antar seniman; di sini, kita menyaksikan jarak dalam dialog mereka, yang bisa meletup menjadi konflik (antar karya ataupun seniman) atau justru menyatu bila kita mengikuti sirkularitas ruang galeri—membawa kita melintasi dua dunia.


zoom-2
Credit: Witjak Widhi Cahya, Komunitas Salihara Arts Center

Pertemuan antara Imam dan Nindityo berpuncak dan mewujud dalam karya utama pameran ini: reruntuhan sebuah rumah di Tuban yang dibawa ke ruang galeri, dihiasi dengan Wayang karya Imam dan patung karya Nindityo. Dialog antar karya bersifat abstrak—tanpa narasi atau naskah yang mengikat. Ia muncul dari penempatan dan interaksinya, dan mungkin pengunjung diberi kebebasan untuk memutuskan siapa yang sedang berdialog dan siapa yang tetap dalam monolog. Di atas rumah tersebut, menggantung bulan—meniru tata letak latar panggung. Di dalam rumah, sebuah film diputar melalui televisi, menampilkan kehidupan bentuk Wayang dalam lanskap Tuban. “Rumah adalah elemen penting bagi kedua seniman; bagi Imam, ia membangkitkan ingatan, dan bagi Nindityo, rumah memicu pertanyaan tentang perwujudan dan identitas—apa makna rumah dalam relasi seseorang terhadap tempat? Penempatannya di tengah ruang juga menunjukkan bagaimana rumah menjadi titik temu eksplorasi (artistik) mereka,” jelas Ibrahim.

Staging Desire menunjukkan bahwa pameran dapat menjadi situs, naskah, dan panggung—di mana identitas dan ingatan tidak hanya ditampilkan, tetapi dihidupkan melalui pertemuan. Dengan demikian, pameran ini tidak sekadar menjadi panggung bagi objek, tetapi ruang bersama untuk berbicara, bertubrukan, dan sesekali menyatu.

Staging Desire adalah pameran kolaboratif antara Baseline Studio dan Komunitas Salihara, terbuka untuk umum dari tanggal 14 Juni hingga 27 Juli 2025, setiap Selasa sampai Minggu, pukul 10.00–18.00 WIB.



web-21
web-22
web-23
web-24
web-25
web-26
About the Author

Sabrina Citra

Sabrina Citra is a researcher who is based in Jakarta. She is currently interested in the intersection of aesthetics, cultural studies and language/linguistics.