Menyoal Tubuh, Ruang, dan Alam: Percakapan dengan Olafur Eliasson

Tubuh terdiam dan gelisah akan masa depan merasuk; mungkin itu efek nyata dari menyaksikan langsung karya Olafur Eliasson yang menyoroti relasi manusia dan alam semesta. Setiap bayang yang jatuh dari permainan cahaya merupakan pertanyaan; apakah kita, sebagai makhluk yang “menumpang” di bumi, memiliki kesadaran ekologis? Sebegitu magisnya karya-karya perupa Denmark-Islandia ini yang dipamerkan untuk pertama kali di Indonesia. Your curious journey mengubah tiap sudut Museum MACAN menjadi ruang hampa; memberikan jeda dari hiruk pikuk dunia untuk menata kembali cara pandang kita terhadap keseharian dan relasinya dengan lingkungan.

Seni yang penuh pemikiran itu lahir dari sosok yang hangat dan jenaka–begitulah penilaian pertama kami saat duduk di hadapan Olafur Eliasson, menyimak setiap kata yang keluar dari hasil perjalanan berkesenian selama tiga dekade. Sebuah privilese bisa bertanya langsung pada sang perupa soal praktik-praktik keseniannya yang bagi kami: sangat menubuh.

Siapa yang sangka, sebagian besar pemahaman Olafur Eliasson tentang apa artinya menubuh atau berada dalam tubuh datang dari pengalamannya sebagai seorang breakdancer semasa remaja. “Saya terobsesi dengan bagaimana seseorang dapat menggunakan gerak untuk menciptakan ruang,” cerita sang seniman. Seni tari itu mengajarkan Olafur muda untuk memikirkan ruang bukan hanya sebagai bangunan, melainkan struktur yang dapat manusia rancang–ciptakan–bersama-sama. “Kesadaran ini saya bawa ke segala hal yang saya lakukan sebagai seniman.”

Praktik menubuh dalam kekaryaan sang perupa tampak jelas dalam Multiple shadow house, di mana pengunjung mengendalikan bagaimana karya bekerja secara langsung melalui gerak tubuh mereka. Keterlibatan tubuh ini mengubah peran pengunjung dari penonton menjadi ko-kreator. Beauty (1993), misalnya, di mana pelangi hanya muncul melalui sudut pandang tiap orang terhadap kabut halus yang diterangi cahaya–sepenuhnya bergantung pada perspektif masing-masing pengunjung terhadap suatu fenomena. Pengalaman-pengalaman ini, menurut Olafur Eliasson, selain menubuh juga bersifat transkultural. Tidak ada simbolisme tetap dan spesifik yang mengharuskan penonton membaca teks di dinding galeri untuk memahaminya–namun konteks budaya dari setiap pengunjung memainkan peran. Di sinilah seni bertemu sosiologi, persepsi bertemu kebiasaan, dan tubuh bertemu struktur sosial.

Olafur juga percaya bahwa kendali tubuh dan kebiasaan terlihat bahkan dalam karya yang tampaknya tidak melibatkan tubuh secara langsung seperti Ventilator (1997), di mana lintasan kipas yang bergerak di dalam suatu tempat, membentuk ruang dan relasi dengan para pengunjung. Tubuh kita–bahkan sesederhana bola mata–diajak untuk mengikuti gerak kipasnya. Baik dari jauh, maupun dari dekat, karya ini tanpa disadari membuat siapa saja yang menyaksikannya ikut mengalkulasi ruang gerak–sebuah peran nyata dari tubuh.

zoom-1
Photo by Moses Sihombing

Berbicara soal ruang gerak, sang perupa mengakui, ketika mengerjakan instalasi besar atau pameran penting, ia mencari rasa fisik tentang ruang yang menjadi wadah karya tersebut, walaupun seringkali tidak memungkinkan secara teknis. Tak kehabisan akal, ia mengandalkan model-model skala yang dibangun di studio Berlin. Meski tidak dapat merasakan ruang pamer secara langsung, ia mendapatkan kedekatan fisik melalui maket.

Olafur Eliasson dikenal bukan hanya karena pendekatannya terhadap ruang dan tubuh saja, tetapi juga karena perspektifnya terhadap isu ekologis. Karya-karyanya banyak merespons degradasi lingkungan yang kian merajalela. Sang seniman tidak menutupi rasa kecewanya terhadap perkembangan politik global yang memicu penyebaran misinformasi dan menghambat upaya pengendalian krisis iklim. Namun ia menolak tenggelam dalam pesimisme. “Saya percaya bahwa kita selalu memiliki potensi untuk membentuk komunitas dan menghadapi isu-isu tersebut bersama orang lain,” katanya.

Motivasi ini tampak dalam karya-karya seperti The last seven days of glacial ice (2024), yang memvisualisasikan proses mencairnya es, atau The glacier melt series, yang memperlihatkan susutnya gletser Islandia dalam dua dekade. Dengan membuat fenomena yang jauh dan abstrak menjadi sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan, Olafur Eliasson berupaya menciptakan kedekatan emosional yang mendorong empati. Namun ia menyadari bahwa konteks mempengaruhi urgensi. “Saya memahami bahwa Jakarta berada dalam ancaman nyata akibat perubahan iklim dan kenaikan permukaan laut,” ujarnya. “Masyarakat mungkin tidak membutuhkan pesan-pesan peningkatan kesadaran seperti yang biasa dilakukan di Eropa Utara.”

