Sho Shibuya, Melukis Berita dari Sebuah Jendela


Setiap pagi, sebelum kota sepenuhnya bergerak, Sho Shibuya berdiri di dekat jendela apartemennya di New York. Dari ruang yang sempit, ia memotret matahari terbit. Setelah itu ia membaca berita hari itu, berlari sebentar, membeli edisi terbaru The New York Times, lalu mulai melukis. Rutinitas ini ia ulangi hampir tanpa jeda sejak awal pandemi. Ia melukis rangkaian langit pagi yang datar, tenang, dengan potongan berita di bagian bawah. Ia hanya melukis impresi waktu. Tidak ada ilustrasi peristiwa serta komentar visual di atas isi berita. 

Ukuran kanvas yang ia gunakan sama dengan ukuran halaman depan The New York Times, sekitar 12 x 22 inci. Shibuya menyamakannya dengan jendela apartemen khas New York. Skala ini adalah bagian dari caranya memposisikan lukisan sebagai penghubung antara ruang privat dan dunia luar. Dari jendela itulah ia menyaksikan dunia bergerak, dan dari koran itulah ia mengetahui apa yang terjadi di luar jangkauan pandangan.

Sebelum dikenal sebagai pelukis, Shibuya adalah direktur artistik dan pendiri Placeholder, studio desain yang berbasis di New York. Ia bekerja dengan klien, tenggat, dan kebutuhan visual yang jelas. Melukis baru ia mulai pada 2016, tanpa latar pendidikan seni rupa formal. “Aku tidak tahu sama sekali caranya melukis,” ujarnya dalam wawancara dengan It’s Nice That. Ketertarikannya muncul ketika ia tengah mengerjakan sebuah kampanye yang melibatkan beberapa kaligrafer lokal. “Mereka mengerjakan proyek kami di studio kecil kantor kami. Ketika aku mengerjakan desain grafis, mereka melukis di belakangku, dan aku penasaran dengan prosesnya.” Dari sana Ia belajar dengan mencoba, gagal, lalu mengulanginya.

Peralihan medium ini tidak mengubah cara berpikirnya secara mendasar. Prinsip desain tetap ia bawa ke dalam lukisan. Konsep selalu didahulukan daripada tampilan. Visual harus melayani gagasan. Ia terbiasa melakukan riset sebelum membuat sesuatu yang tampak sederhana. Pendekatan ini membuat lukisannya terlihat langsung dan mudah dibaca, dan di saat yang sama tidak terlihat instan. Kesederhanaan di permukaan menyimpan lapisan waktu, konteks, dan keputusan yang berulang. Pendekatan ini tidak jauh dari cara ia bekerja dengan klien sebagai desainer. “Bedanya sekarang, kilennya adalah diriku sendiri,” ujarnya.

zoom-1


Salah satu pengaruh penting dalam cara Shibuya memandang waktu adalah On Kawara. Ketika mengunjungi Dia Beacon dan melihat karya Kawara, ia tersentak oleh bagaimana sesuatu yang sangat biasa bisa menjadi penanda eksistensi. Tanggal, hari, waktu. Semua dicatat tanpa dramatisasi. “Kau bisa menceritakan sebuah kisah dengan sesuatu yang begitu sehari-hari,” kata Shibuya. Dari sana ia mulai memikirkan bagaimana objek sehari-hari bisa memuat sejarah tanpa harus menjelaskannya secara verbal.

Ketertarikan ini kemudian bertemu dengan situasi global pada 2020. Pandemi memaksa orang tinggal di dalam ruang yang sama setiap hari. Kota melambat. Jalanan New York yang biasanya padat menjadi lengang. Di saat yang sama, arus berita justru semakin padat. Angka kematian, kebijakan darurat, ketegangan politik. Shibuya merespons situasi ini dengan format yang kemudian dikenal sebagai Sunrise from a Small Studio. Setiap hari, ia melukis gradasi langit pagi, lalu menempelkan potongan berita hari itu di bagian bawah kanvas.

Ia tertarik pada kontras yang muncul dari dua lapisan ini. Di satu sisi, langit yang tidak berubah drastis dari hari ke hari. Di sisi lain, berita yang selalu bergerak dan sering kali keras. “Kontras antara berita politik dan ketenangan alam menciptakan realitas yang penuh muatan dan dinamis,” ujarnya dalam wawancara dengan Visual Atelier 8. Lukisan-lukisan ini tidak berusaha menenangkan atau menghakimi. Ia mengundang refleksi yang jauh lebih kompleks dengan meletakkan dua realitas tersebut dalam satu bidang. 

