Menafsirkan Kembali Bentuk Manusia dalam Pameran Tunggal Pertama Aharimu Figure A
Pada 10 Desember 2024, RUCI Art Space, Jakarta, dengan bangga mempersembahkan Figure A, pameran tunggal pertama oleh seniman berbasis Jakarta, Adine Halim, yang lebih dikenal dengan nama Aharimu. Disusun oleh kurator Zarani Risjad, karya-karya yang dipamerkan menampilkan eksplorasi unik sang seniman terhadap bentuk manusia—menggali tubuh sebagai media tekstur, komposisi, dan warna. "Saya sangat antusias mempersembahkan pameran tunggal pertama ini, dalam kolaborasi bersama RUCI Art Space. Melalui Figure A, saya ingin mengungkapkan bahwa dasar-dasar klasik seperti lukisan alam benda dan gambar figur tidak harus kaku atau terjebak dalam tradisi, tetapi bisa dibebaskan ke dalam berbagai rupa yang baru. Tubuh manusia dalam karya saya adalah bentuk-bentuk yang senantiasa berubah dan beralih antara keakraban dan ambiguitas, mengundang audiens untuk terlibat secara mendalam melalui warna, tekstur, dan bentuk," ujar Aharimu dalam pernyataan pers.
Seperti banyak orang, perjalanan Aharimu dalam dunia seni dimulai sejak usia dini. Orang tuanya sudah malihat minatnya dalam menggambar dan mendaftarkannya ke les seni. "Tapi aku nggak puas dengan semata-mata gambar apa yang udah ada. Jadi saat aku SMA, aku mulai ngambil kelas still life. Yang benar-benar teknik banget dengan tujuan bisa masuk ke sekolah seri rupa yang bagus dan juga eksplor tema," jelas Aharimu. Ia melanjutkan pendidikan seni rupa di Nanyang Academy of Fine Art, Singapura, dan menyadari bahwa, "Art itu lebih dari sekadar gambar bagus. Ada bumbu tambahan yang lebih krusial daripada itu." Di NAFA, Aharimu mendapatkan berbagai pengaruh, mengingat akademi ini mengajarkan baik Seni Asia Timur maupun Barat. Ia juga sering melihat ke budaya pop; meme, sastra, film, dan sejenisnya, serta menemukan bahwa ia sangat menikmati humor yang lebih konseptual.
Setelah lulus dari NAFA pada tahun 2014, Aharimu melanjutkan pendidikan ke Chicago, AS, namun ia merasa masih mencari identitas kreatifnya. Dalam pencarian itu, ia beralih ke dunia film, awalnya menangani pasca-produksi di Vancouver, Kanada. Namun, ketika kembali ke Indonesia, ia merasa bahwa tidak banyak peluang yang sepadan dalam bidang pasca-produksi di negara ini. Karena itu, ia memberanikan diri untuk mengejar dunia sutradara film. Aharimu mulai dengan proyek kecil seperti video musik, tetapi pekerjaannya terhenti saat pandemi COVID-19 datang. Ini menjadi berkah sekaligus kutukan, karena karantina membawanya kembali ke dunia lukisan, sesuatu yang sudah tidak ditekuni secara serius sejak 2016.
Aharimu mulai menerima permintaan komisi yang membawanya untuk tinggal di Bali. Meskipun pekerjaan yang membawanya ke sana sebagian besar bersifat komersial—ia ditugaskan untuk melukis vila—Aharimu mulai menemukan ritme dan “flow” dalam karyanya di Pulau Dewata. Ketertarikannya pada bentuk manusia juga terbangkit kembali ketika ia diundang untuk mengunjungi Tonyraka Gallery, Ubud, yang menampilkan karya Made Wianta. Ia terpesona oleh makhluk-makhluk dalam karya Made Wianta dan pengaruh tersebut jelas terlihat dalam pameran Figure A. "Saya tidak melihat manusia sebagai struktur, tetapi lebih sebagai jiwa yang bergerak," jelas Aharimu, dan hal ini mendorongnya untuk mengambil tema figur dan abstraksinya. Ia melanjutkan, "Jadi, sekarang saya mencari cara untuk mengeksplorasi bentuk manusia sejauh mungkin."
Inilah yang membawa kita pada pameran Figure A sebagaimana adanya saat ini. Keseimbangan yang hati-hati antara palet warna cerah, tekstur yang visceral, dan pose-pose yang hampir tidak masuk akal serta kontorsionis menghasilkan gambaran surealis tentang bagaimana kita memandang tubuh manusia. Pendekatan eksperimental dengan reinterpretasi dasar-dasar lukisan klasik serta penerapan teknik-teknik tak konvensional, termasuk dekorasi kue dalam penggunaan cat minyaknya, menciptakan kesan intim yang tidak terduga dalam setiap karya.
Koleksi 25 karya yang dipamerkan di RUCI Art Space tidak hanya menunjukkan ketertarikan Aharimu pada figur manusia tetapi juga menampakkan eksplorasi kreatifnya yang telah berlangsung selama satu dekade—pengaruh-pengaruhnya, tantangan-tantangannya, dan hasrat-hasratnya. “Melalui Figure A, saya ingin mengajak para pengunjung dan pecinta seni menikmati karya-karya yang mencerminkan sudut pandang pribadi saya tentang kehidupan. Semoga pameran ini menjadi pengalaman yang tak hanya menarik, tetapi juga berkesan bagi setiap pengunjung,” ujar sang seniman. Ada sesuatu dalam tubuh karya ini untuk semua penggemar seni, meresapi bahasa universal visual diri yang sensual dan sering kali humoris. Figure A dibuka untuk umum hingga 20 Januari 2025.