Justru dari anak-anak dan remaja ia menemukan sumber harapan dan optimisme tersebut. Melalui Earth Speakr, sebuah karya digital berbasis AR, ia memberi ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan harapan dan kekhawatiran tentang masa depan. “Apa yang mereka sampaikan sangat menguatkan,” katanya. “Mereka berfokus pada masa depan, sementara begitu banyak dari generasi saya terjebak pada masa lalu.”

Elemen alam juga lekat dan tercermin dalam medium karya Olafur–ia membuat fenomena “abadi” seperti cahaya, udara, dan medan magnet menjadi dapat dipersepsi melalui material yang sifatnya sementara. Sang perupa seakan mampu menerjemahkan sesuatu yang begitu elusif menjadi pengalaman artistik yang nyata. Menghadirkan fenomena tak kasat mata memang menjadi sesuatu yang dapat dipersepsi adalah inti praktik Olafur Eliasson. Baginya, pengalaman sekecil perubahan cahaya atau hembusan angin dapat membuka kesadaran baru.

“Sering kali diperlukan sangat sedikit untuk menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak disadari. Bisa saja itu perubahan pencahayaan, hembusan angin yang tak terduga, atau bahkan penghilangan satu indera yang umumnya kita anggap biasa.”

Ia berbagi kepada kami bahwa Yellow corridor (1997) adalah salah satu karyanya yang paling radikal dalam konteks ini. Dengan memandikan sebuah ruang dalam cahaya kuning murni, ia mengurangi kompleksitas warna yang biasa dilihat mata. Setelah beberapa waktu, mata pengunjung menyesuaikan diri–kuning berubah menjadi putih. Namun ketika mereka keluar, dunia seketika tampak dalam warna ungu komplementer. Pengalaman ini tidak hanya mengubah persepsi visual, tetapi juga memaksa pengunjung untuk menyadari bagaimana indra mereka membentuk pengalaman akan dunia. “Itu cukup dramatis! Melalui pengalaman ini, pengunjung menjadi sadar akan apa yang perangkat persepsi mereka kontribusikan pada apa yang mereka lihat. Dan dari situ, terlihat jelas bagaimana pandangan kita tentang dunia pun dipengaruhi oleh cara kita mengaksesnya.”

zoom-2
Photo by Moses Sihombing

Tidak mudah bagi seorang seniman untuk memetakan arah kreatif selama tiga dekade, dengan karya yang begitu luas dan partisipatif. Dari pertumbuhan kekaryaan yang begitu dinamis, ada satu hal yang pasti: desakan terhadap isu ekologis. Namun, sang seniman tidak pernah membiarkan praktiknya stagnan, baginya, menarik untuk melihat bagaimana ide berkembang dan bagaimana karya bertumbuh seiring berjalannya waktu, seiring perubahan dunia. “Ada banyak titik masuk pada setiap karya seni. Banyak tema berasal dari proses berpikir dan bekerja yang terjadi di studio saya dalam kolaborasi dengan tim. Mencari cara baru untuk memecahkan masalah yang muncul pada karya sebelumnya dapat membuka kemungkinan baru, yang kemudian mengarah pada penemuan atau karya baru,” ungkap Olafur.

Bagaimanapun, Olafur, katanya sendiri, adalah pemikir yang sangat intuitif. Ia berusaha bertahan selama mungkin di fase pra-verbal dari sebuah ide–menetap bersama bayang-bayang samar dari konsep selama mungkin, sebelum mencoba menuangkannya pada kertas; baik melalui gambar maupun tulisan. Dalam dunia seni yang semakin menuntut kejelasan konsep sejak awal, pendekatan ini terasa hampir subversif. Olafur Eliasson memilih ketidakpastian sebagai lahan kreatif–sebagaimana dunia berjalan; tidak pasti dan terus berubah.

Lewat cahaya, kabut, es, bayangan, dan ruang, Olafur Eliasson mengajak kita merasakan kesadaran ekologis melalui praktik menubuh. Di tengah krisis iklim dan cepatnya perubahan dunia, karya-karyanya menjadi ajakan untuk kembali bertanya: apa yang kita lihat, bagaimana kita melihatnya, dan bagaimana pengalaman itu memengaruhi cara kita memahami planet ini–ibu bumi, tempat kita hidup. Seni Olafur Eliasson tidak menawarkan jawaban sederhana, justru tanda tanya yang lebih besar untuk kita sama-sama menemukan jawabannya–secara kolektif, dan dalam dunia yang penuh ketidakpastian, mungkin itulah harapan yang sesungguhnya. 

web-24
web-25
web-26
web-27
web-28
web-29
web-30
web-31
web-32
web-33
web-34
web-35
web-36
web-37
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.