Bagi Shibuya, praktik ini bersifat personal sekaligus fungsional. “Aku mulai melukis di atas The New York Times, seolah-olah menghapus berita dengan alam, dan itu membuatku tetap waras,” tegasnya. Format ini, bagaimanapun, menurutnya semacam meditasi. Rutinitas harian memberi struktur pada hari-hari yang seragam. Ia memperlakukan melukis seperti kebutuhan dasar seperti halnya makan dan tidur. Pernyataan ini tidak terdengar metaforis. Ia benar-benar memosisikan praktik artistik sebagai bagian dari hidup, alih-alih sekadar aktivitas tambahan.

Disiplin memainkan peran penting di sini. Shibuya mengakui bahwa ia terbiasa melanjutkan sesuatu dalam jangka panjang. Ia mengaitkan hal ini dengan latar budaya Jepang, di mana konsistensi dan pengulangan dianggap bernilai. Aturan-aturan kecil ia buat sendiri: ukuran kanvas tidak berubah, format tetap, urutan kegiatan hampir sama setiap hari. Dalam ruang yang terbatas ia justru bebas bergerak. 

Namun praktik ini tidak sepenuhnya statis. Pada 2 Juni 2020, setelah pembunuhan George Floyd, Shibuya menghentikan lukisan matahari terbitnya untuk satu hari. Ia membuat satu kanvas hitam dengan judul yang merujuk pada tanggal tersebut. Keputusan ini menandai perubahan sikap. Ia tidak lagi hanya meletakkan berita di bawah langit, tetapi membiarkan berita menentukan seluruh bidang visual. 

Sejak saat itu, ia mulai lebih sering merespons peristiwa tertentu secara langsung, tetap dengan bahasa visual yang hemat. Ia memilih simbol yang cukup terbuka untuk dibaca, dirasakan, dan dibagikan secara naluriah tetapi tetap terikat pada konteks waktu. “Meskipun Aku menyertakan cerita dalam lukisanku, Aku juga menerima bahwa gambar tersebut mungkin menjadi hal yang paling diingat orang. Dengan cara itu, Aku mencoba menciptakan sesuatu yang abadi, sesuatu yang menyimpan perasaan bahkan jika berita utamanya dilupakan,” ujarnya.

Seperti pada karya Matahari Terbit Merah, 9 Januari 2025, ia menggambarkan kebakaran hutan yang sedang berlangsung di Los Angeles dengan gradasi merah jingga yang membentuk visual matahari terbit. Bahkan ia sempat merespon isu yang berlangsung di Indonesia dengan menghadirkan karya seni gradasi merah ke putih yang merefleksikan gelombang protes di Indonesia pada 30 Agustus 2025.

zoom-2


Pilihan material Shibuya juga konsisten dengan pendekatan ini. Ia sering menggunakan benda sehari-hari, termasuk koran, kayu, atau elemen tiga dimensi sederhana. Ia menyebut konsep mottainai, gagasan Jepang tentang tidak menyia-nyiakan sesuatu. Benda-benda ini memiliki masa pakai singkat, tetapi menyimpan jejak kehidupan. “Aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa jika Aku melukis matahari terbit yang sama di atas kanvas tradisional, lukisan itu tidak akan memiliki bobot yang sama”, ujarnya. Koran, khususnya, baginya adalah artefak waktu. Ia sadar bahwa media cetak akan semakin jarang. Justru karena itu ia merasa praktik ini hanya mungkin dilakukan sekarang. 

Dalam beberapa wawancaranya, ia beberapa kali menyebut harapannya agar lukisan-lukisan ini kelak bisa dibaca sebagai artefak. Media sosial berperan dalam penyebaran karya-karyanya, tetapi Shibuya tidak melihatnya sebagai tujuan akhir. Instagram ia anggap sebagai arsip digital, tempat lukisan-lukisan itu berkumpul secara kronologis. Pameran fisik tetap penting baginya karena memberi bobot material pada karya. 

Melalui praktik ini, Shibuya tidak menawarkan solusi atas kekacauan dunia. Ia juga tidak mengajak penonton untuk bersikap tertentu. Ia hanya mencatat. Dengan cara itu, ia menunjukkan bahwa memperhatikan waktu, peristiwa, dan fenomena secara konsisten adalah sebuah sikap. Dalam dunia yang bergerak cepat, ia memilih untuk berhenti sejenak setiap pagi, melihat ke luar jendela, dan melukis apa yang ada hari itu. Ia membuktikan bahwa sikap politis bisa berasal dari hal-hal yang menyehari. 

web-19
web-20
web-21
web-22
web-23
web-24
About the Author

Dhanurendra Pandji

Dhanurendra Pandji is an artist and art laborer based in Jakarta. He spends his free time doing photography, exploring historical contents on YouTube, and looking for odd objects at flea markets.