Poster sebagai Pengingat: Membaca Ulang “Nausicaä of the Valley of the Wind” Empat Dekade Kemudian

Tak bisa dipungkiri, Nausicaä of the Valley of the Wind menempati posisi istimewa dalam sejarah animasi. Dirilis lebih dari empat puluh tahun lalu, bahkan sebelum Studio Ghibli resmi berdiri, film ini telah merangkum DNA kreatif Hayao Miyazaki yang hingga hari ini menjadi catatan bersejarah tersendiri: kepekaan ekologis, kompleksitas moral, serta keyakinan pada koeksistensi. Melalui figur Ohmu dan Sea of Corruption, alam digambarkan sebagai entitas hidup yang bereaksi terhadap keserakahan dan ketimpangan manusia alih-alih sebagai latar pasif. Sayangnya, hingga hari ini, Nausicaä tetap terasa relevan, terutama di kawasan Asia di mana isu lingkungan terus memengaruhi kehidupan masyarakat sehari-hari.

Seperti yang kita ketahui, di industri kreatif, relevansi tidak serta-merta menjamin keberhasilan komersial, terlebih bagi film yang dibuat jauh sebelum generasi penonton era digital lahir. Ketika Nausicaä of the Valley of the Wind akhirnya mendapat perilisan komersial layar lebar pertamanya di Taiwan tahun ini, pihak distributor dihadapkan pada tantangan mendasar: bagaimana mengajak penonton masa kini kembali masuk ke dalam cerita yang berusia empat dekade? Jawabannya justru tidak datang dari kampanye digital atau campaign nostalgia, melainkan dari desain poster–dan inilah yang membuat perilisan ulang ini semakin kuat.

zoom

Demi mendampingi perilisan tersebut, distributor mengundang desainer Taiwan bernama Joe Fang (方序中/Fang Hsu-Chung) dan seniman Shih Hang Tung (董十行) untuk merancang poster Ohmu edisi eksklusif Taiwan. Poster ini dibagikan secara gratis bersama tiket bioskop. Sebanyak 60 ribu eksemplar dicetak dan ludes dalam waktu singkat. Namun, dampak yang muncul melampaui ekspektasi awal: penonton mulai membingkai poster tersebut, membagikannya di media sosial, dan mendiskusikan visualnya dengan intensitas yang setara (bahkan kadang melampaui) perbincangan soal filmnya sendiri. Poster ini tak lagi berfungsi sebagai materi promosi semata, melainkan berubah menjadi medium ingatan.

Riuh gaungnya pun melampaui Taiwan. Para penggemar Studio Ghibli di berbagai negara mulai menaruh perhatian, hingga akhirnya proyek ini meraih Golden Pin Design Award 2025 untuk kategori Best Design, salah satu penghargaan desain paling bergengsi di Asia. Lebih dari sekadar prestasi institusional, proyek ini menunjukkan bagaimana sebuah artefak visual yang dirancang dengan cermat mampu menggerakkan minat, percakapan, dan relevansi kultural, bahkan untuk karya legendaris yang telah lama hadir.

Dalam desain poster ini, Ohmu ditangkap dalam lensa ilustrasi klasik yang menjahit kembali  dunia Nausicaä. Alih-alih mengulang adegan ikonik dari film seperti poster-poster nostalgia pada umumnya, Fang dan Tung memilih pendekatan reinterpretatif. Setelah menelaah manga asli karya Miyazaki secara mendalam, keduanya mengarahkan visual poster pada estetika ilustrasi entomologi klasik. Pendekatan ini lazim ditemukan dalam catatan-catatan ilmiah lama. Pilihan ini menjadi penghormatan tersendiri bagi Ohmu, sosok yang nyaris tanpa dialog namun memikul bobot naratif yang besar.

Tung mendeskripsikan proses menggambarnya sebagai bentuk riset lapangan. Ia membayangkan dirinya sebagai seorang ilmuwan yang mempelajari Sea of Corruption, bahkan meminjam model Ohmu untuk mengamati bentuk, postur, dan tekstur permukaannya dari berbagai sudut. Dengan teknik tinta celup hitam-putih, ia membangun volume melalui lapisan garis yang berulang, sebuah ode terhadap garis Miyazaki yang tajam sekaligus organik. Hasilnya adalah visual yang setia pada arsip, namun tetap terasa kontemporer. 

Bagian mata Ohmu menjadi jangkar emosi dari desain ini. Dalam film, warna mata Ohmu berubah untuk menandai ketenangan, kemarahan, atau penderitaan. Mewujudkan warna biru transparan menyerupai kaca, simbol ketenangan dan rekonsiliasi, menjadi tantangan tersendiri, baik dalam ilustrasi maupun proses cetak. Tim desain bekerja keras dengan pihak percetakan melalui berbagai uji coba hingga mendapatkan hasil akhir yang diinginkan. Pada akhirnya, mata Ohmu tampil sebagai pusat visual sekaligus emosional yang mengundang penonton memasuki dunia Nausicaä dari sudut mana pun mereka memandang poster tersebut–sebuah keputusan desain yang magis.

Di sudut kanan bawah, sosok Nausicaä tampak terbang bebas bersama Teto, rubah-tupai pendampingnya. Detail kecil namun krusial ini menjadi penyeimbang kehadiran monumental Ohmu, sekaligus mencerminkan upaya rapuh manusia untuk memulihkan harmoni dengan alam. Fang mengenang bagaimana semasa kecil ia merasa takut sekaligus terpikat oleh tentakel Ohmu yang terus bergerak tanpa henti. Baru ketika menonton ulang film ini sebagai orang dewasa, ia benar-benar memahami refleksi Miyazaki yang lebih dalam tentang ekologi, peradaban, dan posisi manusia di dalamnya.

Dalam perilisan ulang Nausicaä of the Valley of the Wind di Taiwan, desain poster tidak hanya mengambil peran sebagai materi pengantar penonton menuju film, melainkan ruang temu baru: ruang memori dan medium diskusi isu ekologis, empat puluh tahun setelah kisah ini pertama kali diceritakan.

Sumber: Golden Pin Awards Taiwan

web-15
web-16
web-17
web-18
web-19
web-20
About the Author

Alessandra Langit

Alessandra Langit is a writer with diverse media experience. She loves exploring the quirks of girlhood through her visual art and reposting Kafka’s diary entries at night.