Membaca Ulang Kazuo Umezu, Tentang Ketakutan dan Dunia yang Retak
Kazuo Umezu lahir pada 3 September 1936 di Koya, Prefektur Wakayama, kemudian dibesarkan di daerah pegunungan Gojo, Prefektur Nara. Ayahnya sering menceritakan legenda lokal tentang hantu dan perempuan ular sebelum tidur, sementara ibunya mendorongnya untuk mulai menggambar sejak usia tujuh tahun. Masa kecil yang terpapar pada cerita rakyat Jepang ini menjadi fondasi penting bagi estetika karyanya di kemudian hari.
Pertemuannya dengan manga New Treasure Island, atau Shin Takarajima karya Osamu Tezuka pada kelas lima sekolah dasar menginspirasinya untuk serius menekuni manga. Pada 1955, di usia 18 tahun, Umezu menerbitkan manga pertamanya melalui penerbit kashi-hon Tomo Book. Mori no Kyōdai mengadaptasi Hansel and Gretel dengan gaya kartun yang umum saat itu. Sistem kashi-hon, rental buku yang berkembang setelah perang, memberi ruang kerja yang longgar dibandingkan majalah. Di sana ia tertarik pada gekiga, manga underground yang “lebih sinematik” untuk pembaca dewasa. Umezu memasukkan unsur supernatural ke cerita-cerita keras yang ia buat. Dari titik ini, arah kerjanya mulai terlihat.
Pada pertengahan 1960-an, ia pindah ke Tokyo. Ia memadukan estetika shōjo manga dengan citra horor dari cerita rakyat Jepang. Karya seperti Cat-Eyed Boy dan Reptilia di Shōjo Friend menunjukkan respons pembaca terhadap pendekatan ini. Umezu skeptis soal gambaran hubungan ibu dan anak yang selama ini hadir sebagai hubungan yang selalu penuh kasih. Dari kecurigaan itu lahir Reptilia, cerita tentang seorang siswi dan ibunya yang sakit, yang kemudian terungkap sebagai perempuan ular di rumah sakit. Cerita ini berakar pada Okameike Densetsu yang pernah diceritakan ayahnya.
Pada 1961, Umezu memakai istilah “kyōfu manga” (fear manga) untuk membedakan karyanya dari “kaiki manga” (weird manga) yang menekankan citra menjijikkan. Baginya, ketakutan yang penting adalah sesuatu yang tetap bekerja meski tidak terlihat. Karya peralihan utamanya, The Moment the Mouth Splits to the Ears (1962), menjadi manga pertama yang secara terbuka diberi label “kyōfu manga”.
Bahasa visualnya punya ciri yang konsisten. Ia sering memakai close-up mata dari sudut yang sempit dan miring. Teknik ini menggabungkan interior yang biasa hadir dalam shōjo manga dengan ekspresi takut dan jijik. Close-up ini menahan laju cerita dan menekan pembaca ke momen kesadaran psikologis, atau ke kebencian tokoh pada dirinya sendiri.
Landasan berpikir Umezu sederhana. Sesuatu bisa terasa menakutkan atau lucu bergantung pada posisi penonton. “Jika kau yang dikejar, itu horor. Jika kau yang mengejar, itu lelucon,” katanya. Cara pandang ini menjadi benang merah karya-karyanya pada periode 1968 sampai 1973, termasuk seri Scary Book. Dari sini muncul relativisme yang merembes ke tema-tema dasar, seperti baik dan jahat, indah dan jelek, benar dan palsu. Cerita-ceritanya sering membuka sisi moral yang buruk dari tokoh yang tampak layak, dengan horor yang datang dari kesadaran mereka sendiri.
Tema yang berulang adalah konflik antargenerasi, kekerasan di dalam rumah, dan rapuhnya keluarga. Cerita Umezu berputar di sekitar teror bahwa keluarga bisa berubah menjadi ruang kekerasan, atau sejak awal memang menyimpannya. Bagi Umezu, anak-anak dan perempuan adalah kelompok yang paling sering menjadi korban, dan karena itu menjadi inang yang tepat untuk bagi rasa takut itu sendiri.
Sepanjang kariernya, ia menerima surat protes dari orang tua dan tekanan dari editor untuk mengurangi kekerasan. Ia menanggapinya tanpa banyak drama. Ia mengatakan tidak pernah diboikot, dan menganggap kritik sebagai tanda bahwa karyanya bekerja. Dalam wawancara dengan Tokyo Scum Brigade, ia menolak gagasan untuk melunakkan cerita rakyat. Menurutnya, kisah-kisah itu lahir dari masa ketika tragedi dan pembantaian adalah bagian hidup, dan memutihkannya sama saja dengan menghapus ingatan tentang penderitaan itu. Ia juga menyebut pelajaran terpenting yang ia ambil dari Tezuka, bahwa karya untuk anak-anak tidak perlu disederhanakan atau dijaga dari tema yang rumit.
Pada 1982, Umezu memulai proyek yang bergerak menjauh dari horor. Watashi wa Shingo diserialisasikan di Big Comic Spirits hingga 1986. Ia ingin menekan unsur horor dan memusatkan cerita pada kesadaran, cinta, dan metafisika. Cerita mengikuti Satoru Kondo dan Marin Yamamoto, dua anak berusia dua belas tahun yang bertemu saat kunjungan ke pabrik dan melihat robot industri baru. Mereka kembali ke pabrik pada malam hari, bertemu robot bernama Monroe, lalu mengajarinya katakana dan memasukkan data tentang diri mereka. Robot itu memilih nama Shingo, mengambil satu karakter dari nama orang tua mereka. Kata “watashi” dalam judul memberi isyarat pada identitas yang netral dan polos.
Shingo berevolusi dan melakukan perjalanan ke Eropa untuk mencari Marin. Ia memakai energi hidupnya untuk memulihkan orang-orang yang ditemuinya, dan itu melemahkannya. Mesin-mesin menyerangnya. Ia rusak dan kehilangan ingatan. Pada akhirnya, ia hanya mampu menulis dua karakter, “A” dan “I”, yang bisa dibaca sebagai “cinta” atau “aku”. Satoru yang telah dewasa tidak mengenali pesan itu. Para penemu mengumpulkan kembali bagian-bagian Shingo dan membangun Monroe tanpa menemukan jiwa. Robot itu lalu dipajang sebagai contoh mesin industri.
Pada 2018, Watashi wa Shingo menerima Heritage Award di Angoulême International Comics Festival, penghargaan untuk komik yang dianggap perlu dilestarikan. Penghargaan itu mendorong Umezu kembali bekerja setelah 27 tahun berhenti karena tendinitis. Ia membuat 101 lukisan berdasarkan Watashi wa Shingo dan memamerkannya pada 2022. Dalam wawancara dengan TOKION, ia mengatakan, “Pada suatu titik, saya menyadari bahwa tugas seorang seniman manga adalah menggambar apa yang akan terjadi selanjutnya.”
“Lukisan-lukisan itu menggambarkan semacam persaingan antara robot dan manusia. Saya hanya berpikir bahwa manusia akan mengalami kemunduran seiring kemajuan robot karena mereka tidak akan mampu mengimbangi robot. Saya merasa orang-orang yakin bahwa segala sesuatu harus dan akan mengalami kemajuan. Mereka tidak memikirkan tentang kemunduran,” ujarnya.
Pada Juli 2024, ia dirawat di rumah sakit setelah jatuh di rumahnya di Kichijōji, Tokyo, dan didiagnosis kanker perut stadium akhir. Ia masih berbicara tentang rencana karya baru. Ia sempat menyatakan kepada The Japan News bahwa ia ingin membuat cerita yang tidak tunduk pada komputer kuantum. Umezu meninggal pada 28 Oktober 2024, pada usia 88 tahun.
Pengaruhnya tampak jelas pada Junji Ito. Ito berusia empat atau lima tahun saat pertama kali membaca manga horor karya Umezu bersama kakak-kakaknya. Dalam wawancara dengan RetroFuturista, ia menyebut manga Umezu sebagai bacaan horor pertamanya. Ia mengatakan Umezu membentuk caranya bercerita. Pada 1987, Ito mengirimkan cerita ke Monthly Halloween dan mendapat special mention di Kazuo Umezu Prize, dengan Umezu sebagai salah satu juri. Karya itu berkembang menjadi Tomie. Pengaruh ini meluas. Rumiko Takahashi pernah bekerja sebagai asistennya. Kanako Inuki menyebut Reptilia sebagai manga horor favoritnya, pengalaman yang ia temui sejak taman kanak-kanak.
Semua itu bermula dari anak pegunungan yang tumbuh dengan cerita rakyat, yang belajar bahwa ketakutan sering muncul dari hal-hal yang paling dekat. Dari cerita ayahnya tentang perempuan ular, ia membangun bahasa visual yang kini menjadi fondasi bagi generasi mangaka setelahnya.